Skip to content

Jodoh Pilihan Emak (Bagian 5)

Aku pulang dari rumah Pak As dengan hati girang. Aku ceritakan pada emak, sosok perempuan yang akan menjadi menantunya kelak, khas perempuan Jawa yang emak idamkan.

“Lalu bagaimana?” emak menyelidik.

Karena aku cocok dan memang sudah jatuh hati, aku jawab, “Lanjut, mak.”

Emak mengangguk setuju.

Segera kukabarkan pada Pak As, kami sekeluarga setuju untuk melanjutkan proses perjodohan ini. Pak As memberikan nomor handphone calon istriku. Bingung aku, memulai percakapan dari mana?

Setelah beberapa saat aku mengonsep pesan singkat, lalu kukirimkan pesan. “Kapan bisa datang ke rumah? Emak mau ketemu.”

Dua pekan setelah itu, ia datang dengan kawannya. Di suatu Sabtu yang terik, setelah tanya sana-sini, akhirnya mereka tiba di rumah. Menemui emak dan dua kakak perempuanku. Sedangkan aku, masih di kantor, karena deadline pertama mengharuskanku menginap.

Saat matahari mulai tinggi, aku pulang ke rumah. Aku tak tahu persis apa yang terjadi di rumah. Aku bertanya pada emak, soal pertemuan tadi, soal calon istriku, soal calon menantunya kelak.

Emak senyum-senyum, tampaknya sesuai harapan. Emak memang mengidamkan punya menantu orang Jawa, sederhana, dan bekerja sebagai abdi negara seperti dirinya.

Rumus inilah yang menjadi dasar kriteriaku mencari sang pendamping hidup. Jangan tanya alasannya kenapa, sebab emak seolah punya satu kitab kuno yang tebal bernama “pengalaman” yang akan dia bacakan begitu aku menanyakan mengapa begini, mengapa begitu.

“Orang Jawa itu ulet,” katanya suatu ketika. “Juga nrimo.” Emak sepenuhnya sadar, bahwa kami lahir dan besar di Jakarta dengan segala kegetiran hidup. Bukan dari keluarga kaya lagi ningrat. Orangtua emak, bukan orang kaya yang memiliki warisan luar biasa untuk anak-anaknya. Jadi, pendamping hidup itulah yang akan menemani perjuangan kita sampai sukses.

Nrimo ing pandum, prinsip orang Jawa yang bermakna, “menerima dengan pemberian” atau dalam arti yang lebih luas bisa juga berarti ikhlas atas apa yang kita terima dalam kehidupan atau “legowo” dalam menghadapi setiap lika-liku dalam hidup.

Emak takut, kalau menantunya tak punyakarakter nrimo, akan serba menuntut. Mungkin dalam banyak pengalaman emak, istri yang menuntut akan menyulitkan suami sehingga ia bisa ‘gelap mata’ untuk memenuhi tuntutan sang istri. Entah nyolong, atau korupsi. Amit-amit.

Ia juga harus sederhana. Alasannya, karena kami bukan ‘siapa-siapa’. Kami mengukur diri, dengan siapa kelak keluarga kami akan menyatu dengan keluarga lainnya dalam ikatan besanan. Karakter sederhana juga harus terlihat dari dirinya yang tidak bermewah-mewahan atau tidak hidup di luar batas kemampuannya. Bukankah selalu berbahaya bila, lebih besar pasak daripada tiang?

Kriteria ketiga, abdi negara. Ini merupakan pengalaman pribadi kami. Emak dan bapak adalah abdi negara di instansi yang sama. Sejak bapak meninggal, praktis hidup kami ditopang oleh emak sendirian. Emak yang menyekolahkan kami, terutama aku, hingga jadi sarjana. Jadi, aku tahu betul, mengapa pesawat dua mesin lebih baik dari satu mesin. Jadi, emak tak ingin hal serupa menimpa keluargaku kelak.

Tiga kriteria itu, ternyata sama dengan kriteria yang Pak As pilihkan untukku. Aku, secara tidak langsung, telah mengubah status Pak As dari narasumber, menjadi mak comblang atau wali yang mencarikan jodohku. Ia seolah bertindak menggantikan bapak yang memberikan nasihat dan pertimbangan buatku.

Pada pertimbangan keduanya, aku manut saja. Dalam pandanganku, restu orangtua adalah segala-galanya. Ia adalah pembuka keberkahan langit yang tak ternilai harganya. Mungkin orang akan mencibir, atau paling tidak heran. “Kalau nggak cinta, bagaimana pernikahan bisa langgeng?”

Aku sering menjawab pertanyaan seperti itu dengan, “Adakah jaminan, bagi pasangan yang saling mencintai itu tidak akan bercerai?” Banyak pasangan yang sudah mengenal bertahun-tahun, kemudian cerai.

Bagiku, ketika cinta kita di-zoom out, tidak hanya fokus pada satu manusia (calon istri), tetapi banyak manusia (calon istri, keluarga) bahkan Allah, ada banyak alasan kebaikan untuk Allah membalas-Nya dengan kebaikan pula.

Dan yang paling penting, niat menikah. Niat ini bukan hanya sekadar berkembang biak, tetapi juga lebih tinggi lagi, ia adalah sarana ibadah, agar kita bisa mencapai surga-Nya kelak. Sebab pernikahan, telah banyak mengubah yang haram, menjadi halal.

Toh, seperti pepatah Jawa bilang, “Witing Tresno Jalaran Soko Kulino” atau “Cinta tumbuh karena terbiasa”. Sambil jalan, aku yakin Allah akan menumbuhkan cinta di antara kami, sebab niat mulia pernikahan.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published in101 Komunikasi Pasutri

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *