Skip to content

Rapor SD Pioneer Depok: Mengukur Kecerdasan Anak

Masa liburan semester yang menyenangkan, pasti didahului oleh ketegangan para orangtua. Ya, sebelum menyambut liburan itu, para orangtua yang memiliki anak seusia sekolah, akan mengambil hasil belajar semester sang buah hati. Lalu, bagaimana rapor anak kami yang bersekolah di SD Pioneer Depok?

Sebelum saya menjelaskan isi rapor dari SD Pioneer Depok, ada baiknya saya ceritakan bagaimana kami memandang rapor dan rangking kelas. Sehingga kalau ada perbedaan pandangan dari pembaca sekalian, bisa memaklumi dan memahami jalan pikiran kami.

Bagi kami, rapor yang berisi angka-angka antara penting dan tidak penting. Penting untuk mengukur sejauh mana pemahaman si anak terhadap suatu mata pelajaran. Tidak penting, kalau angka-angka itu dianggap suci, seolah-olah hanya menjadi satu-satunya tolak ukur keberhasilan kemudian melabel anak dengan “pintar” dan “tidak pintar”.

Kemudian, bentuk rapor berkembang menjadi deskripsi yang berisi penjelasan tentang perkembangan anak di sekolah, mulai dari sikap, cara berinteraksi sosial, mengemukakan pendapat, keberanian, percaya diri dan sebagainya. Sehingga, ia kemudian melengkapi cara penilaian yang tak bisa dijangkau oleh angka-angka tersebut.

Lalu bagaimana dengan pemeringkatan alias rangking di kelas?

Saya termasuk di antara golongan orangtua yang tak setuju dengan pola pemeringkatan ini. Sebab, ada hal-hal yang sangat standar dan berlaku umum mengenai tingkat kecerdasan yang kemudian kita anggap sebagai anak cerdas dan anak tidak cerdas. Bagi saya, setiap anak itu cerdas dan unik. Mereka punya potensi yang berbeda-beda sehingga tak pantas bila diukur dengan satu standar yang sama. Seperti yang dikatakan Albert Einstein:


“Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid.”

Jadi, seorang anak yang tidak jago matematika, tapi mahir berolahraga, ia juga bisa disebut jenius dengan bakat motoriknya. Jadi, kita sebagai orangtua, berhentilah untuk bertanya kepada anak, berapa nilai mata pelajaran matematika, bahasa Inggris, atau sainsmu. Tapi apresiasilah prestasi anak di luar standar-standar umum, misalnya bakat anak dalam bermusik, melukis, bernyanyi, bahkan berolahraga.

Rapor SD Pioneer Depok

Pihak sekolah tak memberlakukan peringkat kelas. Saya pribadi, karena setuju, memang tak bertanya apa alasannya. Mungkin alasannya sama dengan yang saya imani, bahwa kecerdasan anak itu luar biasa, dan masih akan sangat bisa berkembang. Pemeringkatan yang dibuat, justru akan mengekang bahkan cenderung melupakan potensi kecerdasan lain dari si anak.

Sedangkan mengenai rapor di sekolah dasar bernuansa alam ini, memiliki beberapa bentuk penilaian. Setiap mata pelajaran memiliki penilaian angka, huruf dan deskripsi. Ada total 16 mata pelajaran yang dibagi dalam tiga kelompok mata pelajaran yaitu kelompok diniyah, kelompok nasional dan kelompok plus.

Untuk kelompok nasional, di antaranya bahasa Indonesia, matematika, IPA, IPS, seni budaya dan keterampilan, pendidikan jasmani dan PPKN. Kelompok diniyah, seperti bahasa Arab, tahfizh dan tahsin, fiqh ibadah, hadits dan doa. Sedangkan kelompok plus, seperti gardening, komputer, serta bahasa Inggris.

Penilaian angka menunjukkan penilaian yang diraih siswa dan membandingkan dengan kriteria ketuntasan minimal (KKM) atau standar nilai untuk siswa yang dianggap tuntas pada mata pelajaran tersebut. Sementara penilaian huruf dan deskripsi, digunakan untuk mengukur pengetahuan dan keterampilan, serta menjelaskan sikap spiritual dan sosial si anak saat proses pembelajaran berlangsung.

Dari pengukuran dan penjelasan rapor si sulung, saya bisa memahami mengenai bakat dan kecerdasannya. Saya menduga, si sulung adalah tipikal anak yang tidak suka cara belajar yang monoton, suka di luar ruangan dan yang mengaktifkan seluruh inderanya. Sehingga untuk pembelajaran yang cenderung klasikal: duduk, diam, dengar lalu mengerjakan soal-soal yang diberikan, akan cenderung membuatnya bosan.

Maka, dugaan saya terbukti saat saya menanyakan tiga mata pelajaran yang paling ia suka. Ia menyebut gardening (berkebun), IPA serta seni budaya dan keterampilan (SBK). Pelajaran pertama, tentu ia suka karena berada di luar kelas. Berinteraksi dengan tanah, bibit, tanaman dan air. Pelajaran kedua, ia beralasan karena mudah dipahami. Mungkin karena lebih konkret ketimbang matematika yang berhadapan dengan angka-angka yang menjemukan. Pelajaran ketiga, SBK mengajarkannya banyak keterampilan yang menunjang kreativitasnya, seperti membuat aneka mainan dan kerajinan.

Yang menarik bagi saya, pihak sekolah mencari bakat paling menonjol dari tiap siswa. Kemudian maing-masing siswa diberikan sebuah piala sebagai bentuk penghargaan. Si sulung sendiri mendapatkan piala kategori “Best Logic Thinking”. Kata gurunya, si sulung selalu bertanya, mengapa begini dan begitu.

Saya mesam-mesem mendengar penjelasan si guru. Bukan apa-apa, sikap si sulung ini kalau di rumah juga tak beda. Kadang, kalau ia tak menemukan jawaban yang memuaskan, ia akan terkesan ngeyel dan itu yang kerap membuat kami jengkel. Lalu kami senyum-senyum membayangkan guru muda di hadapan kami harus menyiapkan banyak stok sabar guna menghadapi kengeyelan si sulung.

Dengan segala kelebihan dan kekurangan si sulung, secara keseluruhan isi rapornya sangat baik dalam hal akademik. Artinya, secara proses pembelajaran, ia mampu untuk mengikuti dan menuntaskan mata pelajaran yang dihadapi dan diujikan dengan nilai di atas rata-rata standar kelulusan.

Namun, keyakinan kami bahwa yang kelak akan menunjang kesuksesan si sulung, bukan hanya nilai-nilai akademik itu, melainkan soft skill, seperti kerja sama dalam tim, kepemimpinan, kesabaran, keteguhan dalam menghadapi persoalan, mencari solusi, dan hal-hal lain yang tak menjadi mata pelajaran secara khusus. Karena itu, penting untuk terus mengasah soft skill itu dan menyalurkan bakatnya.

Saya kira, kita harus bersepakat bahwa kunci sukses mendidik buah hati adalah kerja sama, baik di rumah oleh kami orangtua, di sekolah bersama para guru, serta lingkungan bersama orangtua teman sepermainan dan kerabat lainnya.

Sumber foto: Facebook Sekolah Pioneer

(Visited 1 times, 26 visits today)
Published inAyah Under-ConstructionReview

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *