Skip to content

Punya Banyak Ide Itu Penyakit, Bila…

Kapan terakhir kali kalian mendapatkan ide untuk menulis? Entah untuk konten blog, cerita pendek, jurnal ilmiah, puisi atau bahkan ide untuk menulis novel yang lebih panjang. Sebulan lalu? Atau bahkan sejam yang lalu?

Ada orang yang sulit mendapatkan ide. Dia perlu merenung, menyendiri bahkan mengasingkan diri dari keramaian. Bahkan, ada yang perlu melakukan ‘ritual’ tertentu. Makan cokelat atau minum kopi panas sambil melihat hujan di teras depan rumah, misalnya. Sehingga menciptakan kondisi batin yang nyaman agar ide bisa bermunculan.

Tapi, ada juga lho yang mudah sekali mendapatkannya. Saat ‘bertapa’ di dalam toilet, berdesakan di commuter line, atau sedang ngobrol dengan kawan. Semudah itu? Iya, semudah itu. Kok bisa ya? Ya begitulah Tuhan menciptakan manusia dengan potensi dan bakat yang berbeda-beda. Setiap kita itu unik. Yang perlu kita lakukan adalah mengenali diri kita sendiri, bagaimana ritme kerja otak dan fisiologis tubuh kita.

Nah, Alhamdulillah-nya saya tipe yang kedua. Kemudahan saya mendapatkan ide, membuat saya ingin menulis dan melakukan banyak hal, mulai dari mempublikasikan jurnal ilmiah, menerbitkan buku nonfiksi, mengarang novelet, cerita pendek, puisi, novel, bahkan menyusun calon disertasi saya. #hadeeeh.

Ide bila tak dikembangkan dan diseriusi, hanya akan menjadi ide. Bukan karya yang bisa dinikmati.

Tapi sayangnya, banyak dari ide itu tak terawat, hingga mati sia-sia tak sempat menjadi karya. Saya jadi tidak fokus mengeksekusi dengan telaten satu ide, karena telah berkelebatan ide lainnya yang tak kalah menarik. Saya sadar, hal ini tidak baik dan cenderung menjadi “penyakit tidak fokus yang akut.”

Saya tahu, ide itu harus dirawat, seperti tanaman. Ia harus rutin diberi air dan pupuk yang cukup, ditempatkan pada area yang kena sinar matahari dan seterusnya. Intinya, ide harus diterjemahkan pelan-pelan, dikembangkan setahap demi setahap hingga ia menjelama menjadi sebuah karya yang bisa dinikmati khalayak.

Bayangkan, belum selesai saya menulis dua naskah parenting (satu hasil dari hilirisasi riset tesis, dan satu lagi kumpulan esai), saya sudah mendapat ide lain untuk menulis novel dwilogi. Belum mulai saya garap ide itu, saya sudah mendapat ide untuk menulis sebuah novel yang menurut saya lebih baik, lebih matang dan lebih mudah dieksekusi. Padahal sebelumnya, saya sudah membuat ide untuk menulis antologi cerita pendek bertema “cara kita beragama” yang juga akan digarap pada 2020 bersama dua teman saya. Oya, saya juga punya ide “mengawinkan” tokoh saya dan tokoh teman saya dalam kumpulan novelet Pitu Loka yang September lalu kami terbitkan. Nah lho…

Bukankah terlalu banyak ide yang tak dieksekusi akan menjadi penyakit? Saya hanya akan terjebak dalam ilusi berkarya, padahal sejatinya belum menghasilkan apa-apa.

Nah, mumpung kita akan membuka lembaran baru di tahun 2020, saya membuat resolusi yang salah satunya adalah setia dengan satu ide hingga ia berwujud menjadi karya. Saya harus lebih berkomitmen dan telaten dengan satu ide hingga menjadi naskah yang selesai. Bukankah karya yang baik adalah karya yang selesai ditulis?

Tentunya, harus dimulai dengan membuat skala prioritas berdasarkan kondisi dan kesibukan saya di masa mendatang. Lalu menjalankan tahap demi tahap secara sabar, kemudian baru mengerjakan ide lain, setelah ide sebelumnya telah selesai.

Ternyata, punya banyak ide, kalau lemah dieksekusi, sama juga bohong ya? Kalian punya pengalaman yang sama? Silakan share di kolom komentar ya!

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published inLiterasi Berdaya

16 Comments

  1. Kalo saya biasanya tetiba dapet ide nulis sesuatu kalo nggak segera di eksekusi bisa cepat hilang.
    Atau uga biarpun langsung di tulis kadang ide hilang dan kembali kayak sinyal gitu.. hehe

  2. heheheh… kaya akan ide kalau nggak di eksekusi emang sama aja bohong ya. Ide sih banyak di sini (sambil tunjuk jidat) tapi wujud jadi dalam bentuk tulisan nggak ada. Saya juga sering gitu. Ntar klo dah mepet deadline, baru deh di eksekusi. Jadinya ya nggak bisa maksimal tentu saja

  3. Ide hanya sebatas mimpi tanpa realisasi ya mbaaa. Makanya harus ngotot juga kalo jadi blogger atau penulis itu. Ngotot buat giat menulis. Hihihi. Sampai sekarang diriku juga terus berusaha konsisten. Ide banyak, tapi eksekusinya masih maju mundur cantik kayak Syahrini.

  4. Dulu aku rajin nulis di notes kecil bila ada ide. Entah sekarang kok males yah…
    Mau nulis kadang ya nulis aja. Dulu pakai bikin mind-map segala.
    Kayaknya, perlu lagi nih menggali ide-ide. Makasih remindernya…

  5. Sama aku juga termasuk yang gampang banget nemu ide, tapi untuk eksekusinya itu yang justru lebih susah untuk dilakukan dibanding mencari ide.

  6. Sama kak … sering dapat inspirasi tetibaan.. trus ga langsung di eksekusi…minimal lupa lagi.. dan menguap begitu saja.. tapi untungnya ga jadi penyakit… cuman suka ngeh aja… :dulu kayaknya pernah terbersit dech ide ini”…

  7. Ide itu mahal, banyak orang yang mau membayar untuk sebuah ide. Di sisi lain, ada orang dengan ribuan ide yang terus berseliweran tanpa dibendung. Benar memang ide harus dirawat, lebih baik kalau membesarkan satu ide dan apabila ada ide di tengah jalan, ditangkap dulu, dikurung, dicatat sehingga tidak lupa. Tidak perlu dieksekusi, yang penting tidak lupa dulu, biarkan fokus sama satu ide aja. Kali aja ada yang membeli ide kita

  8. Kalau ide sih banyak banget, tapi eksekusi buat menuliskan ide itu yang kadang gak sempat. Kalau lagi senggang kadang idenya sudah gak relevan lagi akhirnya gak jadi nulis

  9. Dari sebuah foto saya sering banget dapat ide, akhirnya menuliskannya di blog supaya gak ilang ideya

  10. Kalau kebanyakan ide dan tak dieksekusi sama juga bohong ya kak,terus gimana yang tidak pernah punya ide ya , ada tidak ya kak?

  11. Ah ya ya
    Baca inj aku jadi serasa tertampar
    Banyak sekali ide yang numpuk di kepala, lalu akhirnya menguap karena gak dieksekusi. Maluuuu aku baca artikel ini huhuhu
    Semoga 2020 lebih produktif

  12. Sbg ex blogger, ide mesti dibarengin sama waktu kosong kynya. Ternyata meluangkan waktu lbh susah drpd menemukan ide. Atau malah korelasinya sama niat sih.
    Dulu terakhir nulis 2011, ketika waktu kuliah lg kosong dan lg nyusun tugas akhir. Akhirnya jd beberapa tulisan.
    Alasannya nulis wkt itu simple. “Masa sekian taun kuliah g menghasilkan apapun yg buat d baca org”

    Entah kapan lg di penuhi dengan Tulisan, ide ada d kepala, tp menuangkannya blm tau dan mungkin jd penyakit ujung2nya. Yaitu Lupa hehehe
    Makasih bang lufti sharingnya

  13. Kalau saya, biarkan ide itu banyak. Sebab ide adalah alternatif jalan. Tinggal kita melakukan ekseskusinya disesuaikan dengan prioritas aja. Kalau ekseskusi itu mentok, biarkan ide yang lain berkecambah dan tinggal dieksekusi lagi. Yg perlu diingat, ya tinggal fokus dan tetap komitmen pada prioritas awal.

  14. punya banyak ide tapi gak menyampaikan ke tim atau atasan juga penyakit

  15. ngelesnya gini, kan satu niat baik dicatat pahala, meski ga jadi dilakukan
    jadi, ide saja dulu bolehlah
    wkwkw

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *