Skip to content

Tag: bapak

(Hari ke-8) Mencari Pengganti Bapak

Sore itu, emak pulang diantar teman sekantornya dengan motor bebek, sampai di gerbang depan rumah. Sore sebelumnya, juga diantar kawan lelaki lainnya dengan Vespa. Dua hari berikutnya, emak diantar kawannya yang lain. Itu memang berlangsung hampir tiap hari.

Emak memang supel, banyak kawan. Aku pernah membuktikan itu, saat rutin ikut kursus bahasa Inggris tiga kali sepekan yang diadakan di kantornya. Banyak sekali yang kenal emak. Di lift, atau saat berpapasan di jalan, ada saja yang menegurnya.

(Hari ke-4) Ketika Bapak Pergi

Nama bapak Supriadinata bin Raden Djuharta. Ia menjadi yatim saat masih kecil, dan dibesarkan dan dididik uwak lelakinya ala militer. Lalu menurunkan pola pendidikan itu kepada kami, keempat anaknya.

Bulan September 1991 di hari kesembilan, ia meninggalkan kami di usianya yang masih muda, 37 tahun. Ia tak mewariskan harta apapun, bahkan rumah yang kami diami, masih menumpang di rumah nenek dari emak. Tak ada benda berharga, kecuali setumpuk buku, beberapa ekor ayam peliharaan, sederet tanaman hias yang menjadi kegiatan sorenya, juga wasiat mendirikan shalat dan tetap melanjutkan madrasah sore kami.

Aku, Bapak dan Tentang Menjadi Seorang Lelaki

Anak laki-laki akan meniru perilaku ayahnya dalam keluarga. Seperti kata pepatah, “buah tak jatuh jauh dari pohonnya.”

Saya pernah mendengar pernyataan ini. Entah apakah ini pernah diuji secara klinis atau psikologis, atau mungkin hanya kesimpulan yang berlaku umum. Tapi bagi saya, ini benar adanya.

Saya memang meniru perilaku ayah saya, yang saya panggil “bapak”. Meski beliau meninggal sejak saya berusia 8 tahun, tapi ibu saya selalu bercerita tentang ayah.

Meniru bapak

Menjadi orangtua, sejatinya bukan karena bisa melahirkan anak (saja). Atau karena ada yang memanggil kita dengan sebutan “ayah” atau “bunda” dan sejenisnya. Lebih dari itu, menjadi orangtua harus dibekali dengan kompetensi mendidik dan mengasuh, dimana pada peran keduanya ada kewajiban dalam memberikan keteladanan.

Ayah, lelaki yang mengajarkan cinta

Saya baru menyelesaikan novel “Ayah” karya Andrea Hirata. Dari beberapa karya dia, saya masih suka dengan dwilogi “Padang Bulan” dan “Cinta dalam Gelas” sebagai karya terbaiknya. Novel Ayah yang saya selesaikan dalam dua pekan dengan baca senggang ini, menurut bacaan saya, bukan karya terbaiknya.