Skip to content

Tentang emak dan keajaiban

Sekarang tahun 2018. Bulan Maret. Hari yang kedua. Mengingat-ingat salah satu keajaiban yang terjadi dalam hidup saya, yaitu kuliah.

Sebagai anak yang terlahir dari kasta ekonomi pas-pasan, bisa kuliah adalah sebuah kemewahan. Ya, emak saya seorang pe-en-es di Ibukota, yang Cuma lulusan SMA dengan golongan mentok di III-B saat pensiun.

Saat lulus S1 tahun 2007 dulu, saya hampir putus kuliah. Beruntung, jurusan ilmu jurnalistik yang saya ambil, mengajarkan satu keterampilan yang bisa membuat saya mendapatkan pekerjaan di semester VI (selain karena kehendak Allah swt tentunya).

Di sebuah lembaga zakat cum kemanusiaan, saya menjadi full time staf humas. Dengan gaji saat itu kisaran 1,2-1,6 juta per bulan, Alhamdulillah saya bisa menyelesaikan kuliah dan sedikit ngasi uang jajan emak. Buat saya, bekerja secara penuh waktu saat masih berstatus mahasiswa semester akhir, adalah keajaiban. Biasanya, mereka hanya menerima mereka yang sudah lulus. Tapi saya beruntung, pengalaman magang saya bekerja di sebuah majalah, menjadi faktor penting diterima.

Keajaiban kedua soal kuliah, terulang kembali. Waktu itu, 2011, istri saya lanjut kuliah di UGM, Jogja. Kami el-de-em-an, alias long distance marriage. Saya tetap di Jakarta, bekerja secara lepas waktu sebagai penulis di beberapa majalah. Kadang mengerjakan buku pesanan.

Terlecut istri yang melanjutkan kuliah, saya juga turut pada 2012. Saya daftar di UGM juga untuk Kajian Media dan Budaya, dan Alhamdulillah lolos. Tapi emak saya murung, gak rela berpisah dengan anak kesayangan.

Akhirnya, emak bilang, “Coba di UI aja deh.”

“UI sisa 4 kursi doing, mak.” Waktu saya mau daftar, sudah gelombang kedua.

“Gak papa, coba aja dulu.”

Saya coba, dan akhirnya lolos. Sebuah keajaiban, saya bisa masuk lubang jarum mendapatkan salah satu dari empat kursi terakhir.

Tempo berikutnya, bingung soal biaya.

Di UGM, biaya per semester 6 juta, tanpa biaya gedung dan embel-embel lainnya. Thok. Beda dengan UI dong, biaya gedung 5 juta (sekali bayar, tahun 2012 lho), dan biaya kuliah 10,5 juta per semester. Jadi perlu 15,5 juta untuk pertama kali. Waktu itu, duit saya cuma 12 juta, hasil dari ngamen nulis sana-sini dan berhemat superketat.

Emak, lagi-lagi, bertuah, “Rejeki mah ada aja. Ga usah khawatir.”

Setelah shalat istikharah, yowes, nurut emak. Dengan ngutang 3 juta, jadi ambil di Pascasarjana Ilmu Komunikasi UI, kelas reguler. Kuliah tiap hari.

Ajaib, pengangguran cum penulis serabutan ini selalu saja dapet orderan, yang pada akhirnya bisa membayar kuliah, beli buku-buku, bayar utang dan biaya lainnya. Setiap kelar satu orderan, masuk lagi orderan yang lain.

Memang, kalo emak sudah ridho, restu langit pun juga pasti bakal turun.

Waktu wisuda, 2014, emak menyaksikan anak bontotnya pake toga dengan strip dua berwarna oranye. Matanya keliatan basah, meski ga ada butiran bening yang meluncur. Wajahnya sumringah, keliatan bahagia. Itu yang bikin saya super duper bahagia; ngeliat emak bahagia, yang mengalahkan wisuda sekalipun.

Beberapa hari setelah wisuda, saya bilang ke emak, “Doain bisa kuliah S3 ya mak.”

Emak bilang, “Haji dulu. Mumpung masih muda. Bisa berdua istri kamu.” Mungkin petuah ini karena pengalaman emak yang menunaikan haji setelah pensiun. Jadi faktor fisik, begitu penting.

Saya ulang permintaan yang sama beberapa waktu kemudian biar bisa lanjut kuliah dulu, baru berhaji.

Jawaban emak tetap sama.

Jadi mikir. Teori tetep sama, kalau emak ridho, Allah juga pasti ridho. Akhirnya pilih… (baca di sini)

Sumber gambar dari sini

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published inMemoar Emak

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *