Skip to content

Membaca itu kemewahan yang sederhana

Entah mengapa, kegiatan membaca saya 3,5 tahun terakhir sangat jauh menurun. Ini berdampak pada tingkat kewarasan dalam menjalani hidup. Segitunya? Iya, suer. Bayangin, kalau kita nggak makan teratur, pasti bisa sakit kan? Ini juga terjadi pada jiwa kita, kalau tak dikasi makan, salah satunya membaca buku, pasti tak sehat.

Saya mengira-ngira, apa penyebab ini semua. Salah satunya, pola kerja saya yang kebangetan; berangkat pagi, pulang malam. Selain karena tuntutan kerja, juga lebih didominasi perjalanan yang macet kalau dipaksakan pulang tepat waktu. Jadilah bekerja, menjadi pelampiasan yang salah.

Akhirnya, enam bulan terakhir, saya baru meniatkan dan memprogramkan kembali membaca buku. Apalagi, sejak tiga bulan terakhir, saya sudah berhijrah, dari seorang biker, menjadi roker alias rombongan kereta. Cerita soal hijrah ini, akan saya ceritakan terpisah.

Balik ke soal membaca. Tiap dinas keluar kota, atau di kereta dalam perjalan berangkat dan pulang kantor, saya selalu sempatkan membaca. Buku yang jadi favorit, tentu saja buku sastra; novel, kumpulan atau cerita. Atau sesekali, buku yang agark berat soal hukum dan komunikasi.

Seketika, saya menemukan sebuah perasaan mewah, namun dengan cara yang teramat sederhana. Sumpah!

Namun, ada persoalan, ketika saya harus keluar kota, dengan perjalan kereta api selama 30-an jam PP Jakarta-Malang. Saya bawa tiga buku, dan lumayan menambah berat tas. Padahal, niatnya mau simple. Ditambah lagi, saya perlu membaca beberapa jurnal ilmiah buat bahan tulisan, yang kalau dibaca dari smartphone saat di commuterline, bikin lelah mata.

Dua masalah tadi; bawa buku yang banyak tapi berat, dan baca lewat smartphone yang bikin lelah, membuat saya mencari solusi apa yang kira-kira bisa menyelesaikan masalah itu. Saya googling, dan ketemulah ulasan dan pengalaman mengenai ebook reader, yang dengan teknologi e-ink, bisa membuat tampilannya seperti membaca buku cetak. Soal kemapuan menyimpan, ebook reader ini mampu menyimpan ribuan ebook. Tentu sangat membantu, kan?

Yang bikin kesel, semua gadget beragam merk itu, tidak bisa dibeli secara langsung dari Indonesia. Kalau ada yang jual di dalam negeri, harganya 2-3 kali lipat. Seperti Kobo aura H2O yang saya taksir, di sini dijual 4,2 juta perak! Padahal harga di Jepang, nggak sampai 1,5 juta. #Asem.

Saya berterima kasih kepada Google yang telah mempertemukan saya dengan Perdana Adhitama alias Dana San, seorang Kaskuser yang jadi ‘penolong’ saya memboyong si Kobo ini. Setelah membaca testimoni lapak dan blog pelanggannya, tanpa pikir panjang, saya pun order Kobo H2O melalui Dana San. Saya transfer sejumlah uang pada 24 Oktober 2017.

Gila lu apa, transfer duit jutaan ke orang yang gak dikenal?

Ya, waktu itu sih, feeling saya mengatakan ini aman, dan orangnya bisa dipercaya. Udah gitu aja 🙂 hehehe…

Akhirnya, singkat kata, pas 1 November 2017, si Kobo sampai rumah dengan selamat, bahkan tanpa kena pajak dari Bea Cukai. Itu artinya, sangat lebih cepat dari perkiraan saya, yang sampe 2 pekan lebih, daaan, biayanya jauh lebih murah meski didatangkan langsung dari Jepang!

Sejak itu, kebiasaan saya membaca buku atau jurnal, menjadi tambah menyenangkan. Apalagi, tambah keliatan keren pasa desak-desakan di commuterline, megang si Kobo, membaca dengan asyik.

Trus, langsung mikir, gimana kalau gue jualan ebook reader? Hehehehe…

Note:

  1. Soal kredibilitas seller Dana San ini, tak perlu diragukan. Recommended!
  2. Penjelasan mengenai harga Kobo, biaya pengiriman dan tempat beli Kobo, sengaja saya rahasiakan dengan alasan bisnis. Harap maklum.

sumber gambar utama dari sini

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published inLiterasi Berdaya

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *