Skip to content

Jodoh Pilihan Emak (Bagian 1)

Tentu, membicarakan soal jodoh itu gampang-gampang susah. Seperti maut dan rejeki, jodoh merupakan hal yang ghaib. Tidak ada yang tahu persis, jodoh kita siapa. Ia bisa mudah, didapatkan, bisa pula sulit.

Salah bila ada yang beranggapan, kalau dengan uang, bisa mendapatkan jodoh. Kita sering lihat bukan, ada orang yang terlihat hidup sukses dan mapan, tapi belum punya jodoh? Nah, kira-kira begitulah.

Seperti halnya aku. Jodohku terasa sulit dikejar dengan usaha seorang manusia. Aku ingin menikah sejak aku bekerja di sebuah lembaga zakat, saat itu aku berusia 21 tahun. Sudah bekerja, tapi belum lulus kuliah.

Beberapa kawan yang menjadi mak comblang dadakan, menawari jasanya untuk menjodohkanku. Berulang kali juga, emak menolak dengan alasan aku belum lulus kuliah.

“Selesaikan dulu kuliahmu.” Begitu kata emak singkat, kalau aku membicarakan soal pernikahan.

Aku manut.

Saat wisuda sarjana, emak dan abang sulungku hadir. Rasa bangga dan haru emak teraduk-aduk melihat prosesi wisuda yang bersahaja. Bagaimana tidak, hanya aku dari empat anaknya yang sarjana. Abangku lulusan diploma tiga, dan dua kakak perempuanku hanya lulusan SMK.

“Lihat mak, anaknya lulus dengan predikat sangat baik,” abangku berbisik menunjukkan buku wisuda kepada emak. Senyum emak merekah. Ada nama anaknya tertera dengan gelar sarjana sosial.

Usai lulus kuliah, aku sempat mengutarakan niatku untuk menikah. Emak tampak berat hati untuk mengabulkan. Aku nekat, mengenalkan beberapa perempuan, tepatnya hanya biodatanya saja yang mampir ke tangan emak.

“Bagaimana mak?” aku meminta persetujuan emak saat memberikan biodata seorang perempuan.

Mungkin orang bilang, aku ta’aruf. Karena aku hanya ingin menikah dan berkorban pada orang yang sudah jelas menjadi yang halal bagiku. Sejak dulu, aku tidak berani pacaran. Buatku, pacaran itu mahal, sedangkan aku orang tak berada.

Emak mengernyit, tanda tak setuju. Alasannya macam-macam. Mulai dari suku, sampai usia calon yang lebih tua dari kakak nomor tigaku.

Sampai suatu ketika, emak tersinggung dengan salah satu kriteria yang dipersyaratkan seorang muslimah dalam biodatanya.

“Orangtua menginginkan calon suami sarjana?” emak naik darah.

“Kalau anak emak nggak sarjana gimana?” Emak menolak syarat semacam itu yang membuat harga dirinya terusik.

Aku relakan untuk ke sekian kalinya. Aku mengalah.

Aku sudah pasrah takdir akan membawaku pada jodoh yang seperti apa. Aku tahu emak menginginkan perempuan Jawa yang nrimo dan bekerja seperti dirinya. Yang bisa tetap survive bila suaminya pergi lebih dulu, seperti dirinya. Syarat-syarat yang sebetulnya memiliki tujuan baik bagi keluargaku kelak.

“Kalau emak tak bekerja, ngga tahu kita akan seperti apa.”

“Nggak boleh begitu mak. Yang ngasi rejeki ‘kan Allah, lewat emak yang bekerja. Kalau emak ngga bekerja pun, Allah ‘kan nggak bakal lari dari tanggung jawab-Nya memberi rejeki setiap hamba-Nya.”

Bagian rejeki, aku sering berdebat dengan emak. Tapi daripada aku nggak nikah hanya karena mempertentangkan kriteria istri dari emak, lebih baik aku turuti. Oke, kata kuncinya, perempuan Jawa dan bekerja. Kalau bisa seperti dirinya; PNS!

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published in101 Komunikasi Pasutri

2 Comments

  1. Parhan hanapi Parhan hanapi

    jadi penasaran part selanjutnya kang

    • Lufti Avianto Lufti Avianto

      sudah ada lanjutannya kang, selamat membaca
      terima kasih sudah berkunjung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *