Skip to content

(Hari ke-8) Mencari Pengganti Bapak

Sore itu, emak pulang diantar teman sekantornya dengan motor bebek, sampai di gerbang depan rumah. Sore sebelumnya, juga diantar kawan lelaki lainnya dengan Vespa. Dua hari berikutnya, emak diantar kawannya yang lain. Itu memang berlangsung hampir tiap hari.

Emak memang supel, banyak kawan. Aku pernah membuktikan itu, saat rutin ikut kursus bahasa Inggris tiga kali sepekan yang diadakan di kantornya. Banyak sekali yang kenal emak. Di lift, atau saat berpapasan di jalan, ada saja yang menegurnya.

Tapi soal bonceng-membonceng itu, ada saja mulut usil yang menyebut emak “janda gatel” karena sering gonta-ganti yang mengantar. Bahkan emak sampai digunjing sebagai perempuan macam-macam.

Emak tak ambil pusing. Prinsipnya, selama tidak macam-macam, tak perlu mendengar omongan orang.

Para kawan emak yang laki-laki, memang banyak yang jatuh hati. Emak menceritakan itu pada kami. Mereka memang lelaki yang “ada udang di balik batu.” Tapi kemudian mundur teratur setelah tahu emak punya empat anak.

Aku pernah bertanya, mengapa emak tak menikah lagi?

“Kalau mau sama emak, harus mau juga sama anak-anak,” begitu kata emak. Itu memang bukan syarat pertama, tapi yang utama.

Dan kriteria lainnya, dia harus seiman dan shalih seperti bapak, sehingga bisa menjadi imam keluarga. Mengajarkan agama buat anak-anak dan tentu saja membimbing semua. Kedua harus ganteng, atau paling nggak, enak dipandang. Kriteria berikutnya agak umum, seperti baik, sabar dan sebagainya.

“Apa yang emak kenal ada kriteria itu?” aku menggoda emak.

“Nggak ada.” Kami tertawa.

Akhirnya, para kawan lelaki itu ada yang mundur teratur, ada yang masih menjalin pertemanan, ada juga yang masih coba merayu emak dengan segala cara. Ada yang sering mentraktir makan siang, memberi uang, memberi oleh-oleh dan hadiah-hadiah lainnya. Bahkan ada yang mencoba mengambil hati kami dengan cara sering datang ke rumah membawa makanan dan mentraktir kami.

Tapi emak bergeming.

Emak sih terima saja pemberian itu yang dianggap rejeki. Yang penting kata emak, perasaan dan keputusannya nggak terpengaruh. Kriteria di atas, tetap yang jadi pedoman untuk mencari sosok calon suami yang dianggap ideal.

Saya ingat, ada satu kawan emak yang sangat baik dan terlihat tulus membantu kami. Ia sering datang kalau di antara kami ada yang sakit. Apalagi dia punya keahlian memijat, sehingga punya cukup alasan untuk mengunjungi kami di saat tak enak badan sekalipun, kemudian membawa buah-buahan. Sayangnya, lelaki ini tak memenuhi dua kriteria tadi, seiman dan ganteng.

Ada lagi, kawan lelaki yang lebih muda dari emak. Dia terlihat shalih dan ganteng. Tapi ia sudah beristri. Tentu saja emak menolak, dan tak mau jadi penyebab rusaknya rumah tangga orang.

Ada lagi yang tiba-tiba hadir dalam kehidupan kami. Dia, teman kantor emak yang sangat mirip dengan bapak, dan terlihat shalih. Saat itu, aku kelas empat dan akan sunat. Dia hadir seperti seorang bapak bagi anaknya, dan suami bagi emak. Membantu semua hal di tengah kerepotan mengurus hajatan. Setelah hajatan selesai, ia masih rutin menjenguk hanya untuk sekadar mengganti perban bekas khitan. Tapi ternyata, ada udang yang ia incar, yaitu duit hasil sunatan, ia bawa kabur.

Macam-macam lelaki yang pernah mendekati emak dan tak satupun yang memenuhi kriteria. Bagi emak, tak ada yang sepadan dengan bapak, sosok lelaki shalih, ganteng, baik dan mau membantu urusan rumah tangga. Tak ada duanya.

Emak pun masih diantar kawan lelakinya. Alasannya, “Ngirit ongkos,” katanya.

Sumber foto: Nicepik

(Visited 1 times, 2 visits today)
Published inMemoar Emak

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *