Skip to content

Tag: emak

Menebus Surga

Emak mengabarkan, kalau ia sudah tiba di bank, 30 menit sebelum kami janjian di jam istirahat. Sedangkan aku masih di kantor. Aku segera membalas pesannya. “Sebentar ya mak.” Jaket dan tas, langsung kusambar, memacu sepeda motor ke timur Jakarta, Pasar Kramatjati.

Keringat bercucuran, karena tak biasa bermotor tepat tengah hari. Aku celingukan di pasar, mencari bank. Emak keluar dari salah satu bank berwarna biru dongker, aku segera turut.

Mobil dan Pesan dari Langit

Menjelang akhir tahun ini, kami sekeluarga disibukkan dengan hunting mobil bekas terbaik dan yang cocok. Dengan bujet yang sudah ditetapkan, kami mencari mobil yang sesuai kebutuhan kami: irit, mudah perawatan, muat banyak penumpang dan kalau bisa, harga jual kembali yang tak merosot. Maklum, ini mobil pertama kami sekeluarga yang tanpa pengetahuan otomotif dan pengalaman berkendara. Jadi antara bujet, kebutuhan dan keinginan harus dipadukan seharmonis-harmonisnya.

(Hari ke-14) Cobaan 

Emak tengah dirundung luka yang menganga pada hati dan perasaannya. Si Nomor Tiga mengabarinya lewat telepon.

“Kenapa?”

“Ada yang teror pake nomor nggak dikenal. Menghina.”

Aku sempatkan mengunjungi emak di akhir pekan agar tahu cerita selengkapnya. Saat aku tanya, ia mengambil telepon selularnya, lalu membuka pesan singkat dan memberikannya padaku.

(Hari ke-13) Angan-angan 

Di rumah besar milik mbah putri yang menghadap selatan itu, kami menumpang di sebuah kamar seluas 12 meter persegi. Empat anak dan emak dalam satu ranjang besar dan satu ranjang dua tingkat. Yang tak kebagian, bisa tidur di lantai beralas tikar.

Kami menumpang sejak aku berusia empat tahun.

(Hari ke-10) Ritual Tanggal Muda

Suara seperti gendang dipukul-pukul, bertalu-talu. Ada juga yang berteriak, bersorak-sorai. Seperti ada dua gladiator yang sedang bertarung mempertahankan hidup. Berisik sekali. Ramai sekali. Gaduh sekali. Sampai-sampai kami, tak bisa tidur karenanya. Gelisah.

Aku coba tengok, apa gerangan yang terjadi.