Skip to content

Jodoh Pilihan Emak (Bagian 3)

Suatu pagi, Pak As mengirim pesan singkat. Aku diminta ke kantornya sore ini, usai jam kantor. Aku pun menyanggupinya. Aku lantas menyusun jalur liputanku, yang akan berakhir di sekitar kantornya di bilangan Harmoni, Jakarta Pusat, setelah ashar nanti.

Sore itu, aku diterima sekretarisnya. “Sudah ditunggu dari tadi, mas.”

Aku masuk ke ruangan berpintu besar. “Nah ini dia yang ditunggu,” ia menyambutku seperti anaknya sendiri.

Setelah makan bersama, ia mengeluarkan tiga amplop besar berwarna cokelat yang berisi biodata calon istri.

“Yang dua ini bekerja di swasta, usianya di atas kamu 4 dan 6 tahun. Yang ini, usianya 1,5 tahun di atas kamu, PNS.” Ia menjejer amplop itu di meja.

“Kalau bapak nggak keberatan, bapak pilihkan saja yang terbaik buat saya.”

Ia ambil amplop paling kiri, biodata terakhir, lalu menyerahkannya padaku. Aku hendak memasukkannya ke tas, lalu hendak pamit.

Dia mencegah. “Tunggu dulu. Buka dulu biodatanya.” Ia lantas mengambil amplop besar itu dari tanganku, lalu membukanya.

Ada foto perempuan itu. Aku melihatnya, jantungku meloncat-loncat. Aku girang bukan buatan.

“Baca dulu.”

Mataku bergerak-gerak dari atas ke bawah, membaca deretan informasi. Mulai dari nama lengkap, kelahiran, pendidikan, informasi keluarganya dan sebagainya. Tanganku gemetar memgang beberapa lembar yang terjilid kawat.

“Bagaimana?” Suara Pak As memecah lamunanku.

“Biar nanti emak yang putuskan saja, pak.”

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published in101 Komunikasi Pasutri

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *