Skip to content

(Buku) Filosofi kopi, tak sekadar soal kopi

Mengalir lancar, indah dan membekas. Itu yang saya rasakan ketika membaca karya Dee Lestari. Termasuk saat membaca kumpulan cerita Filosofi Kopi. Sejujurnya, ini adalah karya kedua Dee yang saya baca, setelah Kumpula cerita Dee berjudul Madre (Resensinya bisa dibaca di Madre: Kisah Sepotong Adonan). Dan lagi-lagi, komentar saya, Dee berhasil mengarang cerita yang tidak lazim seperti Madre. Kali ini tentang kopi, sampai soal cerita cinta kecoa.

Yang menjadi jago dari kumpulan cerita ini adalah FIlosofi Kopi, sebagaimana judul buku ini, yang mengisahkan perjuangan Jody dan Ben. Sebagai seorang sahabat, Jody merasa prihatin dengan penampilan Ben belakangan ini. Rambutnya gondrong, matanya melingkar garis hitam, pipinya kasar dipenuhi jenggot tidak dicukur, badannya terlihat kurus, menipis. Itulah penampilan Ben, seorang barista atau peracik sekaligus pemilik kedai Filosofi Kopi. Sejak ditantang oleh seorang pengusaha, Ben terus meracik kopi yang rasanya sangat sempurna. Hingga orang yang meminumnya hanya bisa berucap, “Hidup ini sempurna”.

Pengusaha tersebut juga menjanjikan uang Rp 50 juta untuk tantangan tersebut. Namun bukan karena itu Ben mau bekerja keras menerima tantangan si pengusaha. Karena kecintaanya terhadap kopi dan sifatnya yang pantang menyerah, Ben dengan gigih berjuang mencapai impiannya, menciptakan kopi sempurna. Ketika kedainya tutup, Ben sering meracik kopi hingga larut malam.

Akhirnya kerja keras Ben terbayar. Kopi racikan yang ia namakan Ben’s Perfecto berhasil ‘menyempurnakan’ hidup sang pengusaha. Kopi itu menghadirkan perasaan paripurna saat disesap, begitu nuansa yang dirasakan penikmat Ben’s Perfecto yang lahir dari kerja keras dan sikap pantang menyerah seorang barista.

Ada juga cerita yang menarik, yakni Rico de Coro, yang mengisahkan bagaimana seekor kecoa jatuh cinta pada seorang gadis 16 tahun, Sarah. Membaca cerita ini, saya sambal berpikir, “Bagaimana bisa Dee menemukan inspirasi cerita romansa antara kecoa-manusia ini?

Di akhir cerita, Rico de Coro akhirnya menjadi martir untuk menyelamatkan Sarah. Ia merelakan diri terkena racun mutan yang salah sasaran menyerang Sarah. Ia juga harus mati dengan tubuh yang tak lagi utuh. Menyedihkan, menyentuh, sekaligus menggelitik!

Tapi, bukan berarti karya lain dalam buku ini tak menarik. Prosa-prosanya juga bagus. Hanya saja, selera gue yang buruk mengenai prosa, jadi tak begitu berminat memaknainya lebih jauh.

Sebagai pembaca buku Dee yang selalu terlambat (Buku yang saya baca, sudah cetakan ke-13), saya angkat jempol yang kedua kalinya. Keyakinan saya bahwa Dee telah lama memulai tradisi menulis, terkonfirmasi pada halaman sambutan buku ini. Bahwa ‘karir’nya sebagai penulis, telah ia mulai bersamaan dengan karirnya sebagai penyanyi. Hanya saja, karir musiknya “Lebih dulu menemukan lampur sorotnya,” katanya.

(Visited 1 times, 4 visits today)
Published inReview

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *