Skip to content

(Hari ke-9) Beasiswa Setengah Hati

Saat itu menjelang ujian EBTANAS, sebutan untuk ujian akhir nasional di era 1999. Aku sedang mengerjakan soal-soal latihan. Budhe Nomor Dua datang ke rumah bertemu emak. Entah membicarakan apa. Tahu-tahu, ia berjanji akan menyekolahkanku SMA nanti. Syaratnya, harus masuk SMA Negeri.

Aku merasa tertantang. Sekaligus menemukan jalan keluar untuk meringankan biaya hidup kami. Kalau aku masuk ke SMA negeri, artinya aku bisa meringankan pengeluaran emak.

Setidaknya SPP bulanan, buku pelajaran, perlengkapan sekolah, uang ujian dan biaya kursus atau tambahan pelajaran ini-itu, emak tak pusing lagi. Sebab, saat aku masuk SMA, si Nomor Tiga yang selisih dua tahun, masih kelas tiga SMK. Masih ada dua anak emak yang masih sekolah.

Bayang-bayang “beasiswa tidak mampu” dari keluarga selalu aku bayangkan saat mengerjakan soal-soal latihan. Agar aku punya semangat dan energi lebih untuk belajar sehingga aku betul-betul masuk SMA negeri. Targetku sederhana, SMA negeri. Bukan SMA negeri favorite atau unggulan. Pokoknya negeri. Titik.

Doaku terkabul, aku diterima di SMA negeri. Tidak asal negeri malah. SMA yang menurutku bagus. Kartu pengumuman itu dibagika wali kelasku. Di situ tertera, aku diterima di SMA N 62. Aku lari sekuat-kuatnya ker rumah. Hanya taruh tas dan mengganti sepatu, -belum ganti baju- aku langsung berlari menuju rumah budhe. Menagih janjinya.

Saat menerima kartu pengumuman, budhe cuma bilang, “Ooo…” dengan wajah yang biasa-biasa saja. Seolah energy kebahagiaanku yang memantul-mantul itu, tak ia rasakan. Anak yatim yang miskin ini, yang sudah lari sekencang-kencangnya dari sekolah menuju rumah, lalu transit sebentar, kemudian menghadapnya, untuk memberikan kebahagiaan itu -dan ingat, budhe adalah orang pertama yang menerima kabar kelulusanku di SMA negeri setelah aku sendiri- hanya berujar, “Oooo…”

Aku pulang dengan lesu. Ada firasat yang tidak enak. Tapi kutepis saja, toh ini adalah momen kebahagianku, jadi rayakan sendiri saja dengan tidur siang di rumah.

Sore hari, emak pulang dan tahu anak bontotnya diterima di SMA negeri, juga senang dan bangga. “Kamu udah kasih tahu budhe?”

“Sudah.”

Dan kehidupan kami berjalan seperti sebelumnya, seperti biasanya. Emak bayar SPP, perlengkapan sekolah, seragam dan lain-lain. Beberapa bulan kemudian, aku dipanggil budhe ke rumahnya. Sudah ‘GR’ rasanya. Beasiswa macam apa yang anak yatim ini dapatkan.

Di meja makan itu, ada pakdhe. Ia menanyaikan soal berapa SPP bulanan, rincian biaya ini-itu seperti kursus dan lain-lainnya. “Jadi, 35 ribu per bulan, sudah termasuk kursus komputer 10 ribu?” tanya pakdhe.

“Iya, pakdhe.”

“Kamu ngga usah ikut kursus saja…”

Aku menelan ludah. Glek.

Masuk bulan ketujuh, menjelang lebaran. Aku dapat kiriman amplop dari budhe. Di bagian belakang amplop tertulis, Rp25.000 x 6 bulan = Rp 150.000. Karena kehadiran amplop itu, emak tidak mendapat THR yang biasa budhe bagikan untuk saudara-saudaranya.

“Jadi biaya SPP ini pengganti THR?” emak akhirnya tak bisa menahan rasa kecewanya.

Jumlahnya pun tak penuh, seperti yang dikatakan pakdhe, ia tak menanggung biaya kursus komputer yang diwajibkan sekolah. Bayanganku tentang beasiswa yang bisa membantu perekonomian kami, sirna. Tak ada perlengkapan sekolah, taka da buku-buku dan tambahan biaya lainnya. Jadi janji untuk “menyekolahkanku” itu maksudnya hanya membayar SPP bulanan saja, dan itupun tak penuh.

Tragisnya, anak yatim miskin macam aku harus lebih kecewa lagi, karena amplop berisi uang 150 ribu itu hanya diterima pertama dan terakhir. Hingga aku lulus SMA, bahkan lulus dari sarjana bahkan magister, tak ada bantuan apapun lagi yang datang.

Sumber foto: Nicepik

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published inMemoar Emak

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *