Skip to content

Resolusi Anak 2020: Lebih Shalih, Cerdas dan Kreatif

Resolusi, pasti ramai dibicarakan menjelang pergantian tahun. Ya, setiap orang tentu ingin lebih baik dalam hal apapun. Baik karir, pendidikan, bahkan keluarga. Termasuk saya, bersama istri dan tiga buah hati kami.

Kalau ada yang bertanya, kenapa sih kita perlu resolusi, mimpi atau target dalam hidup ini? Atau lebih tepatnya, kenapa itu semua perlu dituliskan bahkan di-publish di blog?

Jawaban sederhananya, kita perlu target dan mimpi-mimpi agar hidup kita tidak monoton, lebih menantang dan seru. Bukannya nggak seru ya, kalo kita main game tapi nggak ada level, bonus atau musuh yang harus ditaklukkan?

Nah, hidup juga begitu. Kita perlu punya mimpi dalam hal apapun, agar tahu tujuan hidup kita akan ke mana. Dan tentu saja, setiap mimpi itu, ada tantangan dan halangannya yang tak mudah. Sehingga perlu strategi, usaha dan berdoa agar mimpi itu bisa terwujud.

Lalu, kenapa perlu dituliskan bahkan di-publish di blog? Saya pribadi sih biar nggak lupa aja. Dan jadi catatan sejarah sendiri, kita pernah punya mimpi apa dan bagaimana strategi serta realisasinya. Kalau kita baca di kemudian hari, rasanya seru aja, seperti telah melewati episode tertentu. Kita bisa mengambil pelajaran dan melakukan evaluasi mana yang kurang dan yang perlu diperbaiki agar ke depan bisa lebih baik.

Dulu, saya dan istri tidak mencatat target-target yang akan kami kejar di tahun tertentu. Akhirnya lupa dan abai begitu saja. Sehingga ketika pergantian tahun, kayak ada perasaan bersalah, “Setahun kemaren ngapain aja ya? Apa yang udah gue kerjain ya? Apa prestasi setahun kemaren ya? Anak-Anak kok perkembangannya biasa-biasa aja?”

Duh, kalo begitu terus, kan rugi. Umur terus berkurang, tapi pencapaian hidup gak signifikan. Iya gak sih?

Baca: Resolusi Literasi saya di tahun 2020: Agar Telaten Berkarya

Orangtua harus mengawal tumbuh-kembang anak agar mereka menjadi anak sesuai harapan dan visinya

Nah, karena tak ingin terus mengulang kesalahan yang sama, maka mimpi-mimpi dan target buat keluarga itu perlu ditulis. Terutama, dalam pendidikan anak. Apa saja yang ingin kami capai?

Pertama, menambah hafalan Qur’an anak-anak. Tahun 2020, si sulung akan menginjak usia 10 tahun dan kelas 4 SD, targetnya sudah hafal minimal juz 29 dan 30 secara baik. Kalau bisa sudah masuk juz 28. Sedangkan adiknya, tahun 2020 baru masuk kelas 1 SD, 6 tahun, targetnya sudah hafal juz 30. Karena mereka berada di sekolah yang sama (dengan target lulus 5 juz), dan berencana melanjutkan ke pesantren, maka hal ini perlu diprioritaskan.

Untuk hal ini, kami berbagi peran. Istri akan menemani anak-anak menghafal dan mengulang-ulangnya (tahfizh dan muroja’ah) selama Senin-Jumat, sedangkan saya bertugas untuk memperbaiki bacaan (tahsin dan tajwid) pada Sabtu-Minggu.

Kami sedang mempertimbangkan mengundang seorang guru yang akan menemani belajar dan memperkuat hafalannya. Tapi kami akan coba dulu untuk 3-6 bulan pertama, apakah cukup dengan kami orangtuanya saja, atau tidak.

Kedua, anak-anak rutin membaca buku, masing-masing minimal 12 buku setahun. Si sulung paling tidak membaca dua buku tanpa gambar. Untuk si tengah, paling tidak sudah lancar membaca.

Untuk program ini, kami menargetkan paling tidak menambah koleksi buku dengan mengajak mereka ke toko buku sebulan sekali. Selama ini, kegiatan membeli buku lebih banyak via online. Sepertinya, ada yang kurang, anak-anak jadi tidak menikmati suasana dan harumnya bau buku saat membeli langsung ke toko buku.

Ini sudah termasuk latihan mereka mempresentasikan atau menceritakan ulang isi buku. Saya lihat, si tengah mulai berani bercerita karena si sulung mau bercerita di depan kami. Dari sini kami tahu, kalau si tengah belum runut saat bercerita meski sudah berusia lebih 5 tahun. Berbeda dengan si sulung di usia yang sama. Artinya kecerdasan anak-anak kami berbeda dan kami jadi tahu mana yang perlu ditingkatkan.

Anak harus berani ‘menerbangkan’ mimpi sejak kecil agar ia menjadi anak yang percaya diri dan tangguh

Ketiga, mendorong anak lebih berani, kreatif dan ekspresif. Kami berencana akan membuat akun media sosial keluarga (Instagram dan channel You Tube) yang berisi foto dan video mereka saat bercerita, membuat dan memainkan permainan tradisional dan sebagainya. Soal ini, akan saya buat artikel tersendiri.

Buat saya, ini terobosan yang berani. Bukan apa-apa, kami termasuk yang sangat hati-hati dalam penggunaan internet/media sosial pada anak. Namun, kami juga menyadari bahwa hal ini tetap perlu diperkenalkan pada anak agar mereka tak penasaran dan justru mencari informasi dengan temannya tanpa sepengetahuan kami. Ini yang berbahaya.

Lagipula, zaman dan teknologi telah berubah dengan cepat. Kami juga perlu mengajari literasi media dan internet sedini mungkin agar mereka tak terseret arus tsunami informasi yang deras. Untuk penggunaan media sosial pribadi, mereka baru diizinkan setelah berusia 14 tahun. Kalau saat ini, masih akun keluarga yang masih bisa kami pantau, sembari kami ajarkan mana yang harus dan tidak boleh dilakukan.

(Visited 1 times, 2 visits today)
Published inAyah Under-ConstructionLiterasi Berdaya

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *