Skip to content

(Hari ke-2) Namaku Utang

Aku terkesiap, mecoba mencari-cari kartu berwarna biru itu di tas. Seingatku, kartu tagihan itu ada di salah satu buku pelajaran. Dua menit kemudian, akhirnya kutemukan, lalu kutemui emak di dapur yang sedang menggoreng tempe.

“Mak, ini kartu bayarannya. Lupa, keselip.”

Perhatiannya tak bergeser pada tempe-tempe yang mulai berwarna cokelat bermandikan minyak panas. “Kapan batas akhirnya?”

“Hari ini,” aku nyengir.

Ia menoleh cepat. “Gimana sih kamu…?!”

Pikirannya pasti membisiki, kalau ada urusan yang namanya uang, mestilah harus diurus jauh-jauh hari. Apalagi setelah ritual tanggal muda selesai, artinya sudah tidak ada pos lagi yang bisa dibayarkan. Sebenarnya, iuran sekolahku sudah ada posnya, hanya saja saat awal bulan itu, kartunya terselip sehingga pos iuran digunakan untuk kebutuhan lain. Otomatis, saat kebutuhan itu minta dipenuhi, mencari pinjaman selalu menjadi solusi.

Tempe diangkat, lalu emak mematikan kompor. Ia lap tangannya dengan serbet, lalu berjalan cepat keluar rumah. Aku mengekor di belakangnya dengan perasaan bersalah.

Aku tahu tujuannya, rumah Bu Titin, pengusaha kue basah asal Surabaya, yang berjarak tiga rumah di sebelah timur.

Pagi itu masih gelap, emak membuka slot kunci pagar besi rumah itu. Lalu masuk ke pekarangan dan mengetuk pintu dengan irama tiga per empat. “Tiiiiiin…. Asalamualaikum…”

“Wa alaikum salam, masuk saja, ndak dikunci.”

Emak to the point. “Ada duit ngga Tin? Anakku belum bayaran.”

Bu Titin melirikku di depan pintu. “Ada, piro?”

“Empat-lima.”

Duit bergambar Pak Harto lalu berpindah tangan. Lalu kami pamit.

Emak menceramahiku pagi itu. “Lain kali jangan mendadak.”

Lain waktu, adegan serupa juga terjadi. Kali ini untuk biaya yang lebih besar, study tour. Padahal itu cuma jalan-jalan yang diwajibkan sekolah bagi anak-anak kelas II SMA. Aku perlu 450 ribu.

Kali ini, sang dewi penolong adalah Budhe Sumiati. Ia datang ke rumah, sore-sore menjelang maghrib. Ia masuk ke rumah dengan menimang kaleng susu besar, seolah seperti cucunya yangbaru lahir. Hati-hati sekali. Kami tertawa saat melihatnya.

“Ini bukan sembarangan kaleng susu,” matanya menyipit, tangannya merogoh ke lubang. Saat ditarik, beberapa lembar rupiah, terjepit di jari-jarinya. Kemudian mulutnya komat-kamit seperti dukun beranak, dan 450 ribu telah berpindah tangan.

“Duh, mba, aku ngga tahu kapan bisa bayarnya. Yang kemarin saja belum lunas,” emak menghitung duit beberapa lembar itu dengan wajah yang sungkan.

“Lo tenang aje. Kan gue banyak duit.”

Memang Budhe Sum terbilang berada. Apalagi dua anaknya sudah bekerja, yang rutin memberinya uang jajan.

“Itu kan sisa-sisa belanja ama duti dari anak gue. Lo tenang aje. Bayarnya kalo lagi ada aje.”

“Makasih ya mba.” Emak tak berhenti berterima kasih, sampai Budhe Sum pamit pulang.

Gali lubang tutup lubang mencari utangan, sudah menjadi rutinitas emak bila ada keperluan mendadak; beli buku, study tour, atau biaya pengobatan kalau ada di antara kami yang sakit. Bude Sumiati dan Bu Titin adalah dua sahabat emak yang sering menjadi ‘pelabuhan’ terakhirnya. Merekalah, dua nama tetangga kami yang takkan kulupa, sebab bantuan mereka di kala sulit itu, sering kami terima. Mereka juga tak pernah menagih.

Bagaimana dengan saudara emak?

Lamunanku ditabrak oleh ingatan di satu malam di awal bulan. Kakak ipar emak –pakdheku- datang dengan vespa birunya ke rumah. Emak yang menemui. Aku mengintip di balik tembok.

Suaranya terdengar putus-putus.

“Sudah ada belum?”

“Oh iya mas, sebentar…”

Lalu emak masuk kamar, melewatiku, lalu keluar melalui pintu belakang dan lari ke pelabuhan terakhirnya. Kemudian masuk ke rumah melalui pintu belakang, membawa uang yang dilipat-lipat, dan menyerahkannya ke pakdhe. Lalu vespa biru pergi dengan suara knalpot yang meraung-raung.

Emak duduk di ruang tamu.

Aku tahu, emak baru saja menambah utang barunya pada tetangga.

Lain waktu, aku juga beberapa kali mengantar emak ke kampung. Sambil menziarahi makam bapak, ternyata emak juga ada maksud lain, meminta pinjaman dari adik iparnya yang juga pamanku. Yang kuingat kala itu, jumlahnya ratusan ribu sampai sejutaan rupiah. Jumlah pinjaman yang besarnya dua hingga tujuh kali lipat dari gaji bulanannya.

Aku menjadi saksi perjuangan emak. Lubang yang lama belum menutup, sudah ada lubang lain yang menganga. Kadang ia tutup dengan hasil galian lubang lain, karena lubang lain sudah minta ditutup. Kadang dicicil, kadang dibayar dengan arisan.

Sumber foto: Nicepik

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published inMemoar Emak

17 Comments

  1. Seperti menggantung, Mas, padahal menarik dan bikin penasaan bagaimana kisah akhir pinjam uang ke paman, berhasilkah?
    Ah, hidup penuh dengan perjuangan keras. Kisahnya disampaikan dengan mengalir lalu tahu-tahu sudah selesai dengan akhir yang jadi tanda tanya.,

  2. Realita jaman now banget ya kak, hutang. Gali lobang tutup lobang. Belum lagi yang kena kasus pinjaman online yang sadisnya lebih paraah dari rentenir.

  3. Mas, ini cerpen yaaaaa. Real bangetttt dalam kehidupan nyata. Panjangnya juga pas. Saya suka nih nungguin lanjutannya. Hehehe

  4. emang kadang kebaikan tetangga itu melebihi saudara. Berbahagialah karena memiliki tetangga yang sangat baik

  5. yang namanya utang memang kadang tak bisa dihindari.. jangankan orang miskin, orang kaya pun kadang masih utang… utang memang bikin hidup lebih hidup.. 😀

  6. Perjuangan emak
    Tak ada orang yang ingin berhutang
    Emak melakukan itu tentunya karena ada alasannya
    Terimakasih sudah menuliskan ini ya
    Membuat aku merasakan kasih sayang tulus seorang ibu dari perjuangannya itu

  7. Ini kisah nyata? Kok jadi sedih bacanya.
    Udah jarang ada orang berhati emas Yang mau ngutangin orang lain.

  8. Terharu baca tulisan ini. Semoga Emak selalu sehat ya dan berkat terus berlimpah bagi Emak sekeluarga. Namanya ibu pastilah berjuang untuk anak-anaknya. Ikut mendoakan emak dari jauh. Akunya jadi ingat mamaku yang tinggal jauh di seberang pulau

  9. Saya suka ngalirnya cerita ini. Bisa jadi ini ilustrasi artikel di post selanjutnya ya mas? Bagus sih, penggambaran emosi dan suasananya. Ini bukan KBM ya? Hahaha.. nggak sih, saya belum bisa nulis yang smooth gini. Kena banget feel nya. Apalah saya penulis non fiksi apa-apa 😁😁😁

  10. Ceritanya pernah aku alami, semasa aku kecil. Ibu ku selalu gali lubang tutup lubang hanya untuk makan anak anaknya.

    Kenangan itu, menjadi motivasi untuk merubah hidup menjadi lebih baik lagi.

  11. haniwidiatmoko.com haniwidiatmoko.com

    Ibu mertuaku, kata suami, dulu sering titip-gadai emas di pegadaian. Ya gitu untuk biaya sekolah anak-anak. Putra beliau 6, ayah mertua guru. Aku belajar banyak sih dari beliau tentang mengelola uang rumah tangga.
    Eh…ini cerpen atau cerita real ya? Banyak kejadian sih tapi…

  12. Dian Rahayu Permanasari Dian Rahayu Permanasari

    Ya Allah, begini perjuangan seorang ibu. Perjuangan ibu memang tidak ada duanya.

  13. Dian Rahayu Permanasari Dian Rahayu Permanasari

    Sungguh hati teriris baca tulisan ini. Perjuangan ibu memang tidak ada duanya

  14. Saya jadi mengingat masa lalu yang ceritanya tidak jauh beda dengan cerita ini, ibu saya selalu berjuang untuk anak anaknya, dan beliau selalu memberi nasehat pada saya agar pandai pandai mengelola uang, dan alhamdulillah ilmu yang ibu ajarkan membuat saya menjalani Minimalism Lifestyle dan saya tidak pernah bertemu dengan yang namanya hutang hehehe

  15. BIsa saya bayangkan bagaimana perjuangan orangtua dalam membiayai anaknya. Tentunya berat. Saya cukup paham itu meski tak pernah melakukannya. Setidaknya sudah lebih dari sewindu. Karena berat itulah, saya memutuskan berhenti, meski jalan yang satu ini juga dulu teramat sangat jarang.

    Saatnya membayar hutang, Mas, berupa membahagiakan emak.

  16. Aku jika jadi di posisi mba pastinya tidak ingin mendadak jika ingin minta sesuatu todak boleh mendadak pasti dimarahi

  17. Bersyukur banget ya mas bisa punya tetangga baik. Semoga keluarganya selalu bahagia mas. Ah, benar, kasih ibu itu sepanjang masa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *