Skip to content

Jodoh Pilihan Emak (Bagian 7)

“Kamu mau ke mana?” redaktur hukum menyelidik, sebab melihatku berkemas-kemas, merapikan meja, dan memasukkan bebebrapa potong baju ke dalam tas hitam.

“Mau ke Jogja, mba.”

“Loh, laporan edisi khusus sudah beres?”

“Sudah dari dua pekan lalu, mba. Nggak ngecek ya?” Mataku tetap terpaku pada barang-barang yang tengah kurapikan itu.

Dia kemudian pergi ke kubikelnya, dan menatap ke layar komputer untuk beberapa menit. Kemudian balik lagi menghampiriku.

“Masih ada bagian yang kurang. Kamu tambahin lagi ya.” Nadanya memerintah, ketus, lalu berbalik meninggalkanku yang melongo.

Mulutku yang terbuka beberapa saat, segera disadari kawanku di sebelah. “Kenapa?”

Aku jelaskan panjang kali lebar sama dengan luas kepadanya. Bahwa laporan edisi khusus telah aku tuntaskan sejak dua pekan lalu, karena urusan yang mahapenting ini: lamaran.

“Hah, lamaran? Di Jogja? Besok?” ia terbengong-bengong. Mungkin di pikirannya, kok bisa ya, acara mahapenting itu kini terancam dengan deadline pekerjaan yang mendadak. Ya, namanya juga wartawan, nggak ada yang lebih penting dari yang namanya be-ri-ta.

“Iya, gue udah koordinasi sama Kepala Puat Liputan. Makanya semua laporan udah gue beresin.”

Tak pikir panjang, aku langsung ke stasiun membatalkan tiket kereta senja utamaku, lalu mengirimkan pesan singkat ke emak, yang saat itu sudah dalam perjalanan menuju Jogja, dan ke calon istriku. Dan sesuai perkiraanku, mereka terkejut.

Malamnya, aku telepon bapak calon mertua untuk menjelaskan penyebab yang menyebalkan ini. Dan berulang kali meminta maaf atas peristiwa yang tak kuduga.

“Tapi ibu dan keluarga saya sudah dalam perjalanan, pak. Kira-kira sampai Jogja, Sabtu pagi. Insyallah.”

Alhamdulillah, ia maklum atas kondisiku.

Sabtu siang, suasana rumah nan sederhana itu sudah ramai sejak pagi. Lantai disapu dan pel, tikar-tikar digelar, makanan tradisional disajikan di lantai. Dua keluarga bertemu, membicarakan nasib dua orang anak manusia yang akan disatukan atas nama cinta kepada Rabbnya.

Secara diam-diam, aku “berpolitik dua kaki”. Setelah pulang dari Jogja untuk berkenalan dengan keluarga calon istriku, aku bilang ke emak, kalau keluarga mereka menginginkan pernikahan ini disegerakan. Karena mereka adalah keluarga yang memahami Islam dengan baik sehingga tahu betul, pernikahan adalah jalan ibadah dan tak boleh ditunda-tunda.

Di sisi lain, aku menegaskan kepada keluarga Jogja, bahwa pernikahan ini harus disegerakan, karena merupakan bagian dari ibadah. Karena keluargaku juga ingin disegerakan. Aku memberikan perkiraan waktu, yaitu awal Januari 2010.

Pada pertemuan Sabtu siang itu, juga menyepakati tanggal pernikahan. Politik dua kaki yang aku mainkan berhasil. Keluarga Jogja mengira, bahwa keluargaku yang ingin disegerakan, dan sebaliknya, keluargaku mengira bahwa keluarga Jogja yang ingin disegerakan.

Akhirnya disepakati, satu bulan setelah Sabtu yang cerah itu, aku akan menikah, 22 Januari 2010.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published in101 Komunikasi Pasutri

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *