Skip to content

Tag: pendidikan

One month review: Sekolah Pioneer Depok 2019

Sudah satu bulan, si sulung sekolah di SD Pioneer, Depok. Si sulung pun ketika ditanya, apa kerasan sekolah di sana? “Betah. Temennya baik-baik.” Dan Alhamdulillah juga, sependek pengamatan saya, sekolah ini yang paling pas dengan kami. Apa saja? Simak beberapa alasan berikut.

Mengapa si Sulung Pindah Sekolah?

Awal tahun adalah awal semester kedua bagi anak-anak sekolah. Tahun baru 2019 ini, juga akan menjadi pengalaman baru bagi anak kami, si sulung, karena ia akan pindah sekolah ke Sekolah Dasar Islam Pioneer, Depok.

Beberapa kerabat dan teman bertanya-tanya, “Kenapa pindah?”

Untuk menjawab ini, tentu harus menggunakan dalil bahwa, “Setiap orangtua selalu ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya.” Sehingga, keputusan apapun yang diambil terkait masa depan anak, tentu sudah dipikirkan masak-masak. Termasuk dalam urusan pindah sekolah.

Prestasi Tak Terduga di Ujung 2018

Sampai usia saya 34 tahun, belum pernah sekalipun ikut lomba penulisan. Padahal, sebagai lulusan jurnalistik dan bekerja di bidang penulisan, sudah sewajarnya ikut lomba. Mau motifnya dapat uang, atau menjaga eksistensi dan mengukir prestasi, ya terserah. Yang penting ikut lomba.

Tapi aku selalu dibayang-bayangi ketakutan, bagaimana kalau kalah? Hahahaha, maklum, aku tak suka ditolak. Tapi itulah yang aku alami bertahun-tahun ini. Bukan apa-apa, aku pernah menjalani hidup sebagai penulis bayaran. Jadi secara psikologis, aku yang diminta menulis, lalu dibayar. Bukan ‘menjajakan’ karya tulis, lalu dinilai dan dihargai.

‘Guru’ yang Mendewasakan Kami Adalah Buah Hati

Hal yang paling hebat terjadi pada diri manusia, ketika ia menjadi orangtua. Meski tak ada sekolah menjadi orangtua, namun kita diwajibkan memiliki pengetahuan yang memadai tentang cara mendidik dan merawat buah hati.

Menjadi orangtua pembelajar, adalah kunci dari semua bukti cinta kita pada buah hati. Saya dan istri melalui fase dimana kami memulai pengalaman sebagai orangtua dari nol; dimulai semenjak persiapan kehamilan, pada detik-detik pertama kelahiran buah hati, usia dua tahun pertama, hingga hari ini.

Piala yang Terbelah Tiga

Jumat malam, pekan lalu, nyaris tak ada yang berbeda, saya pulang sudah larut malam seperti biasa. Yang berbeda, adalah perasaan bangga dan bahagia, karena artikel yang saya tulis telah diapresiasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam Lomba Blog Pendidikan Keluarga 2018 sebagai Juara I.

Pulang pada Jumat malam itu, agak repot, karena harus menenteng piala, piagam yang sudah dipigura, buku-buku dari Kemdikbud, serta pakaian kotor. Tiba di rumah, seluruh penghuni telah tidur, kecuali istri yang terbangun untuk buang air kecil. Saya sempat bercerita mengenai kegiatan Malam Apresiasi dan menunjukkan piala, sertifikat penghargaan yang ditandatangani Pak Menteri, serta hadiah lainnya.

Belajar Bohong dari Rumah

Perempuan 70 tahun itu pulang dalam keadaan lebam di wajahnya. Putrinya bertanya, “Kenapa, ma?”

Ia menjawab sekenanya. “Dipukuli orang.” Ia mungkin memilih jawaban itu, lantaran heroism yang melekat pada aktivitas hariannya yang kerap membela orang kecil, hak asasi, dan bentuk-bentuk ketidakadilan lainnya. Dan mungkin jawaban itu, ia kira, akan membuat anaknya dan paling tidak keluarganya mafhum, dan tak akan banyak tanya lagi.