Skip to content

Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini: Bukan Review Film

Sebelum kalian baca lebih jauh, saya tegaskan, ini bukan review film yang tayang mulai 2 Januari: Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI). Tapi, ini soal pengalaman yang saya dan keluarga alami. Kalau ada kesamaan plot, cerita, tokoh dan latar, bahkan judul tulisan ini, kebetulan saja.

Judul ini, sejujurnya tidak terinspirasi dari film yang didadaptasi dengan novel yang sama. Tapi, dari ujaran saya kepada anak-anak pada suatu ketika, “Nanti kita cerita ya tentang hari ini. Pasti seru.”

Jadi begini ceritanya. Sejak punya anak, kami selalu mengunjungi emak di akhir pekan. Kadang tiap bulan, kadang dua pekan sekali, tergantung kesibukan. Menempuh jarak Serpong – Kramatjati sekitar 30-an km, kami selalu naik motor. Kebiasaan yang sama masih kami lakukan ketika punya anak kedua dan telah pindah ke Depok, menempuh Sawangan – Kramatjati sekitar 27-an km.

Pernah suatu ketika, kami hendak berjalan-jalan. Seperti biasa, formasi di motor, si sulung di depan saya, sementara adiknya digendong istri. Kami berpapasan dengan tetangga yang mengendarai mobil, saat hendak keluar kompleks. Mereka juga pasangan muda dengan dua anak, sama seperti kami.

Saya dahulukan tetangga itu. Lalu saya bertanya ke istri, “Kamu nggak malu kita cuma naik motor?”

“Nggak. Biasa aja,” senyumnya terlihat dari spion kiri motor. Jawaban yang bikin saya lega dan bahagia dengan kesederhanaan kami.

Soal memiliki mobil, saya kira menjadi impian banyak keluarga. Namun, tiap keluarga tentu punya pertimbangannya masing-masing dalam cara memilikinya. Ada yang beli secara kredit, ada yang cash. Ada yang beli mobil baru, ada yang second.

Begitu juga kami, keputusan membeli mobil buat kami bukan keputusan yang mudah. Meski emak, atau saudara dan kerabat yang melihat kami umpel-umpelan berempat di sepeda motor, sudah menyarankan agar kami mengambil kredit mobil.

Baca juga:

Kredit lagi? Ah, rasanya berurusan dengan bank dan cicilan sudah malas rasanya. Rumah kami pun belum selesai masa KPR. Masa mau berutang lagi? Memang, secara keuangan, masih bisa kredit mobil. Tapi, rasanya untuk barang konsumtif seperti mobil yang nilainya pasti turun, berutang bukan cara yang menguntungkan. Jadi, itu bukan pilihan keputusan kami.

Tak hanya berdesak-desakan, kalau sedang bermotoran, kalau hujan, kami juga suka berteduh. Biasanya, saya memutuskan istri dan anak-anak naik taxi online untuk meneruskan perjalanan, sementara saya akan hujan-hujanan. 🙂

Kini, kami sudah beranak tiga. Si sulung sudah 9 tahun lebih, nomor dua sudan 5,5 tahun dan si kecil 1 tahunan. Motor bebek matic yang kami miliki jelas tak mampu menampung kami berlima untuk perjalanan jauh, misalnya ke rumah emak. Tak mungkin. Kalau ke rumah emak, biasanya kami naik taxi online, atau naik commuter line.

Kami pernah berlima naik motor pergi ke tukang bubur yang berjarak 3 km dari rumah. Shock breaker motor yang cuma sebatang itu rasanya sudag megal-megol. Saya tanya ke anak-anak, apa mereka malu atau tidak?

Si sulung malah bilang, “Seru!” Adiknya juga tak protes. Tapi yang kasian istri, karena posisi duduknya harus berebut dan ia hampir tak kebagian. Untuk membesarkan hati mereka, saya bilang, “Nanti kita cerita ya tentang hari ini. Pasti seru. Kalau sudah punya mobil, kita bersyukur karena sudah nggak umpel-umpelan lagi. Nggak kepanasan dan nggak kehujanan lagi.”

Alhamdulillah anak-anak bisa mengerti dan tidak mengeluh dengan keputusan orangtuanya untuk menambah cicilan dengan kredit mobil.

Sabar ya nak. Suatu hari kita akan cerita tentang hari ini, dengan perasaan penuh syukur atas limpahan karunia-Nya.

(Visited 1 times, 97 visits today)
Published inAyah Under-Construction

25 Comments

  1. Wah sama nasibnya, tapi saya baru punya anak satu. Kalo ke rumah saudara emang sih agak gimana gitu. Tapi ya mana bisa kredit mobil, bikin garasinya aja belum sanggup.

    Akhirnya disyukuri aja apa yang ada, sebab Tuhan punya cara masing-masing buat memberi kebahagiaan.

  2. Hmmm, memang terakhir adalah kembali ke masing masing kita.. nyaman dengan keadaan dan bersyukur dengan yang dimiliki. Persetan kata orang ya kak…

  3. Sehat dan bahagia selalu ya kak buat keluarga. Seru ya kak baca ceritanya memang harus umpel2 an dulu gpp yang penting ga nambah utang kak, ya kalau mampu beli cash tapi ya harus nabung dulu. Semoga impiannya tercapai kak beli mobil cash dan kprnya segera lunas . Met menjalani tahun 2020

    • Lufti Avianto Lufti Avianto

      amin, makasih kak inna. semoga kak inna dan keluarga juga sehat2 dan tambah bahagia

  4. Yang paling penting adalah kebersamaan, apapun kegiatan yang dijalani dengan model apapun kalau dilakukan bersama dengan keluarga tercinta pasti jadi lebih menyenangkan

  5. Cerita hari ini akan jadi pengalaman yang menyenangkan dan dikangenin di masa depan

  6. Untuk membeli barang atau sesuatu memang harus dipertimbangkan baik-baik apakah benar-benar butuh atau tidak dan menyesuaikan dengan keuangan di keluarga.

  7. Baca tulisan ini jadi ingat keluarga kakak sulung saya. Dari dulu kalo mengunjungi emak, yang jaraknya sekitar 90 km, selalu pake motor berempat. Sekarang anak pertamanya sudah 10 tahun, anak kedua 3 tahun. Akhirnya belum lama ini diputuskan beli mobil, walaupun bukan mobil baru.

  8. Yang penting selalu rukun ya, urusan punya mobil emang impian semua orang. Karena nggak kehujanan atau kepanasan.
    Tapi kredit mobil menyampingkan kebutuhan pokok,saya rasa itu nggak terlalu baik.
    Saya mudik kerumah orang tua atau mertua biasanya dimoment hari raya idul fitri.
    Karena jakarta-jambi dan jakarta-bengkulu membutuhkan waktu yang lama dan budget juga

  9. Nice mas, saya juga pas pertama kali baca Buku NKCTHI jadi terinspirasi untuk mengabadikan setiap moment bersama keluarga, anak dan orang-orang terdekat saya. Karena pasti nanti kita akan tersenyum mengingat setiap moment yang dijalanin setiap harinya saat ini. Semangaat, semoga 2020 ini menjadi tahun kebahagiaan, kesuksesan dan berkah kelancaran rejeki untuk kita semua ya.

  10. Lumayan juga Serpong – Kramatjati
    Tapi kalau dijalani dengan ikhlas dan dinikmati penuh kehangatan keluarga mah pasti asyik-asyik aja ya, mas
    Selalu suka sama cerita keluarga seprti ini. Akan jadi kenangan indah di masa depan

  11. wah .jadi ingat jmn ayah saya.. saya dua bersaudara dulu tinggal di Sungai Gerong SumSel…sebuah perumahan BUMN di tengah hutan..setiap akhir bulan kami berempat naek motor ke Kota Palembang yg berjarak puluhan km..untuk belanja kebutuhan dapur… pernah suatu malam hujan deras karena kanan kiri hutan ayah saya nekat tetap bermotor menembus gelapnya malam.. alhasil kami semua kehujanan walopun sdh pake jas hujan…tp pengalaman itu jadi bikin teringat sampai kini….semangat ya kak..nanti untuk anak2 nya akan jadi cerita indah. untuk dikenang..

  12. Rasanya senang banget satu demi satu cicilan lunas. Trus engga mau kredit apa-apa lagi. Biarin diledekin mobilnya kok begini.
    Yawsudah…

    • Lufti Avianto Lufti Avianto

      betoooooolllll 🙂

  13. Cerita yg manis, Mas… saya dan suami juga pernah merasakan hal yg sama. Meski akhirnya punya mobil itu juga diniatkan buat anak2… insyaallah kayaknya dimudahkan banget punyanya kl demi anak2 gak kepanasan/kehujanan. Kami berdua berjibaku mengusahakan agar beli mobil dr rezeki yg halal. Berusaha utk tetap mandiri jd saat berhasil beli ya Allah bersyukurnya luar biasa dan anak2 senengg banget.

  14. Susah senang bersama, itulah keluarga. Tapi bagi saya, asal bersama keluarga, rasanya senang terus. Hehehe.

  15. Ada ya buku NKCTHI? Wah jadi pengen baca.
    Setelah baca ini jadi sadar bahwa Letak kebahagiaan bukan pada kendaraan, tapi keikhlasan dalam menerima apa yang Allah SWT berikan. Mungkin jika kita ikhlas dan mensyukuri apa yang Allah berikan, orang2 sekitar lingkaran juga ikhlas dan mensyukuri apa yang kita berikan kepada mereka. Jika kita tidak ikhlas dan tidak beryukur terhadap kenikmatan yang Allah SWT berikan, maka orang sekitar juga tidak merasa ikhlas dan bersyukur terhadap apa-apa yang telah kita berikan kepada mereka.

    Yes makin banyak kredit makin banyak pikiran. Yang beli mobilpun belum tentu bahagia. Sebagian mereka dibingungkan dengan kewajiban cicilan

    Hmmmm, BTW nikah asyik ya?hehehehe bisa pacaran tiap detik

    • Lufti Avianto Lufti Avianto

      iya, nikah asik mas, seru kok, semua dilalui bersama, belajar dan memperbaiki kesalahan bersama

  16. Justru cerita-cerita yang kaya gini nih bakal berkesan banget sampe anak cucu, apalagi kalo lagi kumpul keluarga besar.

  17. Wah, aku punya cerita yang lumayan mirip!

    Thanks banget sharingnya ttg penting gak penting punya mobil dan kebahagiaan sekeluarga kak 🙂

  18. Setiap kejadian dngan orangtua akan menjadi kenangan bagi anak. Indah tidaknya, itu tergantung pada kelekatan ortu pada anaknya.

    Semoga segera mendapatkan yang diinginkan.
    Aamiin

  19. Amir Amir

    Kalau saya pribadi juga enggan sekali untuk membeli barang yang kelihatannya kurang perlu. Misal motor nih ya. Asal sudah layak jalan, sudah bersyukur banget. Angsuran bulanan untuk menuruti keinginan, seringkali membebani dan membuat kita bekerja lebih keras.

  20. Jadi ingat keluarga cemara 😁

  21. Fadli Hafizulhaq Fadli Hafizulhaq

    Saya suka dengan gaya bertutur Mas Lufti, mengalir dan menarik. Oh ya, memang terkadang kita suka digoda oleh gengsi mesti begini dan mesti begitu, bagaimana pandangan orang dan sebagainya. Yah, kadang mesti belajar masa bodoh gitu, kita lebih tahu yang kita butuhkan

    • Lufti Avianto Lufti Avianto

      makasih mas Fadli.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *