Skip to content

Ralali.com Bantu Saya Wujudkan #ResolusiBisnis2019

Di era yang serba digital seperti saat ini, saya sering mengeluhkan, mengapa pola kerja kebanyakan perusahaan atau instansi masih sangat konvensional? Mengerjakan tugas-tugas dan menghadiri rapat harus secara fisik.

Tak heran, kalau ritual pagi saya bertahun-tahun sangat membosankan: bangun pagi, mandi, pakai kemeja, lalu berangkat kerja, dan harus berjuang membelah kemacetan jalanan Ibukota. Kamu perlu tahu, jarak yang saya tempuh setiap hari, yaitu 60 km pergi dan pulang setiap harinya.

Hal yang membuat stress, apalagi kalau bukan banyaknya titik macet dari rumah menuju kantor. Kira-kira ada enam sampai tujuh titik kemacetan dari rumah saya di Sawangan, Depok, menuju kantor di Kuningan, Jakarta Selatan. Belum lagi, kalau sampai kantor terlambat satu menit saja, gaji bakal kena potong.

Begitulah nasib pekerja yang merasakan hidup di era yang sedang berubah secara radikal ini. Era teknologi digital seharusnya membuat pekerjaan jadi lebih mudah, misalnya, semua pekerjaan bisa dilakukan dari rumah, atau rapat-rapat dengan menggunakan video conference. Rutinitas bertahun-tahun yang saya jalani, membuat saya jenuh. Sebab, energi setiap pagi, sudah habis dibakar di jalanan. Lantas saya berpikir, mengapa saya tak berwirausaha saja?

Kalau orang-orang sedang ramai membicarakan resolusi politik untuk #2019GantiPresiden, sedangkan saya harus memulai tahun ini dengan resolusi bisnis untuk #2019GantiStatus jadi wirausahawan mandiri. Ciee

Memang punya bakat usaha?

Tenang, soal ini saya pernah berdiskusi dengan konsultan HRD di sebuah pelatihan. Menurut dia, jiwa wirausaha itu bukan bakat apalagi didapat secara genetik. Menjadi wirausahawan itu mutlak soal kompetensi, semisal berani mengambil risiko, perencanaan yang baik, ekskusi keputusan yang terukur dan kemampuan evaluasi. Dan rasanya, sejak menjadi pegawai, saya sudah punya kompetensi ini, tinggal praktek bisnis saja.

Lalu, mau usaha apa?

Makanan! Alasannya sederhana, karena orang butuh makan dan suka makan. Apalagi, saya juga suka masak, dan di waktu luang suka coba-coba resep, terutama yang menu a la western, seperti pasta, cream soup, pizza dan lain-lain. Langkah berikutnya adalah menggunakan uang pesangon, yang dihitung-hitung, lumayan untuk buka mini café dekat rumah.

Lalu, di mana cari bahan baku?

Nah, inilah manfaatnya era digital. Kalau buka usaha mini café 10 tahun lalu, mungkin susah sekali cari supplier. Kalau sekarang, kita bisa cari di internet marketplace yang recommended. Dan Ralali.com adalah jawabannya. Ia adalah pasar online terbesar yang mempertemukan business to business (B to B marketplace) atau calon pengusaha macam saya dengan supplier dari tangan pertama. Tentu saja, harga sangat bersaing!

Didirikan sejak 2014, kini Ralali.com memiliki 11.000 vendor terverifikasi, 135 ribu pelanggan, 250 ribu produk, dan 2 juta pengunjung unik setiap bulan dari seluruh Indonesia. Kita bisa mengakses, baik melalui web based www.ralali.com atau mengunduhnya di Google Play untuk android.

Nah, karena saya merencanakan bisnis kuliner, kategori “Horeca” alias Hotel, Restaurant & Café sangat membantu saya memilah barang-barang yang dibutuhkan. Sebut saja perlengkapan masak, furniture, sampai packaging juga ada. Untuk bahan baku, tersedia di kategori “Agriculture & Food”. Di sini, semua bahan baku tersedia mulai dari saus, penyedap, tepung, biji-bijian, hingga bumbu tersedia. Komplet!

Jadi pebisnis zaman now, ternyata menjadi gampang dengan layanan Ralali.com. Kita tinggal klak-klik saja untuk memilih semua kebutuhan bahan baku untuk bisnis kita, bayar, lalu barang dikirim.  Beres!

Karena proses belanja bahan baku sudah mudah, energi kita bisa ditumpahkan untuk menyusun strategi promosi dan marketing, agar usaha kita kian berkibar seperti bendera Indonesia.

#IniSaatNya wujudkan #ResolusiBisnis2019

Bagaimana dengan kamu?

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published inArsip Lomba Nulis

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *