Skip to content

Mencintaimu Tanpa Syarat

Seorang sarjana ilmu komunikasi, pulang ke rumahnya yang nyaman. Seperti kebanyakan lelaki pada umumnya, ia ingin disambut oleh istri dan anaknya yang baru belajar berjalan, dengan penuh cinta.

Bayangannya melambung pada peluk-cium dua sosok manusia yang ia cintai, air hangat untuk mandi lalu mengakhiri malam dengan makan bersama dengan lampu yang temaram di meja makan kayu jati yang sederhana.

Setiba di rumah, harapan itu lantas menguap dengan kenyataan yang sama sekali berbeda. Ketuk pintu dan uluk salam berulang kali, berbalas kesunyian. Dibukanya pintu yang tak terkunci. Dilihatnya kondisi rumah yang tak ubah kapal pecah. Mainan buah hati bertebaran di lantai, mulai dari ruang tamu hingga ruang keluarga. Lantai pun kotor sebab sisa makanan dan susu yang berceceran.

Kondisi yang tak berbeda juga didapati di meja makan, yang kerap digunakan sebagai “pelabuhan cinta”. Meja jati yang dibeli dengan mencicil itu, sepi. Tak ada sup dan teh hangat seperti yang ia angan-angankan sebagai penghangat dan pelepas kepenatan setelah bekerja seharian.

Ia sempatkan mengintip anak dan istrinya yang terlelap di kamar. Dipandangi wajah-wajah penuh cinta yang telah mengisi hari-harinya beberapa tahun belakangan ini.

Apa yang harus dilakukan?

Melihat segala kekacauan ini, rasanya lelaki itu ingin melampiaskan kemarahannya. Mungkin, peledak emosi itu terbuat dari bahan kekacauan kondisi rumah yang bereaksi dengan kekecewaan atas harapan yang bertepuk sebelah tangan.

Namun, serta-merta awan sejuk datang meredam api yang bergejolak di dadanya. Memori cinta lebih dulu menelusup di rongga dada sebelum terbakar amarah. Dituliskannya “I Love U” di atas meja yang berdebu tebal, lalu ditutupnya dengan tudung saji berbahan rotan.
Lalu segera ia keluar rumah membeli makan malam.

Beberapa saat kemudian, sang istri terbangun dan terkesiap. Ia tidur terlalu lama dan tak menyadari kepulangan suaminya. Bergegas, ia keluar kamar dan mendapati tas kerja suaminya di atas meja makan. Mendekat, ia periksa meja itu, dan mendapatkan simbol cinta dari sang suami.

Pada meja kayu jati itu, nyata benar kecintaan sang suami. Rumah yang berantakan, tiada sambutan hangat kedatangannya, atau hidangan hangat, dibalas dengan simbol “I Love U” di atas debu.

Seolah-olah, sang istri mendapat bisikan mesra, “Sayang, meskipun keadaan rumah berantakan, meskipun kudapati dirimu tertidur lelah, meskipun tak ada sambutan hangat di bibir pintu dan meskipun yang kutemui hanya debu dan bukan makanan di meja ini, tetapi aku tetap mencintaimu.”

Mendengar cerita ini dari Prof. Alois nugraha pada saat kuliah Etika dan Filsafat Komunikasi, saya merinding. Begitulah komunikasi sangat berperan penting dalam kehidupan berumah tangga, sebuah miniatur masyarakat terkecil. Tapi dari sini, penanaman nilai dan norma ditanamkan melalui komunikasi dua arah di antara anggota keluarga.

Saya kemudian membayangkan, bagaimana kalau komunikasi tidak seimbang, berjalan satu arah dan tidak lancar? Seringkali, atas nama perbedaan sebuah keluarga memilih jalan perpisahan dengan korban utama adalah anak-anak mereka. Padahal, bisa jadi, problema utama adalah soal komunikasi.

Dalam konteks pergaulan dan eksistensi ilmu-ilmu, ilmu komunikasi kerap dipandang sebelah mata. Beberapa argumen yang saya dengar, menganggap komunikasi mudah dipelajari. Tidak seperti ilmu sains yang “berat” dan berjejalan dengan rumus-angka. Atau komunikasi dipandang tidak penting karena dianggap siapa pun bisa berkomunikasi.

Bagi saya, komunikasi bukan hanya urusan bahasa. Tetapi lebih dari itu, ia adalah seni bagaimana menyampaikan pesan agar dimaknai, -paling tidak sama- oleh orang lain (komunikan) sebagimana maksud kita sebagai komunikator.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published in101 Komunikasi Pasutri

3 Comments

  1. Bahagia sekali istrinya ya..:)

  2. Sepertinya memang pangkal ketidakharmonisan berawal dari komunikasi yang tidak sejalan.
    Nice post mas

    • Lufti Avianto Lufti Avianto

      betul sekali. saya pernah baca riset, kalau komunikasi itu penyebab perceraian nomor 1 di negeri ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *