Skip to content

Menyuntik Energi Cinta

Rasanya tak berlebihan bila cinta dimasukkan ke dalam salah satu jenis energi. Bila tak sepakat, bisa jadi anda belum pernah merasakan detik-detik bagaimana cinta itu hadir, lalu menyuntik tenaga ekstra untuk berbuat sesuatu bagi orang tercinta.

Satu malam di akhir Januari, adalah salah satu di antara malam-malam yang hebat bagi saya. Memang, sudah beberapa hari sebelumnya, saya berusaha pulang “teng-go”, jam 17 teng, langsung go, agar tiba di rumah tak terlalu larut dan masih bisa melihat kedua anak saya, maksimalnya, bisa main dengan mereka sebelum tidur.

Keinginan itu, mungkin bagi sebagian orang biasa saja. Tapi bagi saya yang bekerja dengan jarak kantor dan rumah sekitar 60 km untuk pergi-pulang, adalah hal yang mewah lagi langka. Selain itu, kebiasan pulang ontime di kantor, adalah hal yang ‘aneh’ akibat menumpuknya tugas yang minta untuk diselesaikan.

Karena sudah sering pulang larut dan mendapati anak-istri yang sudah terlelap, maka hari yang mewah itu, saya bergegas pulang dengan harapan “setengah” bisa mendapati mereka masih terjaga. Ya berharap, ya juga tidak, biar tidak terlampau kecewa, sebab waktu maghrib dan isya di perjalanan, mewajibkan saya harus melipir ke masjid sebentar.

Dan malam itu, ‘sesuatu’ sekali. Setelah tiba di rumah, parkir dan membuka pintu, uluk salam saya pun tak berbalas. Saya sudah siap dengan kondisi yang ‘sudah biasa terjadi dua tahun ini’; mendapati orang-orang tersayang itu tertidur. Masuk ke ruang tengah lewat dapur, saya ucapkan salam lagi, oh ternyata kali ini si sulung belum tidur. Ia masih bermain dengan sepupunya di kamarnya.

Mendengar suara saya, dia langsung bangkit dan berlari menuju saya, kemudian memeluk lalu mencium perut saya yang tepat di depan wajahnya. “Sayaaaang abi,” katanya mirip Upin-Ipin yang memeluk Opa.

Saya balas dengan mencium ubun-ubun dan punggung tangannya. Ya, Nabi meminta kita untuk pula menghormati anak-anak. Jadi, saya biasakan anak-anak, setelah dia mencium punggung tangan saya, balik saya cium punggung tangan mereka sebagai tanda cinta.

Beberapa detik kemudian, dari kamar sebelah terdengar suara. Kali ini si kecil yang bangun tidur, sambal memanggil-manggil. “Abi… Abi…” Suara kecilnya bikin hati tambah gemas. Sambal mencopot tas, saya perhatikan pintu kamar terbuka. Malaikat kecil itu sempoyongan berjalan, karena masih mengantuk, menghampiri saya, memeluk, kemudian menempelkan pipi kanannya pada pipi kiri saya.

Nyesssss.

Ada hawa sejuk mengendap-endap ke dalam bilik hati saya. Ya Allah, seketika penat seharian bekerja, suntuk akibat macet di jalan, lenyap tanpa bekas. Sambil saya gendong, tangannya masih melingkar di leher saya, bahkan rangkulannya makin erat. Ia lalu menunjuk-nunjuk foto keluarga yang diambil dua hari menjelang kelahirannya.

“Abi…Abi…”

“Aih…tu…” menunjuk Farih, kakaknya.

“Ibu… Ibu…”

Bicaranya cadel, lucu sekali. Saya makin gemas, lalu mencium dua pipinya bertubi-tubi. Ia tergelak kegelian terkena kumis tipis yang menggelitik pipinya. “Ayank mana? Ooo masih di perut kan?” terkadang saya memanggilnya “Ayank”, terkadang “Kinkin”, kadang juga “Cawi”.

Untuk nama panggilan yang terakhir, abangnya yang memberikan. Nama Cawi diambil dari nama sebuah burung dalam film kesukaan mereka asal Negeri Jiran, “Pada Zaman Dahulu”. Dia senyam-senyum lagi, tapi masih dengan tatapan sayu mirip bohlam dua watt.

Senyum berikutnya, ada istri berhati baik yang menyambut saya, kemudian menggamit tangan saya dan menciumnya penuh takzim. “Mau minum apa mas? Cokelat?”

Ya saya ingat, beberapa hari sebelumnya dia beli bubuk cokelat kemasan yang enak kalau diminum hangat. Tapi momennya tak pas, karena sudah larut dan bisa bikin lemak menumpuk di perut. Saya yang lagi ‘sadar’ menolak halus. “Air putih hangat aja.” Ah, saya membatin, bagaimana seorang lelaki menikah tak berperut buncit, kalau ia tak selalu bisa menolak perhatian istrinya dalam soal jamuan? Dan saya, adalah satu di antara mereka.

Sejujurnya, momen sederhana inilah yang saya dambakan sebagai cara merayakan bahagia seorang lelaki, suami dan ayah seperti saya. Memang saya sadari, tak semua malam seperti ini, tapi beberapa saja, sudah mampu membuat cinta saya kepada keluarga semakin sehat. Kalau begitu, yang saya catat dari peristiwa itu, adalah bagaimana saya dan istri, juga anak-anak kelak, menciptakan setiap malam, atau paling tidak pada banyak malam, yang menyehatkan cinta kami, sehingga memberikan energi untuk melakukan kerja dan menghasilkan karya dengan penuh cinta.

Ah, mungkin saya akan dibilang, sok romantis, lebay, norak dan lainnya. Biarlah, saya doakan yang bicara seperti itu, diberikan kesempatan menikmati energi cinta, seperti yang saya rasakan.

Saya jadi teringat percakapan dengan salah seorang kawan di kantor. Usianya sudah 28 tahun. Bagi saya, tak ada yang kurang baginya untuk segera menikah. Secara kasat mata, dia mampu; gaji dan pekerjaan yang bagus, kalua itu menjadi indikator, dia sudah mapan. Bahkan berlebih malah. Itu terlihat dari semua yang melekat padanya branded. Semuanya. Mulai dari kacamata, pakaian, parfum, sepatu, jam tangan dan gadget tentu saja.

Dalam sebuah kegiatan, kami terlibat obrolan ringan.

“Sekarang tinggal di mana, mas?”

“Sawangan, pinggir Jakarta.”

Dia menyelidik, “Naik apaan ke kantor?”

“Motor,” jawab saya singkat. Detik berikutnya, saya tahu persis komentar dia.

“Wiiiiih gila. Kuat mas? Kan 35-an kilo tuh. PP 70 km lah.”

Saya jawab serius. “Begini bro, coba lo bayangin. Gimana gue selalu kuat setiap hari PP 70-an km. Belom ditambah macet, atau hujan dan lain sebagainya.”

Dia mulai balik serius memperhatikan.

“Setiap hari, gue selalu dapet vitamin, bukan diminum atau dimakan. Vitamin itu adalah, senyuman dan lambaian tangan anak-istri gue tiap hari, pas brangkat dan pulang kerja. Nah, setiap 1 detik senyuman dan 1 lambaian tangan mereka itu, bermanfaat banget buat nambah kekuatan sampe 5 hari kerja ke depan. Kebayang nggak lo, berapa detik mereka senyum? atau berapa kali mereka melambaikan tangan? Pastinya itu bisa memberi kekuatan ratusan atau ribuan hari ke depan.”

Dia diam. Mungkin berpikir dengan keras tentang sesuatu yang belum bisa dia jangkau dengan pengalamannya.

“Nikahlah bro, pengalaman kayak gitu susah banget gue deskripsiin.”

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published in101 Komunikasi Pasutri

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *