Skip to content

(Hari ke-6) Ekonomi Kuat

 

Dalam keluarga besar emak yang satu buyut, ada program bantuan sosial. Macam bantuan presiden bagi-bagi duit untuk rakyat jelata dalam menopang biaya hidup atau biaya sekolah. Saudara yang dianggap kaya atau memiliki kelapangan rejeki, akan menyetorkan sejumlah uang yang kemudian dikelola untuk membantu saudara lain yang susah.

Yang disasar kala itu, biaya sekolah. Usut punya usut, disensuslah siapa saja dalam keluarga besar itu yang dianggap memerlukan bantuan. Emak girang mendengar program itu.

Perjuangan beratnya membesarkan empat anak, ternyata didengar keluarga besar. Dan emak yang lama menjanda begitu berharap, mendapat uluran tangan sekadar untuk membuat ‘napas hidupnya’ sedikit longgar.

Ternyata emak salah. Bantuan langsung tunai ala presiden itu, tak pernah menghampirinya.

Tak hanya kecewa, emak juga sakit hati. Sebab, yang sampai kepada kami justru kabar dari burung yang bilang, “Dia nggak usah dikasi bantuan, ekonominya, kan kuat.”

Emak sakit hati. Ingin hati mendapat perhatian, malah mendapat kabar yang bikin perih perasaan.

Aku tahu emak menangis dalam hati. Baginya ini tidaklah adil. Ia janda dengan empat anak yang masih sekolah. Memang emak bekerja, tapi tahukah kalian berapa gaji pegawai negeri golongan dua di era 1990?

Kalau toh pun kami terlihat bisa sekolah dan makan, itu karena emak memang mendidik kami untuk tidak usah menceritakan luka dan perihnya hidup kami kepada siapapun. Kami juga diajarkan untuk tidak mengemis dan menjual duka kami agar orang iba lalu membantu kami. Tidak pernah. Emak itu perempuan yang kuat.

Yang lebih menyakitkan, yang mendapatkan bantuan biaya pendidikan adalah saudara kami yang punya rumah sendiri, dengan ayah-ibu yang lengkap dan punya penghasilan, punya usaha warung.

Adilkah ini? Mungkin begitu emak menggugat. Tapi Tuhan juga tak tidur.

Dua puluhan tahun kemudian, kami baru mengerti cara Dia mendidik kami. Dengan kesulitan, tanpa bantuan saudara-saudara dekat, dengan darah dan keringat seorang janda untuk empat anaknya. Kami baru tahu rahasia Tuhan. Bahwa orang hebat –dalam level apapun- tidak pernah lahir dari kemudahan-kemudahan.

Asalkan kita menerima dengan ikhlas, berpikir positif dan berusaha keras untuk mengubah nasib, Dia pasti akan memberikan yang terbaik. Kami jadi mensyukuri itu semua. Kami jadi tahu, rahasia melahirkan manusia kuat, yang kelak akan kami jadikan bekal untuk mendidik anak-anak kami.

Tatapan yang merendahkan terhadap emak di masa lalu, kini mulai berbeda. Keberhasilan, kalau boleh dianggap begitu, dilihat saudara dan kerabat. Emak yang tak pernah mengeluh telah melihat anak-anaknya bekerja dan mentas satu per satu. Apalagi ada anaknya yang lulusan master. Emak tambah bangga.

Tetiba aku ingat beberapa orang yang dilahirkan dalam keadaan kaya dan bergelimang fasilitas kemudahan nan mewah. Seorang remaja yang tinggal satu kampung. Ayahnya kontraktor, yang sedang sukses. Ia minta mobil sedan untuk pergaulan, dikabulkan. Tak sampai sebulan, ia bosan. Lalu minta motor ber-cc gede, juga dikabulkan. Mobil pun dibiarkan hingga menjadi rongsokan. Kini, remaja itu tak menjadi apa-apa dan tak punya apa-apa.

Satu lagi cerita dari dekat. Salah satu kerabat, juga sama. Empat anaknya diguyur fasilitas mewah sejak kanak-kanak. Mau belanja di mana saja, tinggal tunjuk. Mau liburan ke Eropa, tinggal bilang. Mau apapun, pasti dikabulkan. Tapi sayang, mereka tak dibekali iman dan ilmu sehingga kini hidup dalam kegamangan dan kemiskinan. Na’udzubillah.

Aku, pada akhirnya, memahami jalan pikiran emak, bahkan bisa merasakan cita-cita sekaligus kegelisahan seorang orangtua single sepertinya. Dia seolah-olah berkata, “Kamu boleh susah, tapi seluruh dunia nggak perlu tahu dengan keluh-kesah kamu. Cengeng pada nasib, takkan mengubah sulit jadi mudah. Berjuang saja dan pasrahkan hasilnya pada Tuhan yang tak pernah tidur.”

Dan selalu, pelajaran ada di belakang cerita. Kalau di depan, bukankah namanya pendaftaran?

Sumber foto: Nicepik

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published inMemoar Emak

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *