Skip to content

Jodoh Pilihan Emak (Bagian 8)

Tanggal pernikahan sudah ditentukan. Uang tabungan buat segala persiapan, ada, meski pas-pasan. Restu emak dan keluargaku, sudah di tangan. Doa-doa tak lupa kupanjatkan.

Aku kira, itu semua modal yang jauh lebih dari cukup untuk sebuah persiapan pernikahan.

Terkadang ada kawan, teman atau orang yang bertanya, apa persiapan utama pernikahanku? Aku jawab, bukan seberapa banyak uang yang kuhabiskan untuk biaya catering, gedung, dan sebagainya. Melainkan keyakinan yang kuat kepada Allah, bahwa Dia akan mempermudah jalan seorang hamba untuk mendekati-Nya, untuk membangun cinta di atas pernikahan yang suci, atas nama-Nya dan karena-Nya.

Kebanyakan mereka ragu. Tapi aku tidak.

Keyakinanku bulat sudah, tidak gepeng. Penuh sudah, tidak setengah-setengah, apalagi hampa. Bagiku, hukum menikah sudah menjadi wajib, sebab kalau ditunda, akan menjadi haram. Aku lelaki dewasa yang sudah mampu mencari dan memberi nafkah lahir-batin, serta takut terjerumus ke dalam lembah dosa dan kemaksiatan.

Pernah aku berdoa sepanjang jalan pulang, pada suatu dini hari yang dingin, seusai deadline ddi kantor. Di sepanjang jalan Kalibata, banyak sekali perempuan tuna susila yang menjajakan diri.

Dari balik helm full face-ku berbisik, “Ya Allah, kalau yang halal terasa sulit, mengapa yang haram mudah sekali kutemukan di depan mata.”

Karenanya, aku memohon perlindungan Allah dan kemudahan jalan halal indahnya pernikahan. Aku juga memohon rezeki yang luas dari-Nya. Rezeki bukan hanya uang, melainkan kemudahan-kemudahan lewat jalan apapun, jalan yang tak pernah kuduga dan kubayangkan sebelumnya.

Suatu hari, saat rapat keluarga pembubaran panitia pernikahan seorang sepupu, aku memberanikan diri mengumumkan, bahwa bulan depan aku akan menikah. Emak tadinya melarang niatku, karena kami tak bisa menyediakan akomodasi dan transportasi Jakarta-Jogja, pergi-pulang. Emak rasanya malu.

“Mak, yang malu itu yang berbuat dosa. Kita bilang aja apa adanya.” Emak akhirnya setuju.

“Tabunganmu ada berapa?”

“Tenang mak, Allah duitnya banyak. Nanti kita minta sama Allah.”

Emak tersenyum kecut.

Aku sangat memahami emak yang sejak kematian bapak, memilih menjadi single parent. Ia hadapi semua persoalan sendirian. Ia pikul beban hidup empat anaknya sendirian. Ia sangat khawatir, di pernikahanan anaknya, akan membuat malu karena tak ada tabungan. Apalagi pernikahan anaknya di Jogja, pasti membutuhkan banyak biaya.

Emak belum sepenuhnya paham logika matematika langit yang aku yakini.

Apalagi, di pernikahan sepupuku sebelumnya, resepsi dilakukan dengan mewah. Dua kali pula, karena ada resepsi unduh mantu. Emak tak percaya diri. Tapi aku percaya Allah.

Di ujung rapat pembubaran panitia sepupuku itu. Aku buka suara.

“Pakdhe, Budhe, oom, tante. Insyallah, bulan depan saya akan menikah di Jogja. Tapi minta maaf, kami tak bisa menyediakan transportasi dan penginapan, karena biayanya terbatas. Mudah-mudahan, semuanya banyak rejeki, jadi bisa datang dengan biaya sendiri.”

“Wah, tanggal segitu om lagi dinas luar kota. Om sumbang bus aja ya? Lima juta cukup?”

Ajaib, satu solusi terpecahkan.

“Wah kita bisa sambil jalan-jalan di Jogja. Kita bayar penginapan sendiri juga nggak apa-apa,” yang lainnya berkomentar.

Masalah lain terpecahkan.

Aku lega. Emak juga. Mudah sekali bagi Allah memecahkan masalah kita. Dia menggerakkan hati manusia untuk berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu. Dan itu juga yang kusebut dengan rezeki dari-Nya.

(Visited 1 times, 7 visits today)
Published in101 Komunikasi Pasutri

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *