Skip to content

Piala yang Terbelah Tiga

Jumat malam, pekan lalu, nyaris tak ada yang berbeda, saya pulang sudah larut malam seperti biasa. Yang berbeda, adalah perasaan bangga dan bahagia, karena artikel yang saya tulis telah diapresiasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam Lomba Blog Pendidikan Keluarga 2018 sebagai Juara I.

Pulang pada Jumat malam itu, agak repot, karena harus menenteng piala, piagam yang sudah dipigura, buku-buku dari Kemdikbud, serta pakaian kotor. Tiba di rumah, seluruh penghuni telah tidur, kecuali istri yang terbangun untuk buang air kecil. Saya sempat bercerita mengenai kegiatan Malam Apresiasi dan menunjukkan piala, sertifikat penghargaan yang ditandatangani Pak Menteri, serta hadiah lainnya.

“Bagus ya,” begitu komentar istri saat menimang piala.

“Kayak menang Oscar,” saya nyengir.

Sabtu pagi, saya masih ingin leyeh-leyeh di kasur, tapi si kecil sudah minta diperlihatkan piala. Saya menunjuk kotak persegi panjang berwarna biru, di atas rak buku anak.

Kotak itu kemudian dia ambil, dan diletakkan di atas lantai. Saya dengar bunyi “buk…” seperti pesawat yang landing dengan keras tak sempurna. Kemudian saya hampiri dengan sedikit perasaan khawatir.

“Kok pialanya patah tiga, bi?” tangan kecilnya membuka kotak bludru berwarna biru itu.

Benar saja, piala yang semalam utuh itu, kini terbelah menjadi tiga. Bagian sambungannya, entah bagaimana ceritanya, terlepas. Saya hela napas pendek, sambil menerka bahwa bunyi “buk…” tadi itulah sebagai penyebab piala itu terbelah.

“Kinar gimana sih, kok jadi rusak begini?”

“Lain kali kamu harus hati-hati ya…! Ini kan susah payah didapat!”

Saya membayangkan, bagaimana bila saya menghardik putri kecil empat tahun itu. Ia pasti akan terluka. Hatinya bisa terbelah banyak, bukan hanya tiga bagian seperti piala itu, dan bisa jadi, akan sangat sulit untuk merekatkannya.

Dari yang pernah saya baca, kemarahan atau suara keras bisa mengganggu perkembangan otak si kecil. Menurut Martin Teicher, seorang profesor psikiatri di Harvard Medical School, ketika orang tua berteriak kepada anak-anaknya akan terjadi kerusakan struktur otak pada anak. Pada otak anak yang sering dibentak, saluran yang menghubungkan otak kanan dengan otak kiri menjadi lebih kecil. Hal ini mempengaruhi area otak yang berhubungan dengan emosi dan perhatian. Perubahan ini pada saat anak dewasa akan menyebabkan kecemasan, depresi, dan gangguan kepribadian, resiko bunuh diri dan aktivitas otak yang mirip dengan epilepsi.

Penelitian yang dilakukan Lise Gliot dari Fakultas Kedokteran Chicago juga menyebutkan bahwa, memarahi anak dapat mengganggu struktur otak anak. Malah pada anak yang masih dalam pertumbuhan otak yakni pada masa golden age yaitu 2-3 tahun pertama kehidupannya, suara keras dan membentak yang keluar dari orang tua dapat menggugurkan sel otak yang sedang tumbuh.

Akhirnya saya bisa tersenyum.

Saya yakin sekali, bahwa putri kecil yang akan segera menjadi kakak itu, jauh lebih berharga dari piala akrilik yang bisa diperbaiki itu. Dan tentu saja, menjadi ‘juara’ dan mendapat apresiasi di rumah, dari anak-anak dan istri, jauh lebih berharga dari apapun juga. Setuju?

Bukankah, menjadi ayah dan suami juara, yang terus saya perjuangkan sampai hari ini? Meski harus ngantor setiap hari dengan jarak pergi-pulang 60km.

Tanpa mengurangi rasa hormat, tentu saja, saya berterima kasih dan merasa bangga, telah menjadi bagian hebat dalam lomba yang dihelat Kemendikbud 2018. Tak hanya saya, keluarga, ibu, kakak dan sahabat saya di Books4Care dan kolega di kantor, juga bangga kalau temannya yang rendah diri ini bisa mengukir prestasi.

Sebagai informasi terakhir, beruntungnya, tetangga kami ada yang menjadi pengrajin hiasan berbahan akrilik, sehingga dengan mudah bisa minta pertolongannya untuk memperbaiki piala itu.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published inAyah Under-Construction

One Comment

  1. Anak lebih penting dari piala ya mas, fiuh artikelnya bergizi pisan..reminder banget..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *