Skip to content

Mobil dan Pesan dari Langit

Menjelang akhir tahun ini, kami sekeluarga disibukkan dengan hunting mobil bekas terbaik dan yang cocok. Dengan bujet yang sudah ditetapkan, kami mencari mobil yang sesuai kebutuhan kami: irit, mudah perawatan, muat banyak penumpang dan kalau bisa, harga jual kembali yang tak merosot. Maklum, ini mobil pertama kami sekeluarga yang tanpa pengetahuan otomotif dan pengalaman berkendara. Jadi antara bujet, kebutuhan dan keinginan harus dipadukan seharmonis-harmonisnya.

Mengenai bujet ini, kami telah menyisihkan sejak awal tahun. Sampai-sampai, anak sulung kami juga turut menabung. Dari uang lebaran yang didapat dari kerabat, ia titipkan kepada kami.

“Buat beli mobil ya, bi,” ia berpesan, bersemangat.

Kadang, kalau sedang bermotor di jalan, dan macet, ia selalu menunjuk mobil-mobil yang menjadi keinginannya. Dan selalu aku ‘kembalikan ke bumi’ harapannya yang terbang ke langit itu. Aku hanya tak ingin membuatnya kecewa kelak. “Kalau yang itu, ngga cukup duitnya,” sambil melirik X-pander keluaran terbaru.

“Jadi, kita beli mobil apa?”

“Itu…” aku menunjuk sedan Honda City tahun 2000-an.

Dia senyum-senyum.

Sampai akhirnya uang terkumpul pada jumlah yang aku rasa cukup untuk membeli sebuah sedan bekas pabrikan Jepang yang berusia remaja, 15-18 tahun. Oktober lalu, kami mulai mencari di semua situs jual beli online. Menyortir mobil-mobil sesuai kriteria dan kemampuan, lalu sibuk mencatat nomor telepon, menghubungi penjualnya satu per satu.

Penjual pertama kami hubungi. Ia menjawab, “Maaf pak, baru saja laku mobilnya.”

Aku mencoba daftar kedua, ketiga, keempat. Mereka semua menjawab sama. Baru saja terjual, atau kemarin. Ya, baru saja dan kemarin itu agak tipis durasi waktunya. Waktu yang relatif sangat cepat untuk penjualan mobil.

Aku mencoba mencari beberapa calon mobil yang lain. Kemudian dengan pekerjaan yang sama, sibuk mencatat nomor telepon, menghubungi penjualnya satu per satu.

Ada satu penjual yang mobilnya belum laku. Kalau dilihat kriteria, sangat cocok: warna abu-abu, matic, tahun 2003 dan harganya lebih murah dari pasaran. Aku agak curiga, tapi coba dicek saja, toh dekat dari rumah.

Berbekal bantuan jasa montir independen yang kuperoleh dari internet, kami mengecek mobil tersebut. Dari kesan pertama melihatnya, aku berfirasat mobil ini tak bagus. Ternyata diamini sang montir yang melaporkan mobilnya pernah kebanjiran, mesin rembes, pernah ditabrak, ban sudah tipis, dan masalah lainnya.

Perburuan dilanjutkan, dan hasilnya tetap nihil.

Saat itu, aku berpikir, apakah kami sedang membeli sebuah sedan kacang goreng? Sampai secepat itu lakunya? Dengan siapa saya sedang berlomba beli sedan bekas berusia remaja ini? Apakah seluruh dunia sedang mencari sedan yang sama?

Lalu perburuan mobil dijeda sejenak. Emak dan dua kakak perempuanku tahu mengenai rencana kami membeli mobil. Si Nomor Dua menawarkan tabungannya. Si Nomor Tiga menawarkan cicilam tanpa bunga dari kantornya. Tujuannya sama, menaikkan bujet agar bisa beli mobil yang lebih baik, lebih muda, atau kalau bisa yang baru sekalian.

“Kamu mau pinjam di bank? Nanti di-top up?” emak menawarkan.

Aku tertegun. Top up? Ternyata emak punya utang di bank. Cicilannya hampir 2 juta sebulan, sisa tiga tahun lagi masa cicilannya. Ia bayar dengan memotong secara otomatis uang pensiunnya. Ia bermaksud menawarkan penambahan utang demi menambah bujet untuk beli mobil. Aku menolak halus, dengan alasan aku tak mau berutang. Pusing.

Hari demi hari telah lewat. Tapi pikiran emak punya utang, riba lagi, terus bercokol di kepala. Memang, soal riba ini, menjadi perhatian dan kecemasanku dalam tiga tahun terakhir. Riba itu perkara serius yang dianggap enteng banyak orang. Mungkin termasuk emak.

Ada anggapan, “Kalau nggak berutang, nggak bakal punya.” Jadi, semua urusan dikredit. Mau punya panci, furniture, barang elektronik, sampai rumah dan mobil. Untuk beberapa hal, aku sepakat. Misal, utang itu harus tanpa riba. Itu syarat mutlak, pertama dan utama. Kedua, ia harus, atau paling tidak, sebaiknya bersifat produktif atau investatif. Misal, beli motor untuk menunjang usaha, sehingga manfaatnya jelas. Bukan utang yang sifatnya konsumtif, apalagi foya-foya. Tapi, bagiku lebih baik dari itu, ya nggak usah berutang. Belajar sabar, jauh lebih baik kalau memang tak mendesak untuk membelinya.

Nah, soal mendesak tak mendesak, beli mobil itu juga yang terjadi pada kami. Mendesak, karena motor kami tak bisa menampung lima orang, termasuk anak ketiga kami yang baru lahir. Tentu mobil menjadi pilihan yang baik. Jadi tidak mendesak, ketika saat ini pilihan transportasi online menjanjikan banyak kemudahan. Meski akan menjadi lebih hemat bila memiliki kendaraan sendiri.

Beberapa hari kemudian, renungan tentang emak dan utangnya, mengerucut pada, “Apa yang bisa aku lakukan?” Emak sudah 66 tahun. Allah sudah kasih bonus usia tiga tahun, bila merujuk usia Baginda Nabi yang wafat 63 tahun. Tentu, aku tak ingin emak kelak berpulang dalam keadaan terlilit utang riba.

Aku lalu berpikir, mengapa sulit sekali memiliki mobil. Mungkin 8-9 kali, mobil incaran kami tak berjodoh. Dengan jawaban yang mirip: baru saja laku. Seolah, Dia memberi ridho dan memberi pesan bahwa emak harus diprioritaskan.

“Uangnya buat bayar utang emak dulu ya?” aku memberi usul kepada istriku, suatu malam.

“Ya nggak apa-apa,” aku sudah bisa menebak jawabannya. Aku bersyukur memiliki dia. Pendamping hidup yang shalihah, yang tak pernah menuntut dan berat bila tabungan kami diutak-atik untuk kebaikan.

Alhamdulillah, tiba-tiba perasaan lega mengembang di dalam hati. Mungkin ini yang Dia inginkan atas tabungan yang telah kami kumpulkan setahun terakhir.

Sumber foto: averageadvocate

(Visited 1 times, 4 visits today)
Published inMemoar Emak

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *