Skip to content

Arti Rumah

Jarang sekali pulang kantor, masih bisa melihat terangnya matahari sore. Kalau tidak habis dinas luar kota, biasanya aku pulang dalam kondisi seperti karena habis pelatihan di luar kantor. Dan untuk alasan kedua itulah, Kamis itu aku tiba di rumah lebih cepat.

Melihat aku sudah di rumah, si sulung yang habis pulang dari shalat maghrib di Masjid, terpekik. “Tumben abi sudah di rumah,” ia cium punggung tanganku.

“Sini mas, sambil makan tahu goreng, tadi abi beli habis pulang pelatihan, makanya pulang cepat.”

Kami makan tahu goreng itu bertiga dengan istriku. Sementara si Kakak belum pulang dari masjid, dan si bayi masih tidur. Aku menikmati kebahagiaan yang sederhana itu. Makan kudapan dengan orang-orang terkasih, sambil bercerita kegiatan kami masing-masing di hari itu.

Ada perasaan lapang dan tenang di rongga hati. Perasaan yang rasanya tak bisa dinilai dengan materi. Teduh sekali, seperti piknik di bawah pohon rindang, dengan angin sepoi-sepoi, kemudian menyaksikan anak-anak yang saling berkejaran sambil tertawa.

Usai mandi, badanku rebah di kasur tanpa dipan. Inilah rumah. Tempat kami kembali ke peraduan.

“Apa artinya rumah buat kamu?” aku melirik perempuan yang menjadi ibu bagi tiga anak-anakku.

Mata bulatnya bergerak-gerak. Aku tahu ia kesulitan merangkai kalimat. Suatu pekerjaan yang jauh lebih sulit daripada soal-soal integral baginya.

“Ya, rumah itu….” Ia memulai dengan sedikit terbata-bata.

“Tempat kita pulang, melepas lelah karena seharian bekerja, relaksasi dan kembali ke kehangatan keluarga.”

“Kalau menurut abi, gimana?”

“Rumah itu, tempat mengurai benang kusut karena seharian di luar, bekerja. Kemudian merajut kembali untuk menjadi sebuah selimut yang menghangatkan keluarga kita.”

Kami kemudian tertawa bersama. Menertawakan perbedaan redaksional, namun satu makna yang sama.

Ya rumah bukan sekadar bangunan fisik semata tempat kita berteduh dari hujan dan teriknya matahari. Jauh lebih dari itu, rumah adalah tempat kami membangun cinta, menguatkan komitmen dan mengukur sejauh mana perjalanan kami, serta mengevaluasi visi sebagai sebuah keluarga. Apakah kami akan menjadi keluarga hanya di dunia saja, atau hingga di surga kelak?

Seolah, ada satu gelombang yang merambat ke kepala kami masing-masing yang tak terkatakan, tapi kami sama-sama memahaminya. Bahwa kami memang berbeda; cara dan sudut berpikirnya. Kami menjadi sempurna karena saling melengkapi. Dia otak kiriku, dan aku otak kanannya. Kami berbagi peran, juga saling menguatkan. Dan yang tak kalah penting, kami saling menutupi aib dan kekurangan masing-masing.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published in101 Komunikasi Pasutri

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *