Skip to content

Kejutan untuk dia

H-1. Aku sudah tahu kejutan apa yang akan kuberikan besok. Menjelang istirahat siang, dua kawan perempuan kantor, menemaniku memilih kado spesial itu. Sampai di Mall Kota Kasablanka, di sebuah toko, aku mencari ‘sesuatu yang cocok’ itu. Aku sangat memahami kesukaannya, seleranya, pokoknya hapal betul kebutuhannya.

Segera ke kasir, dan membayarnya.

Di kantor, hadiah itu dibungkus. “Nggak ada kartu ucapannya, nih mas?” seorang kawan melirik, diikuti dengan kawan lainnya.

“Nggak usah deh. Nanti terpisah, aja.”

Sejujurnya, aku masih belum tahu, akan menulis apa sebagai ucapannya. Aku tak suka terlalu puitis. Tapi juga tak suka terlalu datar. Simpel, hangat dan penuh cinta, tapi tak terlalu romantis. Dan akhirnya bingung.

Setelah shalat isya, aku baru keluar kantor. Di jalan, aku tak menemukan sepatah katapun. Ya sudah, kubiarkan saja mengalir seperti air. Sampai di rumah, sengaja kutinggalkan kado itu tetap di setang motor. Agar dia tak curiga, kado itu sudah dipersiapkan.

Menjelang tengah malam, saat dia dan anak-anak sudah tidur, aku pindahkan kado itu ke keranjang buah di dapur. Lalu kutulis dengan selembar kertas seadanya. Entah inspirasi dari mana, tapi semoga saja, menancap di hatinya.

“Untuk istriku sayang. Cukuplah kehadiranku mewakili sejuta kata-kata cinta untukmu. Suamimu. 22 Februari 2019.”

Ketika bangun dan ke dapur, dilihatnya kado dan tulisan itu. Ia tersenyum, lalu ke kamar untuk membangunkanku.

Mataku terbuka dan kutemukan wajahnya yang purnama berseri-seri. Aku pura-pura tak tahu.

“Kenapa senyum-senyum?”

“Makasih ya, bi.”

Hari itu, Jumat, 22 Februari 2019, istriku genap 36 tahun. Kami memang tak terbiasa merayakan dengan berdoa sebelum tiup lilin. Biasanya kami hanya makan kue tart, atau memberi kejutan berupa kado. Dan kali ini, aku memilih cara yang kedua, karena tahu betul, ada barang yang ia butuhkan menjelang masuk kantor perdana usai cuti melahirkan.

Sepatu biru dongker, berbahan kanvas, dengan tali kulit berwarna cokelat muda dan sol karet.

Jangan tanya kenapa bukan sepatu kulit berhak tinggi. Tidak, istriku lebih suka dengan sepatu treplek agar memudahkan dia bergerak, dan naik-turun tangga.

Hari itu, aku menyengaja cuti. Rencananya, kami akan berdua, -eh bertiga dengan Birru, anak kami yang hampir 3 bulan- untuk makan siang dan nonton bioskop. Dan sepatu biru itu, langsung ia pakai.

Sejak berangkat nge-mall hingga pulang ke rumah, wajahnya terus berseri-seri. Senyumnya tak padam, meski hujan sempat membuat kami berhenti untuk berteduh. Meski membawa bayi, perjalanan hari itu tetap menyenangkan. Kami merasa seperti pasangan baru dengan seorang bayi. Kami merasa jauh lebih muda. Padahal di rumah, ada dua lagi yang pasti akan protes karena kami terlalu lama.

Sampai di rumah, hari sudah mulai gelap. Dua anak kami menyambut. Si sulung mengulurkan secari kertas sambil memeluknya. “Selamat ulang tahun, ibu.”

Kertas itu ia baca. Matanya kian membesar dengan senyum yang hampir setengah lingkaran.

“Dari mas Farih. Selamat ulang tahun ibu. Semoga panjang umur dan sehat selalu. Jadi ibu terbaik untuk keluarga.”

Aku tersenyum, dan heran. “Diajari siapa mas?”

Ah, bodoh sekali rasanya bertanya seperti itu. Bukankah buah, takkan jatuh jauh dari pohonnya?

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published in101 Komunikasi Pasutri

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *