Skip to content

Lagu Cinta Untukmu

Bayangan obrolan Pepeng, masih membekas. Padahal sudah berbulan-bulan lamanya saya ketemu dia untuk sebuah wawancara. Tapi, petuah, pelajaran dan energi Pepeng masih membekas. Hasil wawancara itu, sebagian saya ambil dan bisa dibaca di tulisan sebelumnya (Belajar Romantisme dari Pepeng bagian 1, bagian 2 dan bagian 3).

Banyak sekali inspirasi berharga, yang tak hanya bisa dinikmati dalam sebuah artikel. Dari inspirasi itu, saya lantas menulis lirik berjudul, “Aku Cinta Kamu Tanpa Batas” yang terinspirasi dari puisi Pepeng untuk sang istri, Tami.

Setelah selesai, saya serahkan ke Lutfi Gunawan, salah seorang kawan, seorang banker cum musisi yang saya kenal. Iseng, mungkin bisa jadi lagu buat menyenangkan istri saya.

Liriknya demikian, dengan sedikit gubahan agar sesuai dengan aransemennya.

Aku cinta kamu tanpa batas

Cinta ini, cinta suci

Cinta yang tak terbeli

Cinta ini begitu sempurna

 

Aku cinta kamu tanpa batas

Biarlah cahyanya menembus jiwa

Aku sayang kamu tak berbatas

Semailah sampai tutup usia

 

Di hadapan langit

Disaksikan bumi

Dilihat matahari

Ditemani galaksi

Izinkan kukatakan, “Aku cinta kamu tanpa batas”

Lagu bisa didengarkan pada link ini

 

Perempuan mana yang tak meleleh hatinya, dibuatkan lirik cinta dan sebuah lagu sebagai sentuhan akhir manisnya?

Pada sisi yang lain, ternyata saya bisa menjelma menjadi cowok romantis. Tapi, ini bukan lagu pertama yang saya bikin dengan bantuan sang musisi. Lagu sebelumnya, saya buat pada 2011, saat mengawali long distance marriage (LDM) kami, ketika istri melanjutkan kuliah masternya di Jogja.

Judulnya, “I’ll never let you walk alone”.

Saya tahu kalian akan tertawa, karena mirip semboyan dan lagu Liverpool. Sumpah ya, saya nggak tahu kalau judul itu sangat Liverpoolian. Sayangnya, puisi yang saya tulis dalam bahasa Inggris pas-pasan itu, entah kemana.

Saat menandai LDM, saya copy mp3 lagu itu yang direkam Lutfi Noindrei dan liriknya di home screen laptop istri, tentu tanpa sepengetahuannya. Begitu saya pulang, saya beritahu ada surprise untuknya.

“Dengerin lagunya ya…”

Beberapa menit kemudian, saat bus yang saya tumpangi baru bergerak dari Terminal Giwangan menuju Jakarta, ada telepon yang masuk dari nona. Bicaranya nggak begitu jelas, karena dihiasi tangisnya yang meledak.

Saya bisa merasakan getarannya. Ada haru, ada rindu. Juga cinta tentu.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published in101 Komunikasi Pasutri

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *