Skip to content

Kamis siang bersama emak

Langit masih gelap sejak hujan turun dini hari tadi. Padahal, sudah jam 9 pagi. Aku tarik selimut lagi, mengusir hawa dingin yang merayap. Badan juga masih terasa panas-dingin tak menentu.

“Katanya mau makan sama emak?” Istriku mengingatkan.

Ah iya, hari ini, 9 Januari adalah hari ulang tahun perempuan yang telah melahirkanku itu. Usianya kini 65 tahun. Kalau bukan karena emak, badan yang sudah malas gerak ini, takkan bisa bergerak lagi. Aku akan menuntaskan seharian ini di pulau kapuk saja. Tapi, ini demi emak. Demi perempuan yang sangat kucintai itu.

Masih ada waktu, pikirku. Sembilan puluh menit lagi saja, agar kantuk ini tuntas lenyap dari kepala. Benar saja, badan ini merespons sesuai apa yang dipikirkan kepala. Aku bangkit tepat pukul 10.30 lalu cuci muka untuk menyegarkan diri. Lalu pamit pada istriku di bibir pintu.

Lalu kupacu sepeda motor matic menembus cuaca yang mendung dan dingin. Meski cuaca sedang mendung, hujan, berhenti, lalu mendung lagi tak cerah-cerah, tapi langkah ini terasa ringan. Di jalan, aku merenung tentang apa yang kulakukan tiga tahun terakhir ini. Ya, makan berdua sama emak saja di hari ulang tahunnya. Dua tahun lalu, kami makan siang berdua di sebuah restoran di mall dekat rumah emak. Tahun lalu, kami makan malam di rumah makan seafood kesukaan emak. Dan kali ini, aku ingin mengajaknya makan steak, juga dekat rumah emak.

Sebelum berangkat tadi, aku sudah mengabari emak, untuk siap-siap makan siang bersama. Biasanya emak malu-malu kalau ditanya mau makan apa. Mungkin tak ingin bikin kantong anaknya jebol. Biasanya, emak akan tanya, “Mahal nggak?” Tapi aku yakin, emak suka diajak makan, apalagi mencoba menu yang ia belum pernah.

Sampai rumah emak, kami langsung ke Steak House Andakar di bilangan Condet, Jakarta Timur, lima menit bermotor dari rumah emak.  “Kita makan steak, ya,” aku memutuskan, tanpa minta persetujuannya. Emak manut saja. Lalu ia melihat-lihat menu dan tampak bingung. Aku pilihkan steak yang paling mahal, dengan hidangan pembuka menu Italia.

Sambil berbincang, emak banyak cerita. Soal keluarga kami, soal keluarga dari bapak. Semua cerita, mulai dari sepupu kami yang mau menikah, sudah cerai, sampai yang baru saja dipanggil menghadap-Nya.

Saat ngobrol, emak juga berencana mengajak kami semua anak-cucunya, untuk berlibur ke Garut. “Nanti setelah anak-anak ujian, kalau bisa jangan pas libur kejepit tanggal merah,” emak terus nyerocos dengan antusias.

Ah, aku jadi ingat, kenapa emak ingin kami ke Garut lagi. Beberapa tahun yang lalu, kami berlibur ke sana, emak yang sponsori semuanya, mulai dari sewa bus tiga per empat, sampai penginapan. Tapi emak nggak puas dengan penginapannya. Emak ingin ke Hotel Cipaganti yang ada kolam renangnya, tapi kami tak kebagian kala itu. Belum lagi, saat  itu bertepatan dengan libur kejepit, otomatis kami malah kelamaan di jalan.

“Biar nanti anak-anak bisa puas berenang. Hotelnya bagus, bersih, kamarnya muat banyak. Enak deh,” emak terus berpromosi. Aku jadi berpikir, aku ini sedang bicara sama emak, atau sales marketing hotel itu sih? Tapi begitulah emak kalau sudah antusias, dia akan mengerahkan segenap usahanya untuk meyakinkan lawan bicaranya. Sebuah kemampuan marketing yang hebat menurutku. Kemampuan bercerita yang juga menurun kepadaku.

Emak menyuap potongan lasagna. Aku mengiris steak menjadi kotak-kotak, lalu mengunyah. Emak bercerita lagi.  Soal Garut, soal ke mana kami akan mengunjungi tempat-tempat wisata di sana. Emak memang begitu, kalau lagi punya duit. Suka royal. Suka membagi kesenangan. Sama sepertiku (Ahahaha, jangan protes!).

Emak masih cerita. Kali ini tentang kakaknya, yang berniat menjual mobilnya. Dia tawari mobil itu ke emak, agar ada anaknya yang mau beli. Kata emak, kakak perempuannya itu menawariku.

“Lalu emak bilang apa?”

“Nggak ada duitnya. Udah habis, bayarin utang emaknya!” tolak emak pada kakaknya. Aku tertawa. “Kasian, sampe nggak bisa beli mobil,” tutup emak.

Dalam hati aku membatin. Enggak mak. Dibandingkan kasih sayang dan doa restu emak, semua tabunganku rasanya nggak ada artinya. Apa yang sudah kuraih saat ini saja, bukanlah hasil perjuanganku semata. Di sana ada doa-doa emak yang ikhlas, sehingga Allah Swt mempermudah semuanya. Aku bisa kuliah S2 di kampus terbaik di negeri ini, itu berkat emak. Aku bisa bekerja seperti sekarang, itu karena doa emak. Dan aku bisa menjalani rumah tangga dengan sakinah, itu juga karena restu emak.

Apalagi yang aku butuhkan?

Emak adalah kunci surgaku. Keridhoan emak adalah keridhoan Tuhan. Ia berkorelasi positif. Itu ajaran agama yang aku pegang teguh sejak dulu. Bukan, bukan karena aku anak satu-satunya yang emak biayai kuliah. Tapi, karena aku tahu betul perjuangan emak, yang memilih menjadi janda dan berjuang menghidupi empat anaknya. Aku ingat setiap cacian orang kepada emak. Aku yang melihat gurat kekhawatiranya ketika kami tak bisa membayar uang sekolah. Aku yang membuntuti emak, ketika mencari utangan ke tetangga. Aku yang menyaksikan emak panik, saat kakak iparnya, yang aku panggil Pakdhe, menagih utang dengan cermat pada tanggal satu puluhan tahun lalu, dan emak terbirit-birit lari lewat pintu belakang dan mencari utangan. Iya, aku menyaksikan itu semua, dengan mata telanjang kanak-kanakku. Ia lalui itu semua, meski banyak saudara dan kerabat emak yang jauh lebih kaya, tapi tak punya kepedulian kepada kami.

Kini, aku sudah bekerja dan berkeluarga. Sudah saatnya emak lebih ‘menikmati’ hidupnya yang lelah itu. Maka, kalau aku tahu emak sering jalan-jalan bersama teman senamnya, teman arisan, teman pengajian, aku malah mendukung tanpa protes.

“Paspor bagaimana?” aku bertanya soal rencana emak jalan-jalan ke luar negeri, sambil memesankan dua menu untuk emak bawa pulang.

“Iya, masih diurus,” katanya.

“Jangan pake cara-cara ilegal ya mak, soalnya itu dokumen negara. Bisa fatal,” aku mewanti-wanti. Sebab, lansia macam emak, suka menjadi sasaran empuk penipuan para calo. Ngakunye beres, tapi bermasalah. Emak bisa repot.

Mestinya, awal Januari ini emak ikut group tour jalan-jalan ke Malaysia dan Singapura. Sama teman-temannya di “Arisan Cantik”. Hahahaha, aku membayangkan para nenek-nenek lincah nan gesit jalan-jalan di Malaka atau berfoto ria di Merlion. Tapi karena paspornya bermasalah, masih harus diurus dan emak batal berangkat.

“Tenang, Maret nanti ada agenda ke Thailand kok,” katanya sambil nyengir.

Setelah selesai, kami pulang ke rumah emak, melanjutkan obrolan soal rencana liburan serta ngalor ngidul dengan ponakan dan kakak perempuanku.

Hari makin sore, mendung juga masih bergelayut di langit senja itu. Dingin masih mengigiti kulit, ketika aku pulang membelah jalan. Tapi hatiku hangat.

*) Kamis, 9 Januri 2020. Semoga sehat terus ya mak. Bisa jalan-jalan, pengajian dan juga arisan.

(Visited 1 times, 84 visits today)
Published inKisah ManusiaMemoar EmakUncategorized

21 Comments

  1. Ya Allah terharu bacanya, selamat ulang tahun buat emak semoga panjang umur sehat dan bahagia aamiin

  2. Rini Novitasari Rini Novitasari

    jadi kangen emak yang sudah semakin menuaa di kampung halaman bacanya

    sedang aku rantau jauh di surabaya 🙁

  3. Semoga berkah dan sehat selalu emaknya mas. Ikut bahagia dan sedih dengan jalan ceritanya. Mirip sedikitlah dengan kehidupan kami

  4. Semoga sehat terus emaknya.

    Baca ini jadi inget sama ibu yang jauh di sana. Tinggal sendirian pula. Diajak ikut saya nggak mau, pilih di rumah saja.

  5. Ah Emak, gagal ke Malaysia dan Singapura malah jalan2nya lebih jauh lagi ke Thailand. Hehehe..

    Jadi kangen mamaku. Kalau mamaku masih ada, kami pasti cocok soal hobi travelling. Sehat2 terus mamanya ya..

  6. Beruntung nya bisa tinggal tidak jauh dari Ibu, saya yang tinggal beda benua sama ibu rasanya kangen banget, tapi yang namanya istri harus ikut kemana pun suami tinggal.
    Setiap ada kesempatan pulang ketemu ibu pasti saya akan berusaha untuk me belikan apa saja yang ibu mau dan mengajak ibu kemana pun beliau mau.

  7. baca artikel ini sangat menghangatkan hati. terbayang juga perjuangan dan kasih sayang ibu saya. seru juga ya kalau beliau berulang tahun dirayakan dengan makanan berdua seperti itu. semoga ibunya sehat selalu ya

  8. Fadli Hafizulhaq Fadli Hafizulhaq

    Saya suka jika melihat anak lelaki bisa dekat dan mesra dengan ibunya. Rata-rata di negeri kami, Minangkabau, anak lelaki itu tidak bisa bermanja dan mesra dengan ibunya. Mungkin tepatnya tidak biasa, karena adat dan budaya

  9. haniwidiatmoko.com haniwidiatmoko.com

    Salam sehat untuk Emak ya… Semoga urusan paspor cepet beres ya.Ta’ temenin jalan-jalan deh.

  10. Subhanallah, batapa bahagianya bisa membahagiakan sosok orang tua. Saya sendiri masih belum dapat melakukan hal seperti itu.

  11. Selamat ulang tahun ya untuk Emak. Semoga selalu sehat dan panjang umur. Baca tulisan ini aku jadi kangen mamaku. Hiks, karena tinggal di kota yang berbeda, hubungan kami cuma lewat telepon dan grup Whatsapps. Pulang dan ketemu paling cuma setahun sekali. Apa mesti ditambah kali ya jadwal mengunjungi orang tua biar kangennya bisa terobati

  12. Kebiasaan yg unik nich.. makan bersama (berdua) saja bareng emaknya… berbeda sama saya, kami terkadang satu keluarga besar makan di mana, tapi emak suka mengeluhkan makanannya (kurang ini itunya) dia lebih suka masak sendiri dan makan bersama dirumah saja.

  13. baca ini jd senyum2 sendiri. kenapa ya ibu kita kalau diajak senang2 anaknya selalu tanya, “mahal gak?”. padahal kita mau kasih yg mahal2 padanya agar bs merasakan enaknya dunia. dulu ibu sudah berjuang keras. kini giliran anak untuk menyenangkan beliau. semoga selalu banyak rezeki agar bs menyenangkan emak selalu, ya mas

  14. Emak-emak memang tak jauh dari arisan dan pengajian. Beberapa menambahkan jalan-jalan.

    Wah, keren banget hubungan antara emak dan anak. Beliau benar-benar surganya anak.

  15. Ngobrol bersama emak, memang suatu kebahagiaan dan kenikmatan duniawi yang sangat berharga. Alhamdulillah, meski saat ini bapak ibu saya sudah berpulang dan sering membuat saya kangen beliau berdua.

    Tetapi saya bahagia, merasa sudah cukup mampu membahagiakan beliau berdua.

    Selalu sayangi emak ya Mas.

  16. Semoga Emak selalu terjaga kesehatannya. Usia boleh tua. tapi semangat terus membara seperti anak muda.

    Ibu akan selalu menjadi bagian terpenting dalam kehidupan anak-anaknya. Saat usia beliau semakin menua. kitalah yang hendaknya bisa lebih bersabar dan memahaminya.

  17. Sehat selalu emak. Emaknya keren ih gaul, tahu banyak soal detail hotel yang bagus dan enak di Garut hehehe. Salut banget sama perjuangan emaknya untuk kehidupan dan sekolah anak-anaknya. Sehat selalu emaknya, dan lancar selalu rejeki masnya. Semoga enggak lama lagi aku bisa begini ke emak dan abah, ku ingin mereka lebih menikmati hidupnya 🙂

  18. Hatiku ikut hangat baca tulisan ini
    Dan mendadak rindu emak jadinya huhuhu
    Memang ya, kasih sayang emak itu tiada batas
    Mumpung beliau masih sehat, saatnya kita membahagiakannya

  19. Seorang emak atau ibu yang dilayanin layaknya Ratu, semua ini agar mendapatkan Ridho dari emak dan Tuhan agar hidup kita enak dan lancar” saja..

    Semoga tercapai tujuan emak liburan ke Thailand

  20. Hwaaaa aku paling melow sedunia kalo ngmongin soal emak, bagi aku emak itu ya Allah malaikat dunia banget. Memeluk disaat seluruh dunia menghempaskan, itu bener banget. Semoga emak selalu diberikan kesehatan yaa

  21. sejak kecil emak sudah sibuk mengasuh dan membsarkan kita. bahkan sampai dewasa pun tak jarang kita merepotkan emak. emak selalu mau mengerti kondisi kita. semoga emak sehat selalu….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *