Skip to content

Saya sudah kaya-raya, kamu juga mau?

Apa sih yang dicari mayoritas miliaran umat manusia di bumi ini? Sebagian besar dari kita mungkin akan menjawab harta dan tahta, atau semua hal yang berkorelasi dengan kekayaan dunia. Sampai-sampai ada anekdot, kalau mau kaya ya jadi pengusaha. Kalau mau kaya banget, ya jadi pengusaha dan politisi. Hahahha… saya nggak tahu persis korelasinya. Cuma merasa, kalau dalam dunia politik itu, tersimpan begitu banyak rahasia dan resep bagaimana menjadi orang super-duper kaya dengan sangat cepat.

Di usia saya yang menginjak 34 tahun ini, saya merasa sudah sangat kaya. Resep yang mau saya ceritakan, untuk menjadi kaya raya seperti saya, bukan dengan cara yang dilarang agama atau negara, misal melihara tuyul, ikut pesugihan atau merampok dan menipu. Bukan!

Tapi sebelum kalian mendakwa saya dengan predikat manusia sombong, tukang pamer dan umpatan sejenisnya, ada baiknya baca cerita saya sampai selesai.

Beberapa tahun ini, saya sudah merasa sangat kaya. Ini karena saya bersyukur terhadap anugerah dan rahmat yang Allah swt berikan. Coba deh renungi dan hitung kekayaan yang kalian miliki sekarang. Kita bisa sebutkan dari yang nonmateri hingga materi.

Pertama, syukurilah kita yang terlahir sempurna tanpa kekurangan suatu apapun. Ada banyak orang di rumah sakit yang mencari, bahkan rela membayar mahal sekalipun, ‘hanya’ untuk sebelah ginjal atau mata yang akan ditransplantasi.

Alhamdulillah, sejak lahir, Allah swt telah sempurnakan semua organ tubuh saya. Tak ada yang kurang sehingga saya bisa beraktivitas dengan baik. Semoga beribadah juga sama baiknya.

Atas karunia ini, berapa harga yang harus kita bayar kepada Allah swt?

Kedua, kalian yang bisa kuliah, syukurilah. Di kampus manapun, syukuri saja. Sebab hampir satu bulan yang lalu, ada dua remaja yang datang ke rumah, meminta bantuan dari program beasiswa yang saya dan teman-teman jalankan. Mereka ingin sekali bisa kuliah.

Soal kuliah, Alhamdulillah saya bisa merasakan bangku kuliah di perguruan tinggi terbaik di negeri ini.

Atas karunia ini, berapa harga yang harus kita bayar kepada Allah swt?

Ketiga, kalian yang sudah bekerja, syukurilah. Apapun jenis pekerjaan halal yang kita jalani dan berapapun gaji kita, syukuri saja. Coba renungkan, betapa banyak orang yang tak bisa bekerja dengan berbagai alasan. Misalnya sakit menahun, manula atau alasan lainnya. Dengan begitu kita menyadari bahwa kita masih kuat, bertenaga dan diberikan karunia sehat agar kita tetap bisa berkarya.

Alhamdulillah, saya memiliki pekerjaan yang baik sesuai bidang ilmu yang saya pelajari sehingga dapat diaplikasikan.

Atas karunia ini, berapa harga yang harus kita bayar kepada Allah swt?

Keempat, bagi yang sudah menikah, syukurilah kalian sudah punya pasangan. Pastinya, kalian nggak akan merasa kesepian setiap pulang kerja atau di akhir pekan. Ada teman hidup yang bisa diajak berbagi cerita, jalan-jalan, makan bareng dan kegiatan lainnya. Coba renungkan, betapa banyak curhatan temen kerja atau temen kuliah kita yang ingin segera menikah tapi masih ada kendala? Mungkin belum dapat restu orangtua, atau karena adat, biaya dan lainnya.

Soal ini, Alhamdulillah saya sudah menikah sejak 9 tahun yang lalu.

Atas karunia ini, berapa harga yang harus kita bayar kepada Allah swt?

Kelima, bagi kalian yang sudah memiliki anak, maka bersyukurlah. Anak adalah amanah Allah swt bagi kita sebagai orangtua. Berapa banyak pasangan suami-istri yang telah menikah bertahun-tahun tapi belum memiliki anak? Berapa ratus juta biaya yang harus dikeluarkan demi mengikuti program kehamilan? Dan berapa biaya yang harus dikeluarkan bila ingin mengadopsi anak?

Alhamdulillah, saya sudah diamanih dua anak, lelaki dan perempuan. Kebahagian kami terasa lengkap dengan keluarga kecil kami.

Atas karunia ini, berapa harga yang harus kita bayar kepada Allah swt?

Keenam, keluarga yang sakinah. Mungkin karena rutinitas, kita kerap tak merasa bahwa keluarga yang damai adalah karunia dan berkah yang luar biasa. Coba tengok tetangga kanan-kiri kita. Mungkin ada yang kaya raya secara materi, tapi kehidupannya merana dan penuh prahara. Atau coba sesekali nonton infotainment, ada begitu banyak contoh kehidupan artis yang kawin-cerai sesukanya. Menurut saya, meski kehidupan mereka glamour, tapi sejatinya mereka fakir cinta.

Lebih dari 9 tahun saya menikah, bukan berarti tak ada masalah. Tapi yang saya rasakan sebuah kedamaian dan ketentraman dalam jiwa dengan agenda dan tujuan kehidupan yang jelas, yakni mengejar surga bersama.

Atas karunia ini, berapa harga yang harus kita bayar kepada Allah swt?

Ketujuh, rezeki tempat tinggal. Sekecil dan sejelek apapun itu, syukuri saja. Meski masih mencicil, syukuri saja. Apalagi yang sudah lunas. Sebab, ada banyak orang yang ingin memilik tempat tinggal, di saat harga rumah kian meroket dan lahan kian terbatas.

Masih di poin ini, berlaku untuk semua perolehan dunia lainnya, seperti kendaraan (motor atau mobil), investasi (saham, tanah, emas batangan, dan lainnya), dan seterusnya. Untuk semua yang kalian miliki, syukurilah.

Alhamdulillah, meski masih mencicil, saya sudah memiliki tempat tinggal dengan dua kendaraan motor. Kami menikmati apa yang ada. Kalau bepergian, kami naik 1 motor berempat dengan suka cita. Kalau hujan, kami mampir ke tempat jajan sambil berteduh.

Atas karunia ini, berapa harga yang harus kita bayar kepada Allah swt?

Saya cukupkan artikel ini karena masih banyak sekali nikmat dan kekayaan yang Allah swt berikan untuk saya, dan juga kalian yang memiliki kondisi serupa atau lebih baik dari saya. Kita tidak perlu membandingkan secara ekstrem kondisi kalian dengan kondisi saya, atau orang-orang di sekeliling kita. Yang kita perlu lakukan adalah segera bersyukur.

Selain syukur, saya kira tak ada action lebih pantas untuk menjawab semua anugerah tersebut. Sebab, yakinlah, tak ada kehidupan dunia yang benar-benar ideal menurut khayalan kita. Ada yang punya rumah mewah, tapi belum punya pasangan. Sudah menikah, tapi bertahun-tahun belum memiliki anak. Sudah berkeluarga lengkap, tapi belum punya pekerjaan ideal. Sudah berkeluarga dan pekerjaan mantap, tapi tak ada kedamaian di dalamnya.

Karena itu, syukur tidak hanya sekadar mengucap hamdalah saja, melainkan harus diisi dengan peningkatan ibadah agar kelak Allah swt memberikan kita gelar sebagai “orang-orang yang pandai bersyukur” sehingga niscaya nikmat itu akan Dia tambah.

Masih berniat menghitung nikmat yang telah diberikan Allah swt?

Gambar bersumber dari sini

(Visited 1 times, 3 visits today)
Published inDigital Wisdom

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *