Skip to content

Tentang ‘langit’ yang ada di rumah

Ini cerita tentang dia. Dia yang melengkapi kehidupan saya selama lebih dari 8 tahun.

Ia perempuan Jawa. Bicaranya medhok, hatinya seputih salju, budinya lurus, kata-katanya halus terjaga, dan cita-citanya setinggi langit. Itu sebabnya, saya sempat mengganti namanya di phonebook handphone dengan ‘Langitku’.

Sebelum menikah, saya masih ingat betul, dia bilang mau kuliah setinggi langit. Sampai tingkat postdoc, atau kalau perlu, sampai S4 kalau ada. Diam-diam saya kagum. Saya juga punya cita-cita yang sama, meski saya jauh lebih malas dan tidak lebih tekun darinya. Ini jujur.

Dia juga yang mendorong saya, untuk kuliah lagi. Maka ketika ia melanjutkan kuliah masternya tahun 2011 di Yogyakarta, saya seperti dilecut untuk mewujudkan keinginan yang sama. Selang setahun, saya mulai kuliah di Jakarta.

Saya kira, kalau dia masih muda dan belum menikah, hidupnya akan dipenuhi dengan tangga-tangga keilmuan. Menapaki setiap anak tangga, untuk meraih kesuksesan di puncaknya. Dia pernah cerita, kalau tawaran untuk kuliah lagi datang silih berganti. Rasanya, dia tinggal tunjuk ke mana yang dia suka; Australia, Korea Selatan, Taiwan, Jepang dan negara lain yang sempat menawarkan diri.

Pernah suatu ketika, ia terkejut karena sudah terdaftar sebagai mahasiswi doktoral di sebuah kampus di Jepang. Sang atasan yang mendaftarkannya. Dengan alasan tidak pernah mendaftar, ia mengundurkan diri.

Saya pernah kasih opsi, kalau dia bisa saja kuliah doktoral di luar negeri mana saja yang ia suka. Biarkan saya dan anak-anak tetap di Depok. Mungkin enam bulan sekali dia bisa pulang, atau kami yang mengunjunginya sambil berlibur.

Naluri keibuannya memilih untuk menolak opsi itu. Rasanya, ujian disertasi menghadapi professor sehebat apapun, tak lebih berat dari menahan rindu karena berjarak dengan suami dan anak-anak. Dilan pun mana sanggup.

Maka yang terjadi saat ini, kami sedang menunggu keajaiban lain sebagaimana keinginan dia, yaitu kami sama-sama melanjutkan kuliah di luar negeri. Membawa serta anak-anak, agar mereka bisa mendapatkan pengalaman beradaptasi dan bersosialisasi di negeri orang, yang katanya, kualitas pendidikannya jauh lebih baik dari negeri kita.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published in101 Komunikasi Pasutri

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *