Skip to content

Mengapa si Sulung Pindah Sekolah?

Awal tahun adalah awal semester kedua bagi anak-anak sekolah. Tahun baru 2019 ini, juga akan menjadi pengalaman baru bagi anak kami, si sulung, karena ia akan pindah sekolah ke Sekolah Dasar Islam Pioneer, Depok.

Beberapa kerabat dan teman bertanya-tanya, “Kenapa pindah?”

Untuk menjawab ini, tentu harus menggunakan dalil bahwa, “Setiap orangtua selalu ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya.” Sehingga, keputusan apapun yang diambil terkait masa depan anak, tentu sudah dipikirkan masak-masak. Termasuk dalam urusan pindah sekolah.

Sebelum saya bahas lebih jauh, kawan-kawan bisa membaca tulisan saya sebelumnya, untuk memahami, kriteria sekolah yang baik menurut kami. Dan keputusan pindah sekolah pada pertengahan tahun kedua, bukan keputusan yang terburu-buru, mendadak atau tanpa pertimbangan.

Lalu apakah sekolah sebelumnya tidak memenuhi kriteria? Mengapa tetap dipilih?

Ini pertanyaan menarik. Sejujurnya, sejak awal memilih sekolah ini, kami tak memiliki banyak pilihan sesuai dengan kriteria kami, ya semacam The best of the worst. Duh, sarkas ya. Saya merasa masih sangat kurang riset dan survey sekolah dalam setahun terakhir. Hingga saya pribadi memiliki kesimpulan, “Sekolah yang bagus di Depok adalah sekolah yang amat-sangat mahal.”

Kenapa begitu?

Karena bila saya perhatikan, sekolah yang memperhatikan potensi tiap anak secara berbeda dan khas, ya dilakukan oleh sekolah mahal. Sekolah yang melibatkan orangtua dalam kegiatan dan pengembangan bakat anak di sekolah, ya sekolah mahal. Sekolah yang membuat model pengajaran dengan konsep dialogis, ya sekolah mahal. Jadi, rasanya tidak berlebihan kalau saya menarik kesimpulan seperti itu. Mahal menurut saya itu, yang biaya total untuk awal masuk di atas Rp15 juta, belum termasuk uang kegiatan setahun, uang seragam, uang buku, SPP bulanan yang di atas Rp1 juta, dan embel-embel biaya lainnya. Duh, Gusti!

Kembali ke pertanyaan, ya kenapa pindah?

Sekolah lama si sulung, kami perhatikan dalam setahun terakhir, masih berkutat pada target nilai dan angka-angka. Di awal, pihak sekolah sih bilang, kalau tidak menggunakan rangking lagi. Tapi, kok ya setiap ambil rapor, guru menunjukkan peringkat anak di kelas. Lah?

Kedua, kami melihat si sulung tidak terpompa potensinya. Secara akademik, bila diukur dengan angka-angka tadi, memang tidak ada masalah. Hanya saja untuk pengoptimalan bakat dan potensi anak, saya tidak melihat ada usaha dari pihak sekolah untuk melakukan scanning atau semacamnya. Pun si sulung gemar latihan taekwondo, tidak mendapat dukungan apapun dari pihak sekolah, saat ia mengikuti dua kejuaraan dan meraih medali perak.

Ketiga, si sulung sempat di-bully oleh seniornya kelas III. Saat kami laporkan ke kepala sekolah, kami merasa tak ada tanggapan dan upaya serius untuk penanganan bully. Padahal, sinyal sangat hijau sudah kami sampaikan bahwa kami siap bekerja sama untuk penanganan persoalan serius ini.

Bagi kami, tidak ada anak yang nakal. Kalau pun ada masalah, kami yakin pasti ada masalah di rumah. Nah ini yang seharusnya ditangani hingga ke akarnya. Bukankah pendidikan di sekolah dan di rumah harus nyambung?

Keempat, tahsin dan hafalan quran yang kurang diperhatikan. Saya bersyukur, si sulung pernah bilang ingin menjadi hafizh quran. Hanya saja, dengan pola pendidikan di sekolah lama, hal ini kurang optimal karena tidak menjadi prioritas.

Kelima, bully dari sopir jemputan, berupa ejekan karena rumah anak kami paling jauh, sehingga si sopir kerap mengeluh dan mengomel di dalam mobil kepada si sulung. Belum lagi si sopir sering merokok di dalam mobil dan memutar lagu-lagu yang bukan diperuntukkan untuk anak kecil. Jadi, tentu saja saya tidak ingin mengorbankan waktu 2 jam di dalam mobil jemputan dengan hal-hal yang merugikan dan tidak mendidik.

Jadi, begitulah ‘drama’ kami di sekolah lama si sulung di awal semester kedua ini. Kami berharap, si sulung bisa kerasan dan menjadi anak yang memiliki karakter sesuai harapan kami.

Untuk ulasan sekolah barunya, di postingan berikutnya ya.

Sumber gambar utama: Vector stock

(Visited 1 times, 3 visits today)
Published inAyah Under-Construction

2 Comments

  1. Sandy Sandy

    Pertanyaan nya yg lama sekolah negeri or Swasta??Dan sdh berapa lama sekolah disana?

    • admin admin

      Yg lama swasta juga, baru 1,5 tahun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *