Skip to content

Jodoh Pilihan Emak (Bagian 4)

Di rumah, emak membaca berulang-ulang tiga lembar informasi seorang perempuan pilihan Pak As. Seorang perempuan Jawa berdarah Cilacap-Jogja, menetap di Jogja, dan bekerja sebagai abdi negara di BATAN Serpong, Tangerang Selatan. Anak ketiga dari empat, dan perempuan satu-satunya. Semuanya berpendidikan.

Emak bergidik.

“Duh, apa mereka mau ya dengan keluarga kita?”

Aku tahu kerisauan emak. Dengan gelar insinyur bapaknya, dan tiga anaknya yang lulusan kampus ternama di Jogja, emak mengambil kesimpulan keluarga ini sangat terdidik, baik-baik dan agamis. Sangat kontras dengan keluarga kami.

“Jangan berpikiran jelek-jelek dulu. Kalau emak setuju, kita temui dulu.”

Emak mengangguk. Dan sepertinya, semesta juga begitu.

***

Setelah aku kabari Pak As, kalau emak dan ketiga kakakku setuju dengan perjodohan ini, kami lantas mengatur waktu bertemu. Tahap pertama, hanya antara aku, Bapak dan Ibu As, beserta perempuan itu.

Sabtu yang dinanti pun tiba. Pagi-pagi, emak sudah sibuk mencari buah tangan. Dia beli buah anggur merah beberapa kilo, lengkap sudah dengan parcel keranjangnya.

“Kesan pertama harus baik,” emak beralasan.

Aku pamit saat udara masih dingin. Padahal, kami janji bertemu lepas Zuhur nanti. Tapi demi bertemu dengan perempuan yang akan dijodohkan itu, aku rela menunggu. Dari pasarebo, aku naik bus Agramas jurusan BSD. Dari persimpangan SGU, aku menumpang angkot ke arah Muncul, Tangerang Selatan. Sampai di perempatan Muncul, aku singgah di masjid Kampus ITI. Masih dua jam lagi dari waktu yang ditentukan. Aku sempatkan tanya-tanya perumahan yang dimaksud ke tukang ojek terdekat.

Setelah tahu arah tujuan sudah dekat, aku lega. Di dalam masjid, aku banyak berdoa agar usahaku menjemput jodoh tak bertepuk sebelah tangan.

Setelah solat zuhur, aku menumpang ojek ke rumah Pak As. Di sana, ia telah menunggu. Kami lalu makan siang bersama, mengobrol dan mendalami pribadi masing-masing.

Ada pertanyaan yang cukup menukik dari perempuan itu. Maklum, aku wartawan yang setiap hari mewawancarai narasumber. Dari pertanyaannya, aku bisa menilai dia merupakan perempuan yang pintar. Salah satu kriteriaku!

“Aku bekerja di radiasi nuklir. Kalau ternyata berdampak saya mandul, bagaimana?”

Aku tahu arah pertanyaan semacam ini. Ia ingin melihat, apakah calon suaminya, kelak akan menerima takdir bila istrinya mandul? Apakah si suami akan menikah lagi atau tidak? Pembicaraan mengenai poligami memang tak bersahabat bagi perempuan di negeri ini. Banyak yang belum siap, taka pa, itu manusiawi. Tapi lebih banyak yang mencela salah satu syariat ini karena minimnya ilmu dan pemahaman agama.

Aku ingat saat wawancara dengan Pak As mengenai prosedur kerja radiasi bagi penggunaan yang lebih masif, semisal radiasi untuk mengawetkan makanan. Akhirnya aku tahu salah satu tugas lembaga yang dipimpinnya, yaitu menjaga keselamatan para peniliti di lingkungan reaktor nuklir yaitu dengan penggunaan badge yang akan menyerap radiasi. Secara berkala, badge itu akan dipantau untuk melihat, sejauhmana kadar radiasi dari seorang peneliti.

Saat itu, aku hanya menjawab. “Saya tahu, Pak As dan Bapeten melakukan pemantauan yang baik bagi setiap peneliti. Jadi tidak perlu khawatir soal radiasi.”

Dalam hati, aku hampir tertawa, karena proses perkenalan ini mirip sidang skripsi. Tapi, tak apalah. Toh yang ditanyakan memang mengarah pada pemikiran masing-masing kami.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published in101 Komunikasi Pasutri

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *