Skip to content

Jodoh Pilihan Emak (Bagian 9)

Aku mengecek segala persiapan sejak pagi. Semua seserahan, komplet. Sopir bus, sudah kutelepon untuk stand by sejak maghrib nanti. Kawan-kawan yang akan ikut serta dalam rombongan, sudah kuingatkan. Total rombongan terdiri dari satu bus, dan satu minibus.

Kamis itu, aku sudah cuti dan bebas dari tugas liputan yang sibuk. Dan akan cuti sepekan setelah pernikahan. Semua rencana sudah diatur rapi. Semoga tak ada yang meleset.

Lepas shalat isya, rombongan mulai bergerak. Langit yang gelap, diterangi bintang-gemintang dan cahaya bulan, seolah menjadi pertanda restu dari Sang Pemilik langit bahwa seorang hamba akan menggenapkan setengah agamanya.

Di dalam bus, aku duduk di baris paling belakang bersama sahabat yang menyertaiku. Kami bicara ngalor-ngidul sampai mengantuk, dan tertidur. Kami berhenti saat adzan shubuh. Aku kira, kami sudah tiba di Jogja, ternyata masih di Cilacap. Rupanya bus berjalan lambat, karena ban sudah mulai getas.

Setelah sholat, bapak menelepon menanyakan posisi kami. Ia cemas karena semestinya subuh itu kami seharusnya sudah tiba. Aku tenangkan, bahwa kami baik-baik saja meski ada masalah teknis.

Akhirnya, kami tiba di Jogja lewat tengah hari. Rombongan Jakarta menginap di sebuah wisma milik ormas Muhammadiyah yang berjarak beberapa ratus meter saja dengan rumah keluarga Jogja dan masjid tempat akad nikah malam nanti.

Kedua calon mertuaku menyambut kami di wisma. Berulang kali, aku meminta maaf atas keterlambatan yang membuat jantung mereka menari disko. Belakangan, aku tahu sebabnya, bahwa ada pernikahan serupa; calon pengantin lelaki dari Jakarta yang akan menikahi gadis Jogja, kemudian tak datang-datang sampai waktu akad tiba. Pernikahan itu tak terlaksana, dan resepsi bubar begitu saja. Keluarga calon mempelai si gadis tentu saja malu, tak tahu harus dimana menyimpan muka.

Keluarga Jogja juga mengkhawatirkan itu. Aku maklum.

Di wisma, aku istirahatkan hati, pikiran dan tubuh yang lelah karena duduk hampir 17 jam di bus. Aku merenungi perjalanan mencari cinta hingga pada titik ini. Aku bersyukur atas keyakinanku pada-Nya berbuah banyak sekali kemudahan.

“Ya, semua urusan kita, tak selalu lancar hanya karena kita punya uang dan kuasa. Maka seharusnya semua urusan digantungkan sepenuhnya. Sepenuh-penuhnya kepada-Nya.” Aku membatin dan merekamnya dalam-dalam.

Tak lama, seseorang mengetuk pintu kamar. Ternyata ada lelaki muda, yang sebentar lagi akan menjadi adik iparku, membawakan baju untuk dicoba yang akan digunakan nanti saat resepsi. Aku mematut diri di cermin cukup lama, sesuatu yang jarang sekali aku lakukan.

Diriku yang di dunia cermin, memberondong pertanyaan.

“Kamu sudah siap menikah?”

“Mau ngasih makan apa?”

“Cinta aja nggak cukup!”

“Kamu yakin dengan perempuan pilihanmu? Seseorang yang tak pernah kamu kenal sebelumnya!”

Untuk beberapa detik, aku goyah. Aku beruntung, selama penantian ini, aku sering meminta banyak nasihat dari para guru dan orang-orang yang kukenal baik akhlak dan rumah tangganya. Mereka berpendapat satu bahwa wajar sekali setan membisikkan keragu-raguan dalam diri seorang yang akan beribadah, termasuk menikah.

Kutepis keraguan itu dengan berulang kali beristighfar. Sebab hanya Dia yang akan mampu menolongku dari jeratan dan jebakannya. Keyakinan itu masih oleng. Kuingat-ingat lagi nasihat, bahwa Allah akan menolong hamba yang datang mendekati-Nya. Aku yakin, Dia tidak akan pernah tinggal diam menelantarkanku. Buktinya, Allah tetap menjaga dan mengurusku, sejak kematian bapak di usiaku yang masih kanak-kanak. Ah, bukti empiric itulah yang kemudian memberikan tambahan energy untuk semakin yakin pertolongan-Nya takkan absen dari ikhtiar kita.

Sekejap, bisikan itu hilang.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published in101 Komunikasi Pasutri

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *