Skip to content

Jodoh Pilihan Emak (Bagian 2)

Aku salami erat-erat narasumber di depanku. Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir atau Bapeten, Pak As Natio Lasman. Ia tersenyum bersahaja. Hatiku seperti sudah akrab dengannya. Kimia jiwa ini seperti langsung nyantel. Ya, aku selalu terpesona dengan pejabat yang sederhana.

Di akhir wawancara, ia menawariku melihat proyek pengadaan air bersih di Bribin, Gunung Kidul, Jogja. Aku iyakan, untuk bahan liputan edisi khusus teknologi, 17 Agustus mendatang.

Benar saja, beberapa bulan kemudian, aku diundang ke Jogja untuk melihat proyek Bribin II. Setelah mewawancarai beberapa orang di sana, termasuk ahli dari Jerman, kami kembali ke hotel menjelang maghrib dan berjanji kumpul di lobi hotel selepas solat maghrib.

Kami makan malam di satu sudut trotoar dekat hotel. Aku makin kagum dan percaya bahwa pejabat ini sederhana bukan buatan. “Ini soto kesukaan bapak,” bisik salah satu stafnya.

“Juga nasi merah dan sayur cabe di rumah makan di Gunung Kidul tadi?” aku menyelidik. Ia mengangguk.

Setelah makan malam, kami duduk di lobi hotel. Pak As mengangguk memberi kode pada stafnya untuk membiarkan kami berdua saja. Staf itu pun pamit langsung ke kamar.

Orbolan kami berdua langsung mengarah pada rencananya untuk mencarikanku jodoh. “Jadi mas sudah siap nikah?” Pak As memanggilku dengan sebutan “mas”.

“Kalau ada yang mau dengan wartawan seperti saya, yang jam kerjanya nggak jelas, yang mau hidup sederhana, saya mau pak,” agak bertele-tele dan malu-malu.

“Ada. Istri saya mengelola pengajian. Banyak yang belum menikah. Kapan bisa ke kantor saya?”

“Dua pekan dari sekarang, bagaimana?”

“Oke.”

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published in101 Komunikasi Pasutri

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *