Skip to content

(Hari ke-7) Emak Pingin Naik Haji

“Mana mungkin bisa beli komputer, aku aja belum beli.”

Emak terdiam ketika perempuan muda di hadapannya menanggapi dengan ketus keinginannya untuk membeli seperangkat barang mahal itu. Ketika itu, emak mengutarakan keinginan membelikan komputer untukku. Tapi justru jawabannya, seperti yang tak dia harapkan dari adik bungsunya itu.

Emak miris, melihatku selalu menginap di rumah teman untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah. Apalagi, kuliahku sudah memasuki tahun ketiga dan akan segera wisuda. Tugas-tugas makalah dan persiapan skripsi tentu menanti.

Kejadian yang bikin emak murung, terjadi lagi.

“Pingin deh naik haji,” kata emak usai mengantar kakak perempuannya ke Asrama Haji Pondokgede, Jakarta Timur. Tanggapan sinis juga didapatnya.

“Mana mungkin haji, ya aku duluan lah.”

Aku tahu, emak tak sepenuhnya diam. Aku tahu emak mengadu kepada Allah swt di sela-sela shalat wajib dan sunnahnya. Aku tahu emak menangis ketika diperlakukan begitu. Aku tahu emak sakit hati. Aku tahu betul emak.

Memang, emak ‘cuma’ abdi negara dengan pendapatan yang hanya sepertiga pendapatan adiknya yang berdinas swasta. Pendidikan emak juga hanya SLA yang mentok digolongannya IIIA. Apalagi setelah kematian bapak saat kami masih kecil, praktis beban hidup, emak yang merantasi.

Maka ketika emak pensiun, emak emoh bekerja, meski akan dikaryakan kembali sebagai tenaga honorer. Emak memilih sibuk dengan pengajian rutin dan kegiatan lainnya di rumah. Diam-diam, emak belajar dan mempersiapkan diri untuk naik berangkat haji. Ia menghapal doa dan memperlancar bacaan Qur’annya.

Dari uang pensiun, ia lalu mendaftar ke sebuah yayasan atas rekomendasi guru mengajinya pada bulan Maret. Hanya dua pekan setelahnya, sang ustadz pembimbing haji, menelepon emak dan menyatakan emak bisa segera berangkat.

Raut wajahnya tegang, mulutnya ternganga.

“Apa bener nih ustadz…?” suaranya menggantung, kemudian berganti dengan dzikir dan syukur, usai pembicaraan lewat telepon itu.

Emak bisa berangkat tahun itu juga.

Kemudian, hari-hari emak bertambah sibuk dengan serangkaian pengajian dan latihan manasik dari pihak yayasan. Aku sempat menemaninya. Aku lihat sorot mata emak yang antusias mengikuti serangkaian acara. Ia menghapal doa-doa, meperhatikan gerakan-gerakan dengan saksama, dan mempersiapkan perlengkapan dengan baik. Aku tahu emak sangat well prepared.

Banyak orang terdiam, ketika tahu kabar emak akan berangkat haji. Termasuk adik perempuan sulungnya, atau tetangga kanan-kiri yang menyimpan dengki dengan keberuntungan emak. Ya, memang beruntung dipilih Allah swt begitu cepat sebagai tamu-Nya di Tanah Haram. Bukan apa-apa, kita tahu bahwa mendaftar haji saat ini, baru empat-lima atau enam tahun kemudian baru bisa berangkat. Antreannya sudah mengular.

Kata sang ustadz, emak cerita padaku, dirinya diprioritaskan karena sudah masuk kategori ‘sepuh’. Yayasan Al-Anshar di Cileungsi mendahulukan calon haji yang sudah lanjut usia, ketimbang yang masih muda. Ya, emak saat akan berangkat, sudah 57 tahun.

Aku pernah mendengar ceramah yang bilang, “Allah-lah yang memperjalankan haji setiap hamba-Nya.”

Maksudnya, sebanyak apapun uang kita, kalau hati belum terketuk untuk berhaji, niscaya takkan juga kita menyentuh rumah-Nya. Juga, betapapun usaha kita melalui travel mahal kenamaan sekalipun, bila Allah belum takdirkan untuk kita menjejak ke Tanah Haram, maka itu takkan terjadi. Bukankah kita pernah mendengar ada biro perjalanan haji kenamaan yang menipu mentah-mentah ribuan jamaahnya?

Jadi, Allah-lah yang memilih sesuai kehendak-Nya, siapa-siapa saja yang layak menjadi tamu di Rumah-Nya. Tugas kita hanya mensucikan niat dan menjaga usaha-usaha kita agar sesuai dengan syariat, kemudian banyak-banyak bertaubat, sehingga bila saatnya kita tiba untuk beribadah haji, Allah menerima ibadah kita dan menjadikan kita sebagai hamba yang lebih baik dari sebelumnya (mabrur).

Itu yang aku sampaikan kepada emak. Tak henti-hentinya ia menangis haru, tak menyangka bahwa Allah menerimanya secepat itu.

“Jaga kesehatan ya mak, banyak berdoa dan ibadah. Doakan anak-anak emak, supaya bisa segera beribadah di Tanah Suci. Semoga emak pulang menjadi haji yang mabrur,” aku berbisik sambil mencium pipi emak yang sudah mengendur saat mengantar emak ke Asrama Haji.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published inMemoar Emak

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *