Skip to content

Sekerat bahagia

Emak dan bapak selalu membawa sisa
Kue-kue dari rapat atau acara
Apapun dari kantornya
Untuk kami berempat yang menunggu dengan penuh asa

Begitulah kami merayakan bahagia
Begitulah kami berbagi dengan sederhana
Begitulah kami membangun jiwa
Begitulah mereka mengajarkan cinta

Kebiasaan itu menurun tentu saja
Pada setiap perjalanan keluar kota
Dengan Garuda yang selalu memberi makanan beraneka
Tak lupa ku bawa serta

Ada dua bocah yang selalu bahagia
Melihat dua kotak berwarna
Berisi roti, puding atau biskuit yang mengundang selera
“Aku punya…aku punya,” histeris mereka berdua

Sejak wajah wajah bahagia
Itu merekah akibat kotak ajaib berwarna
Sekalipun tak pernah aku bercita-cita
Mencuil sekerat roti yang berisi ribuan tawa

Seorang kawan pernah bertanya,
Mungkin menyimpan heran di benaknya
Apa sebab aku tak menyentuh itu semua
Dan membawa dua kotak itu serta

Kawan, takkan sampai hati ini tega
Seolah merebut bahagia
Dari bibir mungil kalian berdua
yang mengunyah roti sambil terus bercerita

Dan pada akhirnya, aku merasa
Bahagia itu, selalu sederhana
Ia punya cara yang berbeda-beda
Menyesap makna dahaganya jiwa

Kawan, bahagia memang sederhana
Sudah banyak pujangga menuliskannya
Dan siapapun mengakuinya
Tapi, kita saja yang kadang membuatnya penuh tata karma

Di udara, menuju Solo, 24 September 2017
*) Minggu pagi yang berjarak dengan mereka yang penuh cinta

sumber gambar dari sini

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published in#Instapoetry

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *