Skip to content

Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat: Sebuah Pengalaman

Kalau anda mengira ini adalah resensi atau ulasan buku karya Mark Manson yang berjudul sama dengan judul artikel ini, anda salah. Bahkan saya pun belum pernah membaca buku tersebut. Ini hanya sebuah cerita seseorang tentang hidupnya, kebahagiaan yang terusik oleh orang-orang di sekitarnya dan cara menyikapinya. Bisa jadi, apa yang akan saya tulis, sama atau mirip-mirip dengan buku yang berjudul asli “The Subtle of Not Giving A Fu*k” itu.

Seseorang bercerita, atau lebih tepatnya mengeluhkan hidupnya. Lebih spesifiknya, kehidupannya di kantor. Ia menemui banyak sekali orang-orang yang bersikap penuh kepalsuan, ‘menusuk’ dari belakang, mempergunjingkan hasil kerja atau kinerjanya, menjilat demi nama baik dan perbuatan menyebalkan lainnya.

Bahkan, terlihat sekali kemarahannya ketika ia bercerita mengenai peristiwa yang sangat menyebalkan selama ia berkantor di tempat itu. Ceritanya begini.

Di kantorku, ada sebuah meja kecil dimana microwave dan beberapa alat makan ditempatkan. Di tempat di suatu sudut itulah, kawan-kawan yang kembali dari perjalanan dinas luar kota, kerap meletakkan makanan atau oleh-oleh. Bahkan seolah ada sebuah peraturan tidak tertulis. Makanan atau minuman apapun yang ada di meja kecil itu, milik umum. Siapa saja boleh menikmatinya tanpa perlu minta izin.

Suatu malam, ketika ada sebuah acara di kantor, kami menikmati nasi kotak di ruangan. Nasinya bakar peda yang enak. Siapapun suka. Ada beberapa kotak tersisa dan diletakkan di meja kecil di atas microwave itu.

Malam itu, aku pulang cukup larut. Setelah rebah di sofa sebentar, aku terbangun dan mendapati ruangan itu sudah sepi. Lalu, aku lihat ada sisa sekotak nasi bakar tadi. Aku pikir, sudah tak ada orang lagi dan aku adalah orang terakhir di ruangan itu.

Tanpa pikir panjang, aku bawa saja makanan itu. Daripada basi, nanti mubazir, pikirku. Karena tasku kecil, maka nasi yang dibungkus daun pisang itu aku ambil. Kotaknya terlalu besar dan tak muat. Kemudian, aku pulang.

Esoknya, teman-teman kantor berkumpul mempergunjingkan siapa yang makan nasi bakar sisa semalam. Sampai-sampai salah satu di antara mereka, ada yang mengusulkan untuk melihat CCTV saja ke pihak pengelola gedung.

Aku, yang mengambil nasi bakar itu, diam tak mau mengakui. Mengapa? Karena buat apa aku mengaku, mereka tak bertanya dan situasinya sangat tidak kondusif. Kalau aku mengaku, mereka akan mempermalukanku. Lagipula aku pikir, buat apa meributkan “Sesuatu yang berada di tempat yang siapapun boleh menikmatinya, yaitu di atas meja makan kecil kami.”

Lalu di mana salahku?

Dan aku tidak terima diperlakukan atau dibicarakan seolah-olah aku maling! Aku sakit hati. Tapi aku diam.

Di waktu yang lain, aku sering diremehkan oleh rekan sejawat yang lebih senior. Dia bilang, pekerjaanku tidak becus. Dia sering bersikap sinis dengan apa saja yang aku lakukan.

Aku ingin resign, tapi aku harus realistis dengan hidup ini. Aku masih butuh uang untuk nafkah keluargaku.

Aku diam mendengar ceritanya yang berapi-api penuh amarah. Aku bisa merasakan perasaannya yang perih dan sakit hati. Itu sangat menohok: divonis maling, tanpa ada persidangan yang adil.

Dari kisah ini, saya belajar banyak hal tentang hidup dan cara kita mempertahankannya. Kadang memang, cara yang kita lihat, bisa jadi menghalalkan segala cara untuk bisa tetap eksis. Tapi, apa perlu sekuat itu untuk meraih apa yang kita sebut kebahagiaan?

Dari kisah pertama, saya kok agak merasa, ternyata orang kantoran yang punya gaji dan terkesan intelek pun bisa amat primitif ya? Berebut makanan? Ah, saya tahu, kawan saya itu tak bercanda. Sebab dia mengaku, memendam kesumat itu bertahun-tahun karena merasa sangat terhina dengan perlakuan teman sejawatnya itu.

Dari sini, mari kita ambil pelajaran. Setidaknya, ini yang saya bisa lakukan padanya, memberi solusi kecil agar hidupnya lebih enteng.

Pertama, pahamilah dunia kita sekarang. Dunia nyata yang kita jalani sudah sama ributnya dengan dunia maya dimana media sosial sangat berisik. Jadi, wajar saja akan ada orang yang dengan teramat mudah berkomentar macam-macam soal kita, soal pilihan kita, cara hidup kita dan apapun yang kita lakukan.

Berhati-hati dalam bersikap itu penting. Di manapun, dunia nyata dan dunia maya.

Tapi yang lebih penting adalah untuk bertindak atau tidak bertindak berdasarkan komentar-komentar itu.

Lufti Avianto, 2019 🙂

Kedua, siapapun yang membicarakanmu di belakang, yakinlah kita telah beberapa langkah lebih maju di depan. Saya ingat betul nasihat ini, entah dari mana, saya pernah membacanya. Dengan nasihat ini, saya ingatkan kawan yang mengeluh itu, saya pernah menjadi lebih baik. Seolah-olah, ocehan orang di belakang itu, menjadi energy yang mendorong kemajuan saya.

Ketiga, setiap orang punya kehendak bebas. Maka dari itu, kita tidak akan pernah bisa mengontrol pikiran dan sikap orang lain terhadap kita. Buang-buang waktu bila kita mencegah orang lain berpikir buruk tentang kita. Yang perlu kita lakukan, hanya fokuskan pikiran kita pada usaha, cita-cita dan impian kita. Itu yang bisa kita kendalikan.

Keempat, jawablah dengan karya. Tidak ada yang lebih indah dari menjawa omongan, komentar dan gunjingan orang lain yang tak menyukai kita dengan karya! Menjawab mereka dengan cara yang sama, hanya membuat kita menjadi sama buruknya dengan mereka. Kalau ingin lebih baik, diam dan jawablah dengan karya. Apapun itu.

Lagu ini kayaknya cocok banget untuk ‘melawan’ toxic people dan memberi semangat.

Kelima, milikilah niat yang benar. Ketika kau melakukan hal baik kepada orang yang tak menyukaimu, lakukanlah itu bukan agar ia menyukaimu. Tapi, lakukanlah untuk dirimu sendiri. Untuk sesuatu yang lebih besar, berharap hanya pada Dia yang Mahakuasa. Dengan begitu, kita takkan mudah berubah sikap hanya karena mendapat perlakuan tidak enak dari orang lain.

Terakhir, memaafkan adalah penyembuh. Ia adalah obat dari segala obat. Bayangkanlah, kalau dendam adalah sekantong batu yang kita pikul kemana pun kita pergi, apa kita tidak lelah selalu membawanya? Pikirkanlah baik-baik soal ini.

Sampai sini, saya terlalu banyak menasihati kawan itu. Ia hanya diam, dan semoga ia mencerna apa yang saya katakan. Sebab, itu semua juga terlahir dari pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangkan. Dan semoga itu juga berguna baginya, karena telah banyak membantu saya dalam menempatkan sikap, kapan harus peduli, dan kapan harus bersikap bodo amat.

(Visited 1 times, 5 visits today)
Published inDigital Wisdom

23 Comments

  1. Omongan dan pendapat orang itu gak semuanya harus kita telan mentah-mentah. Kalo dipikirin semua, kita yg gila. Seni bersikap bodo amat ini penting dimiliki setiap orang, apalagi publik figur.

    • Lufti Avianto Lufti Avianto

      wah untung saya bukan public figure, bisa makin pusing :))
      tapi memang bener, perlu disortir setiap omongan orang

  2. Pertama liat judul ini teringat bahwa aku beli buku mark manson dan belum aku baca masih terbungkus plastik rapi hahaha, memang kita harus bersikap bodo amat tetapi pada saat tertentu apalagi di tempat kerja ataupun lingkungan komunitas salah2 malah dibilang sok tau dan sok turut campur. Biasanya suka membantu pekerjaan orang lain,tetapi ketika bantuan itu membuat seperti mau mengambil lahan pekerjaannya jadi sekarang aku ga terlalu membantu karena pikiran kita positive tp menurut orang lain ga. ya untuk bersikap bodo amat untuk menjalani hidup yg lebih baik.

    • Lufti Avianto Lufti Avianto

      ayo baca, lalu share ya

    • Fadli Hafizulhaq Fadli Hafizulhaq

      Saya tercerahkan setelah baca artikel ini. Memang sebaiknya kita tidak ambil pusing perkataan orang, terlebih jika mereka membicarakan kita di belakang tanpa konfirmasi terlebih dahulu

  3. Sepakat, balaslah setiap ejekan, hinaan, nyinyiran dengan karya. Tak perlu membalasnya dengan ucapan apapun. Hal ini terbukti efektif, karena saya telah membuktikannya

    • Lufti Avianto Lufti Avianto

      betul mba, kayak lagu Tulus itu lhooo hehehehe

  4. Di kantor manapun selalu ada hal-hal yang aneh seperti ini. Apalagi kalau sudah menyangkut tentang naik turunnya karir, suka gak masuk akal. Saya bisa komen panjang kalau kaya gini, tapi ntar jadi curhat, he he . . .

    BTW thanks tips-tipsnya untuk bersikat “bodo amat”.

    • Lufti Avianto Lufti Avianto

      bener mas, selalu ada politik, termasuk di kantor sekalipun. tergantung cara kita aja utk eksis, tapi tidak jilat atas, sikut kanan-kiri dan injak bawah

  5. Salah satu sebab nama medsos beda ama KTP tuh, spy org² di kantor engga tahu aku punya FB, IG, twitteran, dan ngeblog. Enaaak banget ada tempat u lari dari kenyataan. Eh…hehe…ga deng. Soale orang di kantor nyinyir…Nulis dan ngeblog spy tetep waras dan bodo amat…

  6. Bisa ngebayangin kak betapa ga enak berada di posisi sebagai orang yang diomongin (di hadapan kita)

  7. Aku liat ulasan soal pentingnya bersikap bodo amat di channel youtube mba analisa, beliau memaparkan kalau bersikap bodo amat bukan berarti apatis, tetapi sebatas tidak terlalu memikirkan apa yang dikatakan orang jika memang itu hanya omong kosong saja.

  8. Kalau saya serupa jika ditanya… ketika mereka nanya baru saya jawab… kalau tidak ya sudah ..kalau dibelakang ya abaikan saja ..selama saya ga tau..kalau saya tau akan saya klarifikasi

  9. Toxic people alias insan beracun itu ada di mana-mana, di lingkungan luar rumah bahkan sekolah anak kala masih TK. Herannya mereka tidak merasa dirinya tak lebih sebagai toxic atau hama yang harus dihindari karena bikin tidak nyaman saja.

  10. bersikap cuek dan bodo amat kadang lebih efektif dari pada membela diri tapi kurang guna. bukan berarti kita jadi apatis tapi lebih ke menyadarkan otak kita dari pada muncul masalah baru.
    kalo aku gitu kak

  11. Saya gak pernah memperdulikan omongan orang, biasanya mereka sirik aja 😀 kasarnya GAK MAMPU MENYAINGI KELEBIHAN yang ada didiri kita.
    Mereka malu dengan keterbatasannya sehingga mencari cara menutupi keterbatasan tersebut dengan hal-hal sepele di orang lain yang dibesar-besarkan

  12. Saya suka sikap yang kelima. Sebab dengan sikap itulah kita teguh menjalankan apa yang kita yakini, tidak berubah hanya karena banyak yang benci.

  13. Amir Amir

    Betul. Balaslah dengan karya, agar mereka tau kalau kita punya nilai lebih yang mungkin tidak orang lain miliki

  14. We need to let go of what we can’t control. Daripada kadang buang buang energi dan juga amarah, yaudah mending selow aja. Kalau saya sih kasusnya kereta telat hahaha.

  15. Yuhuuuu… Kadang emang perlu banget sih egois dg tidak memperhatikan banyak omongan d luar sana. Nyatanya, kita dg begitu bisa damai hidupnya

  16. Benar sekali, siapapun orang yang membicarakan kita di belakang, sebenarnya kita telah beberapa langkah lebih maju di depan. dan jika kita meladeninya maka hanya akan membuang energi dan waktu saja. lebih baik kita terus berkarya

  17. di semua kantor, pasti ada 1 atau 2 orang yg jadi public enemy dan kadang ga enak banget klo terpaksa bersinggungan persoalan dengan mereka. Bakal jadi rame kecuali kita tutup telinga dan tetep jalan aja. Harus kuat pokoknya, semoga temen kamu juga

  18. aku jadi ingat pernah dapet challenge untuk sebulan membaca satu buku khusus yang berkaitan dengan self development dan kebetulan aku pilih buku ini. Dan so mind blowing sampai-sampai aku lamaaaa banget bacanya dan ngerasa so bored aja hehe. Padahal bagus isinya mengantarkan buat hidup be better dengan sedikit bodoamat itu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *