Skip to content

Mau tahu cara Allah menolong saya?

Memasuki 2018, saya punya kebingungan. Duit yang sudah ditabung 3 tahun terakhir, mau diapakan ya? Akhirnya, saya konsultasi ke emak, mending beli mobil, cicil KPR atau naik haji. Dengan enteng emak bilang, “Naik haji aja. Mumpung masih muda, bisa berdua.”

Tanpa pikir panjang, nurut.

Kemudian, kami mulai mencari beberapa pilihan program haji: reguler tapi lama banget masa tunggunya; atau ONH Plus mahal banget kalau berangkat di tahun yang sama.

Dua-duanya gak pas buat saya.

Naik haji ONH reguler, bisa-bisa 14 tahun lagi. Belum tentu saya punya umur sepanjang itu. ONH plus? Duh, kok dengan harga seratusan juta, masa tunggunya 5-7 tahun, rasanya kelamaan.

Selidiki guel, ternyata ada program Haji Furoda yang bisa memberangkatkan dalam waktu yang relatif lebih singkat, 1-3 tahun. Kebetulan, ada program promo dari salah satu biro perjalanan, dimana biaya masih terjangkau, bisa berangkat 2021 dan ada bonus umroh 2020. Setelah riset singkat profil biro tersebut, akhirnya kami putuskan untuk ikut program tersebut.

Ada aja omongan orang dan bisikan setan, “Kalau nanti ketipu gimana kayak jamaah First Travel?”

Terus menjawab pertanyaan senada dari luar dan dalam hati, saya harus tegaskan, bahwa ibadah haji adalah “Undangan Allah”. Tugas kita hanya berusaha, luruskan niat, perdalam ilmu untuk berhaji, persiapkan bekal yang dibutuhkan. Berhati-hati dan waspada itu perlu, dan sudah saya lakukan dengan riset kecil-kecilan.

Kemudian, di sinilah cerita itu bermula, bagaimana Allah menolong kami.

Setelah kami mendaftar, si marketing, sebut saja Bu Ima, mengabarkan bahwa hadiah umroh punya seat terbatas, sekitar 120-an saja. Saat kami mendaftar, sudah terisi 100 jamaah.

“Kami akan prioritaskan hadiah umroh bagi yang segera melunasi, pak.”

Di hari Sabtu itu, saya transfer secara bertahap maksimal limit 2 ATM yang saya punya. Sayangnya, Bu Ima sudah kadung mendaftarkan kami berdua, namun dengan target pelunasan di hari Selasa.

Di hari Senin, saya dan istri sibuk cari dana talangan. Sebab perkiraan saya nggak bakal sempat untuk nominal yang dibutuhkan, karena uang tersebar di dua rekening dan ada dalam bentuk reksadana yang pencairannya tidak bisa real time.

Semua sahabat saya hubungi. Dan semua jawabannya sama, dengan alasan yang berbeda: nihil. Saya membaca isyarat langit, seolah tak ada jalan pinjam dari manusia. Lalu saya khusyuk berdoa, agar Allah menolong dengan cara-Nya. Saya pasrah, toh ibadah haji adalah undangan-Nya. Dia yang akan memerjalankannya. Bukan uang yang berlimpah.

Senin sore itu, kami putuskan, agar nama saya saja yang didaftar terlebih dahulu, agar hadiah umroh bisa didapat. Sebab, kalau yang terdaftar istri saya, akan repot berangkat tanpa mahram.

Selasa siang, saya mendapat sms notifikasi dari biro haji, bahwa nama saya telah terdaftar sebagai jamaah umroh/haji biro tersebut. Agak lesu membacanya, sebab saya ingin sekali umroh dan haji berdua dengan istri. Tapi apalah daya, toh kami sudah berusaha.

Selasa malam lepas maghrib, setelah pulang dari masjid, saya temui istri saya menangis. “Kenapa bu?”

“Barusan saya dapat sms, kalau saya terdaftar untuk haji dan umroh. Saya juga dapat hadiah umrohnya,” matanya masih basah.

“Kok bisa?” saya  betul-betul penasarsan.

“Jadi, orang travelnya salah pencet. Harusnya dia delete berkas saya, eh tapi malah pencet verifikasi. Kata Bu Ima, qodarullah, itu rejeki ibu karena kesalahan manajemen. Jadi mohon segera dilunasi ya bu.”

Subhanallah. Walhamdulillah. hati saya bergetar mendengar kabar itu. Saya merasa tersedot pada satu ruang dimana ada hawa sejuk dan bayang-bayang emak saya di sana. Ada senyum beliau yang seolah merestui pilihan saya untuk menaati nasihatnya.

Ya Rabb, hati saya seolah ditampar berkali-kali, disadarkan, diingatkan dengan cara yang indah. Allah Maha Pemilik segala sesuatu. Mudah sekali bagi-Nya mengatur apapun.

Setidaknya, dengan memilih ibadah haji sebagai bentuk penyempurnaan keislaman, saya juga berusaha berbakti kepada emak dengan menuruti nasihatnya. Seolah keberkahan Allah melimpahi kami. Mudah dan berkah adalah jalan yang disediakan Allah bagi siapa saja yang menaati-Nya.

Pantas saja, saya ‘dipersulit’ meminjam dana dari sahabat. Itu karena Allah punya cara-Nya sendiri menolong saya. Bergantung pada manusia, sesungguhnya kesalahan fatal yang kadang tak terasa.

Sejak hari itu, saya terus memohon, agar Allah membimbing kami hingga saat umroh dan haji tiba. Agar Allah menambah keimanan, ilmu dan bekal lainnya.

sumber gambar dari sini

(Visited 1 times, 3 visits today)
Published in101 Komunikasi Pasutri

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *