Skip to content

Menggerakkan kebaikan dari rumah

Sejak Rabu, 18 Maret 2020, instansi pemerintahan tempatku bekerja memutuskan seluruh pegawainya bekerja di rumah. Segala aturan, mekanisme kerja, bahkan peralatan kerja, diatur agar para pegawai tetap bisa menjalankan tugasnya di rumah.

Ini hari ketiga aku bekerja di rumah. Aku sudah mulai efisien bekerja di rumah. Menulis berita, yang bahannya bisa kudapatkan dari obrolan pesan singkat dan email. Lalu rapat dengan kolega dan atasan via telepon atau konferensi video.

Aku merasa banyak waktu yang bisa dihemat. Kalau ngantor seperti biasa, jarak rumah-kantor sekitar 60 km dengan waktu tempuh sekitar 3-4 jam sehari. Itu pun pulang dengan kelelahan, stress atau kesal karena kondisi jalanan yang tak bersahabat. Nah, dengan bekerja di rumah, aku merasa lebih produktif dan tak mudah stress.

Jumat itu, aku mendiskusikan mengenai rencana program tantangan menulis (writing challenge) yang akan diluncurkan bersamaan kegiatan peluncuran bedah buku. Karena wabah virus corona Covid-19 ini, akhirnya kegiatan itu ditunda.

Aku mengusulkan, agar tantangan menulis itu saja dulu yang dikerjakan. Dua teman di grup @books4care pun setuju. Akhirnya, saat makan siang, aku sambi dengan membuat poster pengumuman program “Writing for Healing” yang kalau disingkat sama dengan “Work from Home”. Firasatku, pasti akan banyak yang turut karena beberapa alasan.

Pertama, banyak orang yang masih usia bekerja yang akan merasa bosan saat ‘dikarantina’ di rumah. Nah, dengan program ini, orang bisa mengisi waktu luangnya dengan menulis. Kedua, setiap orang pasti memiliki luka hati atau kepahitan hidup. Tergantung cara mereka mengelola perasaan. Jika gagal, maka ia akan cenderung mengalami stress, trauma bahkan depresi. Dan, tentu saja setiap orang ingin bangkit dari kepahitan itu untuk menatap masa depan dan menjalani hari-harinya dengan lebih baik lagi.

Lalu, mengapa tema penyembuhan luka hati? Ide ini tercetus sejak lama sebetulnya, ketika aku membaca buku “Habibie dan Ainun”. Di buku itu, aku baru tahu, ternyata Pak Habibie, seorang teknokrat dan negarawan yang aku kagumi, pernah terpuruk dan nyaris gila setelah ditinggal sang istri tercinta, Ainun.

Kata dokter kala itu, Habibie hanya punya tiga pilihan. Dirawat intensif di rumah sakit jiwa di Jerman. Dirawat di rumah dengan pengawasan ketat dokter dan minum obat-obatan. Atau dengan terapi menulis untuk membuat dirinya plong dan bisa menerima kenyataan.

Dan, Habibie memilih cara yang ketiga.

Setelah itu, kita tahu bahwa buku itu kemudian difilmkan dengan judul yang sama dan meledakkan inspirasi tentang romantisme, spirit perjuangan dan pengorbanan ke seluruh anak bangsa. Termasuk aku, yang kemudian memutuskan untuk menjadi abdi negara setelah menonton film itu.

Sabtu, 21 Maret 2020, aku merapikan seluruh konten yang diperlukan untuk publikasi di Instagram kami. Sambil tak lupa, mengontak calon narasumber untuk mengisi kuliah online melalui grup whats’app. Kami merencanakan, program ini akan berjalan selama 15 hari, yakni sejak 1-15 April 2020. Ada masa 10 hari untuk promosi di media sosial agar banyak peserta yang ikut.

Dalam tantangan ini, para peserta akan mendapatkan tiga materi tentang terapi menulis, penulisan kreatif dan swasunting, serta mentoring atau pendampingan oleh penulis dan wartawan profesional. Sejak program ini diluncurkan Sabtu sore, aku terus memantau perkembangan jumlah peserta.

Sebagai “orang komunikasi”, aku manfaatkan betul media sosial. Apalagi, di masa-masa seperti ini, dimana semua orang harus di rumah saja. Pasti bosan, dan kalau sudah begitu, pasti mereka akan berselancar di media sosial.

Aku membuat beragam konten yang tak hanya informatif, tetapi juga kreatif dan ‘provokatif’. Kalau konten informasi tentang apa acara itu, di mana, kapan, siapa saja yang akan jadi narasumber, pasti dilakukan. Namun, aku juga membuat kaver calon buku, dimana karya peserta akan bermuara. Dengan caption, “Mau nama kalian ada di buku ini?” ternyata mampu menyedot perhatian orang.

Dan benar saja perkiraanku. Dari hari ke hari, jumlah peserta melonjak dari yang kami targetkan sebanyak 25 orang. Jumlah itu terus bertambah menjadi 30, 40, dan hari ini, Minggu 29 Maret 2020 terdata sebanyak 84 orang telah mendaftar!

Selain bahagia, tentu saja aku bingung bagaimana mendampingi peserta sebanyak itu. Tentu saja, kami bertiga di @books4care dan beberapa kawan penulis yang jadi mentor takkan sanggup meladeni. Rasio antara mentor dan peserta cukup timpang. Akhirnya kami putuskan untuk menambah jumlah mentor. Toh, semua pendampingan itu dilakukan via online, sehingga tak terlalu merepotkan.

Aku bersyukur memiliki banyak kolega penulis dan wartawan yang baik hati dan tulus. Jujur saja kusampaikan, bahwa kau membutuhkan bantuan mereka untuk ‘misi suci’ ini. Loh kok misi suci? Ya, mendorong orang untuk menulis dan menerbitkan buku, buat aku pribadi adalah misi suci. Ia makin suci, karena ini dilakukan dengan nonprofit. Artinya, peserta kami gratiskan, begitu juga para mentor yang tak kami bayar. Kami tak mendapatkan sponsor apa-apa. Karena, inilah jalan yang kami pilih untuk berjuang di jalur literasi.

Sejauh ini, kami biayai kegiatan @bookscare dari kantong pribadi. Mulai dari ongkos transportasi untuk mengajar kelas menulis, konsumsi rapat, bahkan membiayai program tantangan menulis sebelumnya.

Beberapa penulis dan wartawan yang kenal dari kegiatan atau mantan kolegaku di majalah dulu, aku kontak. Hati-hati sekali aku sampaikan permintaanku yang mungkin akan menambah kesibukannya. Alhamdulillah, aku berucap syukur berkali-kali, ketika satu demi satu kawan mengiakan untuk ambil bagian dalam kegiatan sosial ini. Aku terharu sekaligus bahagia, ternyata masih banyak orang yang berhati mulia. Mereka tak dibayar!

Aku doakan dalam hati, semoga kesehatan, kelancaran rezeki dan keberkahan hidup menyertai dia dan keluarganya.

Hari ini, kami semua tak sabar untuk mempersembahkan sesuatu bagi bangsa melalui jalan literasi. Banyak peserta yang sudah tak sabar menunggu hari dimana kami akan menantang diri untuk menulis lalu menerbitkan buku. Tentu saja, mereka yang tak hanya ingin karyanya dibaca, melainkan juga yang ingin sembuh dan bangkit dari luka dan kepahitan hidup di masa lalu.

Satu hal yang ingin saya sampaikan dari kaum rebahan, bahwa betul, di rumah saja sangat baik di masa mewabahnya virus corona Covid-19 ini. Tapi alangkah jauh lebih baik lagi, apabila kita tak hanya rebahan di kasur yang empuk sambil menikmati tontonan favorit, melainkan kita gunakan sumber daya yang kita punya, untuk bergerak, bahkan menggerakkan orang lain untuk misi kebaikan.

Saya teringat ajaran agama saya. “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim No. 1.893).

Photo by Ashkan Forouzani on Unsplash

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published inLiterasi Berdaya

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *