Skip to content

Tag: keluarga

Belajar Romantis dari Pepeng (Bagian 2)

Pepeng yang saya kenal berikutnya adalah sosok yang hangat dan cepat akrab dengan siapapun, meski baru dikenalnya. Mungkin karena ia suka melucu, keakraban cepat terbangun. Tapi saya sama sekali tak menyangka, ia juga romantis. Mungkin, lelaki yang di tampak ngocol di depan umum, akan begtiu romantis di rumah.

Kisah berikutnya, Pepeng ternyata pernah ‘digugat’ sang istri, Tami.

Belajar Romantis dari Pepeng (Bagian 1)

Saya mengenal Ferrasta Soebardi alias Pepeng sejak tahu kuis Jari-Jari di televisi. Kesan yang melekat, pepeng itu lucu, ngocol dan di saat yang bersamaan; menjengkelkan para penelepon kuis.

Kalau tak jadi wartawan, mungkin kesan itu yang akan terus berkutat. Tapi, setelah bertemu dan ngobrol secara intens dengannya, pandangan saya berubah. Dan saya mendapat banyak pelajaran darinya. Tentang hidup, tentang kebijaksanaan, juga tentang cinta dan romantisme.

Menikah Itu Murah

Setelah merasakan pengalaman proses pernikahan yang hebat, ternyata membangun cinta dalam rumah tangga itu sangat seru. Kami adalah dua manuasia pembelajar yang tanpa pengalaman untuk menjadi pasangan ideal dan orangtua idaman bagi anak-anak kami kelak.

Kami beruntung, Dia segera mengaungerahkan kami seorang putra di tahun pertama pernikahan. Dampaknya secara sosial, aku jadi lebih sering ‘mengompori’ kawan-kawan yang belum menikah. Lebih tepatnya, belum berani.

Arti Rumah

Jarang sekali pulang kantor, masih bisa melihat terangnya matahari sore. Kalau tidak habis dinas luar kota, biasanya aku pulang dalam kondisi seperti karena habis pelatihan di luar kantor. Dan untuk alasan kedua itulah, Kamis itu aku tiba di rumah lebih cepat.

Melihat aku sudah di rumah, si sulung yang habis pulang dari shalat maghrib di Masjid, terpekik. “Tumben abi sudah di rumah,” ia cium punggung tanganku.

Kemudikan Hidupmu Sendiri

Suatu pagi menjelang siang, kami –saya, istri dan dua anak kami- bersiap pulang sehabis menginap di rumah emak. Saya mengepak tas cukup besar, menempatkannya pada bagian depan, di antara saya dan setang motor, sehingga menjadi tempat duduk yang nyaman bagi si sulung. Sementara di belakang saya, ada istri dan anak saya yang kecil.

Ya, kami naik motor berempat dalam perjalanan sekitar 27 km!