Skip to content

Meniru bapak

Menjadi orangtua, sejatinya bukan karena bisa melahirkan anak (saja). Atau karena ada yang memanggil kita dengan sebutan “ayah” atau “bunda” dan sejenisnya. Lebih dari itu, menjadi orangtua harus dibekali dengan kompetensi mendidik dan mengasuh, dimana pada peran keduanya ada kewajiban dalam memberikan keteladanan.

Sejak hampir 8 tahun lalu menjadi seorang ayah, saya sedikit-sedikit belajar tentang menjadi ayah yang baik dan bisa diteladani anak dan istrinya. Dari figur bapak, dari buku, dari pakar parenting, pokoknya semua ilmu saya serap, dan saya racik sendiri sesuai gaya pengasuhan kami di rumah dan tujuan dalam pendidikan anak itu sendiri.

Dari bapak, saya belajar sosok suami yang helpful kepada istrinya. Bapak saya itu membantu mengurus empat anak, mulai dari memandikan, menyuapi, menyikat sandal anak, sampai mencuci baju dan memasak. Tugas domestik yang dihindari kebanyakan suami, tapi saya banggai karena bapak melakukannya.

Saya pun menirunya. Tentu saja, saya tahu dari cerita-cerita mama, karena bapak meninggal dunia saat saya masih SD kelas dua.

Sejak awal menikah, saya sudah mencuci baju, meski pakai mesin cuci, lalu menjemur pakaian di depan rumah, lantas membantu menggoreng-goreng di dapur, atau sekadar memotong sayur-sayuran. Sekali waktu, saya juga membereskan rumah, menyapu dan mengepel lantai. Kami berbagi tugas, karena tak memiliki pembantu.

Bapak pula yang mengajari anak-anaknya belajar. Ini belum saya lakukan, karena saya pulang hampir selalu larut malam saat anak-sanak sudah tidur. Tapi, saya harus mempersiapkan momen ini sebagai bentuk pendidikan, penanaman nilai-nilai dan membangun kedekatan.

Bapak juga yang memberikan keteduhan di rumah. Benar-benar teduh dengan aneka pohon dan tanaman di rumah. Tiap Minggu, bapak merapikan tanaman, menyapu halaman dan menggarap lahan kosong di sebelah rumah untuk ditanami ketela.

Bapak juga rewel soal ibadah. Shalat dan mengaji di antaranya. Ia bisa mendelik melihat anaknya bolos mengaji di madrasah sore, atau tak segan memecut dengan tiga bilah batang lidi kalau anaknya mangkir shalat.

Soal ini, saya pernah dengar bapak bicara serius ke mama di meja makan, pada suatu malam. “Saya percaya kamu bisa ngasi makan anak-anak kalau saya nggak ada. Tapi, apa kamu bisa menjamin anak-anak tetap shalat?”

Dan kini, saya baru menyadari, keresahan bapak bahwa tak ada hal yang berguna sekalipun bagi seorang hamba, kecuali amal salih, di mana salah satunya adalah anak shalih yang selalu mendoakannya.

Semua kebaikan-kebaikan bapak, sebisa mungkin saya duplikasi. Saya juga belajar dari banyak media lain, pakar dan sebagainya. Karena menjadi orangtua tak ada sekolahnya, tentu saja perlu waktu dan usaha ekstra menjadi orangtua yang baik.

Menjadi orang tua, yang baik tentunya, tak sekadar usia kita yang menua atau karena kita telah punya anak. Menjadi orangtua, sejatinya adalah membangun kompetensi mendidik, mengasuh dan memberi teladan. Bukan hanya kompetensi menyuruh, mengatur dan memaksa.

“Nak, sholat dulu sana.”

“Sekarang, kamu belajar. Lalu membereskan mainan.”

Ada kalanya perintah itu berguna. Tapi kalau perintah tidak diiringi dengan teladan, bisanya akan melahirkan penolakan dari anak, ngambek, merajuk dan ngeyel. Dari pengalaman yang secuil mendidik anak, saya menyadari bahwa semua harus dimulai dengan keteladanan.

Misalnya saja, saya berharap, si sulung yang baru kelas 1 SD ini bisa rajin shalat berjamaah di masjid. Kalau saya tidak memulainya lebih dulu, apa iya anak saya mau melakukannya?

Jadi, saya mulai dengan memperlihatkan, lalu mengajak dia ikut. Hasilnya, si sulung dengan mudah mengikutinya.

Sosok bapak, memang lebih banyak saya dengar dari mama. Bapak meninggal saat saya belum genap 8 tahun, saat baru saja naik kelas dua SD. Meski hanya mengenal bapak dalam waktu singkat, saya bisa menebak apa yang membuat mama jatuh cinta dan memilih setia dengan seorang suami seperti bapak.

“Selain ganteng, bapak itu rajin shalat, bersih, rapi dan suka membantu mengurus rumah.” Mama selalu komentar begitu.

Itu semua bapak berikan, lantaran ia tahu betul bahwa kebahagiaan seorang perempuan yang telah menjadi ibu dan anak adalah sosok suami dan ayah yang helpful, dan shalih seperti bapak.

 

 

Ilustrasi gambar bersumber dari sini

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published inAyah Under-Construction

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *