Skip to content

Tentang Nama, Tentang Doa

Semua orangtua, pasti menyematkan nama yang baik-baik bagi anaknya. Sebab, nama adalah doa, agar kelak si anak bisa sebaik namanya. Begitu pula saya dalam menyematkan nama sebagai salah satu hak anak dan kewajiban orangtua dalam Islam.

Di keluarga kecil saya,  mencarikan nama menjadi tugas saya. Meski begitu, saya selalu mendiskusikan pilihan dan alternatifnya kepada istri. Dan sejauh ini, ia setuju saja.

Lalu, nama apa yang saya pilihkan bagi anak-anak, dan apa inspirasinya?

Putra pertama saya, Farih Abdurrahman, lahir pada 2010. Kelahirannya, persis 9 bulan usai pernikahan kami. Alhamdulillah, Allah swt langsung mempercayakan buah hati kepada kami. Sejak dinyatakan hamil oleh test pack dengan tanda dua strip merah dan dikuatkan dengan pendapat dokter, menyiapkan nama menjadi rutinitas yang menyenangkan.

Saat itu, saya menyiapkan nama Khansa Sophiya untuk perempuan dan Farih Abdurrahman untuk laki-laki. Kemudian, sejak USG sudah mampu melihat kelamin bayi dan kemungkinan laki-laki, nama Farih menjadi pilihan.

Nama ini saya ‘temukan’ di Majalah Tarbawi edisi Februari 2010. Saya lupa momentum apa yang menyebabkan saya membeli majalah itu. Yang jelas, pada edisi itu, ada kisah tentang bocah bernama Abdurrahman Farih dari Aljazair berusia 4 tahun yang hafal quran.

Saya iri dan di dalam hati kecil saya, ingin sekali memiliki buah hati yang menjaga al-quran. Secara makna, Farih sendiri berarti “bahagia” dan Abdurrahman berarti hamba Allah yang pengasih (di samping itu, nama ini juga merupakan salah satu nama yang disukai Allah). Secara keseluruhan, saya menginginkan anak saya menjadi anak yang berbahagia karena telah menjadi hamba Allah yang pengasih/dermawan.

Anak kedua, saya berharap dan hanya menyiapkan nama anak laki-laki, yaitu Biyan Muhammad. Biyan berasal dari Bahasa Rumania yang berarti tentara/prajurit. Dan nama Muhammad, tentu saja sebagai bentuk kecintaan kepada Baginda Nabi.

Namun, saat USG dan proses kelahiran, Allah menganugerahkan anak perempuan. Saat itu, saya belum menemukan yang cocok. Kira-kira sepekan setelah kelahiran, saya menyematkan Kinarya Dzakira. Tidak sama sekali terinspirasi nama artis Kinaryosi lho! Jujur, saya malah nggak tahu kalau ada nama artis itu.

Nama Kinarya, diambil dari Bahasa Jawa, artinya karya/ciptaan. Sedangkan Dzakira berarti yang mengingat Allah. Doanya menjadi “makhluk/ciptaan Allah yang selalu mengingat-Nya”. Kami berharap, ia tak pernah lupa siapa dirinya (makhluk Allah) dan kepada siapa ia beribadah dan akan kembali (Khaliq-Allah swt).

Anak ketiga, yang lahir pada akhir 2018, juga terindikasi melalui pemeriksaan USG berjenis kelamin laki-laki. Karenanya, saya hanya menyiapkan nama laki-laki, yaitu Birru Abdullah. Nama Birru terinspirasi dari nama sebuah TK di bilangan Cinere (Al-Birru) yang saya lihat dua kali sehari saat berangkat dan pulang kerja. Al-Birru sendiri berarti manfaat yang banyak. Dan nama Abdullah, dipilih karena merupakan salah satu dari dua nama yang disukai Allah, selain Abdurrahman. Makna secara umum, kami berharap ia akan menjadi hamba Allah yang dapat memberi manfaat yang banyak bagi orangtua, saudara, keluarga, lingkungan, bangsa, agama dan siapapun di sekelilingnya.

Jadi saya menggunakan dua nama yang disukai Allah untuk nama dua anak laki-laki saya, yaitu Abdullah dan Abdurrahman.

Tentu, semua itu adalah hak anak untuk mendapatkan nama yang baik. Lebih dari itu, setiap orangtua, termasuk saya dan istri, berharap anak-anak kami, akan menjadi generasi yang lebih baik, terutama dalam urusan akhlak, adab, lmu dan keimanan.

Sumber gambar: yakimaheraldphotos

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published in101 Komunikasi Pasutri

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *