Skip to content

Surat Cinta

Teruntuk buah cintaku atas keadalaman ma’rifat pada-Nya

Hari ini adalah sebuah keyakinan yang dengan sengaja kupahat dalam sebuah peristiwa suci, perjanjianku dengan-Nya, Mitsaqon Gholizhoo

Kini, atas nama cinta, izinkan sekeping hati ini kutitipkan padamu. Jagalah, dengan segenap cahaya milikmu, agar bisa berpendar bersama menerangi gulita kita selama ini. Juga di atas titian dakwah yang sulit ini.

Dan malam ini, setengah diin, telah kita penuhi. Atas nama cinta, perkenankan aku mengenalmu. Atau dengan kekuatanku saat ini, biarkanlah aku mengatakan cinta kepadamu. Karena Robb kita, telah mengizinkan tangan kita bersatu dalam tegar dan tertatih. Dalam terpaan debu dan amisnya darah oleh sebab perjuangan kita yang takkan berhenti.

Kini, aku adalah pakaian bagimu. Dan engkau adalah pakaian milikku. Kita saling menutupi aurat kita, tentu atas nama cinta karena-Nya, dan dalam lingkaran rahmah-Nya.

Sejujurnya, engkau adalah ‘isteri’ keempatku. Setelah sebelumnya aku telah bersatu dengan mahabbah kepada-Nya, kepada Rasul-Nya dan dengan jihad yang tak mengenal lelah ini. Tak apalah kau ‘kumadu’ malam ini dan untuk seterusnya.

Ada segenggam harap yang kutanam di balik namamu.

Biarkanlah, cahaya yang melekat padamu, dengan rela kau bagi pada mataku.

Agar jalan ini terasa lebih benderang dengan tatap sejuk matamu.

Biarlah, tanganmu menggamit tanganku. Agar ketika kuterpeleset dari jalanNya, kau dengan tegar membimbingku.

Tentu, dengan tanganmu disisiku, agar perjalanan panjang ini menjadi sebuah ibadah, dan kau menuntunku menghadapNya.

Duhai wanita yang ada di hadapku. Dengan apa kau terbuat?

Nampaknya, kau bukan makhluk yang bernama manusia, sebab kau begitu bercahaya.

Lebih tepatnya, kau adalah setitik cahaya dari syurga yang rela jatuh ke bumi untuk menemui dan menuntun lelaki sepertiku.

Sungguh sebuah keajaiban, cahaya itu sekarang menjadi milikku. Pantaskah aku?

Kusempatkan menulis semua ini, atas sebuah kerinduan yang mendalam akan sempurnanya agamaku.

Kutulis surat ini, jauh sebelum aku mengenalmu. Jauh sebelum aku tahu namamu. Jauh sebelum semuanya terjadi. Dan jauh sebelum aku mengintip takdirNya atasmu. Aku tak tahu siapa yang akan bersamaku menemani perjuangan ini.

Dan akan jelas semuanya, ketika ada yang membacanya di hadapku kelak, ketika Alloh dengan kecintaanNya menempatkan wanita shalihah sepertimu di sisiku.

Mencuil setitik cahaya dari syurga, dan menginternalisasikannya dalam dirimu.

Semoga saja, Alloh mengaruniakan kepada kita sebagaimana janjinya.

وَٱلطَّيِّبَٰتُ لِلطَّيِّبِينَ وَٱلطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَٰتِۚ أُوْلَٰٓئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَۖ لَهُم مَّغۡفِرَةٞ وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ …

“… dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).” (QS. An-Nuur: 26).

Catatan: Ditulis 24 Desember 2007, jauh sebelum aku mengenalmu, dan jauh sebelum kita bertemu.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published in101 Komunikasi Pasutri

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *