Skip to content

Ayahku (bukan) pembohong

Setelah Hafalan Shalat Delisa, ini buku kedua, Ayahku (Bukan) Pembohong karya Tere Liye yang saya baca. Satu jam membaca, saya memvonis novel ini sama dengan novel Ayah milik Andrea Hirata; bermesin diesel yang lambat menyengat pembaca. Saya hampir berhenti, tapi, saya mengenali Tere Liye sebagai penulis yang sabar menyiapkan kejutan. Dan klimaks pada bagian akhirnya.

Novel ini mengisahkan tentang Dam, seorang anak berambut kriting yang sangat mengidolakan Sang Kapten, seorang bintang sepakbola dari Benua Eropa. Dam selalu dimotivasi sang ayah melalui cerita-cerita Sang Kapten yang diakui sang ayah, begitu dekat dengan si tokoh idola. Dam selalu menyimpan petuah itu dan menjalankannya pada setiap sesi latihan, hingga kejuaraan renang estafet 400 meter yang dia juarai.

Tak hanya cerita bahwa ayah begitu sangat mengenal dan sempat menolong Sang Kapten. Juga cerita-cerita di kemudian hari, yang dianggap Dam sebagai fantasi dan bualan ayahnya semata; seperti kisah apel emas, Lembah Bukhara, Suku Penakluk Angin, si Raja Tidur dan Lembah Sufi. Kisah-kisah itu yang kemudian membuat Dam memvonis sang ayah sebagai pembohong.

Termasuk ketika, pada saat Dam duduk di kelas 3 SMA berasrama, ibunya meninggal, Dam menganggap ayahnya berbohong bahwa kondisinya selama ini baik-baik saja.

Pertengkaran Dam dan ayahnya terjadi, saat Zas dan Qon, dua anak Dam, bolos sekolah untuk membuktikan dongeng sang kakek tentang Lembah Bukhara, apel emas dan Suku Penakluk Angin. Dam marah dan mengusir ayah dari rumahnya.

Di bagian akhir cerita, saat ayahnya sekarat, Dam baru tahu bahwa semua kisah itu benar adanya. Juga cerita bahwa sang ibu merupakan bintang televisi yang menikah dengan lelaki bersahaja seperti ayahnya, juga tentang sakit ibunya yang bisa diobati dengan rasa bahagia.

Catatan, saya membaca novel ini dalam kurang dari lima jam sehingga bisa memahami pesan Tere Liye lebih utuh tanpa jeda.

Bukan kekurangan, ada hal yang tidak saya sukai dari novel ini, yaitu latar “sebuah kota” yang tidak jelas dimana. Saya mungkin penganut hal yang berseberangan dengan Tere Liye dalam hal ini. Tapi, bagi sebagian orang, itu mungkin bukan persoalan yang perlu dikemukakan. Tapi, saya secara subjektif lebih suka membaca deskripsi sebuah daerah, sebagaimana biasa dilakukan Andrea Hirata yang nyaris selalu mempromosikan Belitong, misalnya. Dengan deskripsi yang kuat dan basah, pembaca akan lebih mudah membayangkan dan berada pada alur cerita yang dibangun.

Hal kedua yang membuat saya kurang sreg, cara menamai judul subbab membuat pembaca lebih mudah menebak jalan cerita babak per babak. Ah, ini jadi kurang seru. Saya kira, penulis bisa membuatnya lebih konotatif, sehingga pembaca lebih pensaran untuk melanjutkan bacaannya.

Namun, pesan novel ini begitu kuat dan filosofis. Pesan bahwa, hidup harus disikapi dengan sederhana dan lapang hati untuk menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya, yang setiap orang mencari itu. Adalah klise memang, tapi pesan ini masih sangat relevan pada dunia yang hedonis seperti sekarang ini.

Kedua, pesan pendidikan dan komunikasi keluarga, antara anak dan ayah-ibu. Berbaktilah sebelum semuanya terlambat, begitu kira-kira Tere Liye mengingatkan kita. Ayah sebagai sosok teladan pertama bagi anak, adalah modal untuk menghadapi tantangan dunia dan masa depan. Deskripsi ini begitu nyata dan dekat dengan keseharian, dimana keluarga Dam yang sederhana, begitu berbeda dengan keluarga Jarjit yang kaya-raya. Dari sudut ilmu komunikasi, dua karakter tadi sangat mungkin untuk ditelaah dan dipelajari.

Ketiga, pesan moral yang betebaran pada analogi, dongeng dan legenda yang diciptakan dalam cerita, merupakan ‘guru’ yang tak menggurui. Saya mungkin berlebihan, dan mungkin ini klise, tapi sekali lagi, nasihat itu masih sangat relevan.

Setelah membaca buku ini, kalian pasti akan lebih mudah memahami ayah kalian, caranya menyayangi yang berbeda dengan cara ibu kalian. Kalian akan juga lebih mudah menebak isi hatinya, melihat, tidak hanya saat dia marah, tetapi juga caranya tersinggung, sehingga dengan begitu, kalian akan lebih mudah menghargai perasaannya.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published inReview

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *