Skip to content

Merawat bahagia

Yang kau sebut bahagia itu ternyata teramat sederhana. Teramat-amat sederhana malah. Bukan seperti yang digambarkan dalam sinetron teve yang membual dengan angan kemewahan. Seolah-olah semua perempuan seperti itu; materialistis.

Mungkin benar, tapi bagimu salah besar.

Ada, perempuan yang mengaku teramat bahagia karena dibelikan baju, sederet perhiasan, rumah mewah, -yang meski diperoleh dengan kredit-, paket liburan ke luar negeri atau mobil keluaran terbaru, meski juga dibeli dengan cara kredit.

Kalau diperlakukan begitu, kau mengaku, “Ya, senang,” suaramu datar saja, sayang.

Tapi katamu, bukan itu yang membuatmu menjadi perempuan paling berbahagia di jagad dunia.

Justru, saat kau sakit dan aku di sisimu, menuntun tiap langkahmu terapi, adalah kebahagiaan.

Saat kau memintaku, membantumu menggoreng tempe tanpa tepung dengan bumbu air garam seadanya, adalah kebahagiaan.

Bahkan, saat aku mencuci piring bekas makanmu, kau sebut itu bahagia.

“Kau itu terlalu sederhana, cinta!”

Coba pikirkanlah sedikit kemewahan yang kau inginkan!

Baju baru, tak selalu kau beli sepanjang tahun menjelang Hari Fitri. Perhiasan, tak ada yang berbalut di tubuhmu.

Kau tak pernah menuntut. Tak pernah meminta ini-itu.

Duhai, perempuan yang teramat sederhana. Kau rawat bahagiamu dengan perasaan nrimo dan kesahajaan. Bahwa hidup, tak melulu harus berfoya-foya penuh gelimang harta.

Duhai, perempuan yang selalu bertanya, apakah aku punya duit atau tidak saat ingin berbelanja. Karena kau sadar cinta adalah kata kerja, karena itu kau selalu merawatnya.

2017

sumber gambar dari sini

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published in#Instapoetry

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *