Skip to content

(Hari ke-5) Meningitis

Ponsel di saku celanaku terus bergetar tanpa suara. Sengaja kupilih silent mode kalau sedang tugas wawancara. Takut mengganggu.

Tapi, siapa yang terus-terusan telepon dari tadi?

Segera kupijit ikon telepon warna hijau di sudut ponsel saat sebuah panggilan kembali masuk dengan nama yang kukenali.

“Emak…” suara di seberang telepon tersedak oleh tangisnya yang pecah.

“Udah nggak sadar kayaknya,” suaranya makin pelan ditelan isak tangisnya yang malah mendominasi pembicaraan udara itu.

Segera kututup telepon dari kakak perempuanku, si Nomor Dua. Sebelum berangkat kerja tadi, sengaja kuminta dia untuk langsung mengabarkan bila keadaan emak menjadi tambah gawat. Dan ternyata, firasatku benar. Eama tak sadarkan diri.

Usai wawancara selesai, kupacu sepeda motor hitamku dengan cepat. Menyusuri jalan di bilangan Kalimalang menuju Kramatjati.

Empat puluh menit kemudian, aku sampai di rumah. Menerobos masuk rumah tanpa uluk salam, menuju kamar emak di ujung rumah. Kulihat perempuan yang melahirkanku itu dalam keadaan lemah tanpa daya.

Di bangsal kayu mahoni itu, ia rebah. Dengan daster merah marun tanpa jilbab yang biasa ia pakai. Di sisi kirinya, si Nomor Dua duduk sambil mengganti air kompres, di keningnya yang mulai banyak kerutan. Rambutnya yang sudah didominasi warna putih, tampak basah dibalut sepotong handuk kecil berwarna hijau. Aku mendekat dengan rasa cemas. Serasa jantungku meloncat-loncat.

“Maak…,” aku membisiki di telinga kanannya. Mencoba membangkitkan kesadarannya. Tak ada respons. Tatapan matanya kosong menyisir sudut langit-langit rumah. Hanya sedikit erangan kecil yang keluar dari mulutnya.

“Kita bawa ke rumah sakit aja,” aku memutuskan, sambil menatap si Nomor Dua. “Kemasi baju emak,” pintaku seraya meninggalkan kamar untuk memanggil taksi.

Dua puluh menit kemudian, aku dan si Nomor Dua sudah berada di Unit Gawat Darurat RS Haji, Jakarta Timur. Hari masih siang, hampir pukul setengah dua. Emak segera mendapatkan pertolongan. Seorang dokter perempuan paruh baya berjas putih menanganinya selama hampir lima belas menit. Tanpa ditanya, dokter itu menjelaskan alasan agar emak segera mendapat perawatan intensif.

“Saya curiga ada sesuatu di otaknya yang mengakibatkan ibu anda tak sadar,” kata dokter itu sambil melepaskan steteskop dari telinganya.

“Sesuatu?” aku heran mendengar penjelasan abstrak dokter wanita itu.

Membetulkan letak kacamatanya yang melorot, dokter berkerudung itu berkata, “Yaa, seperti kuman, mungkin. Makanya perlu CT Scan, rontgen, juga periksa darah untuk memastikan jenis penyakitnya. Saya curiga, mungkin meningitis,” katanya meluncur dengan hati-hati.

Meningitis?

Segera kupesan ruang rawat inap di bagian administrasi.

***
Emak baru saja dipindahkan dari UGD ke ruang perawatan. Di kelas III itu, emak menempati bangsal paling pojok, dekat toilet. Aku dan si Nomor Dua tak saling bicara. Kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Kuputuskan untuk keluar ruangan itu.

“Mau ke mana?” hening itu akhirnya pecah dengan tanya si Nomor Dua.

“Ke administrasi. Ada yang belum sempat dibayar tadi,” aku melangkah menuju pintu di sebelah kanan bangsal. Belum genap langkah ke tiga setelah pintu ditutup, terdengar teriakan histeris dari dalam ruangan yang baru saja kutinggalkan.

“Toloooooooooongggg…” Jeritan itu membuat jantungku berdetak makin cepat. Memompa darah lalu mengaliri seluruh tubuh, wajah juga ke kepalaku. Pusing. Aku mengenali suara itu. Suara yang tadi pagi juga membuat irama jantungku lebih cepat.

Ada apa lagi ini? Aku bergerak cepat, seperti melawan waktu. Terasa berat dan lambat.

Badanku menggigil ketika melihat tubuh emak yang mengejang dan meronta. Mulutnya dipenuhi busa. Matanya terbelalak ke atas. Kedua tangannya mengepal.

Aku harus bertindak.

Aku teriak sekeras-kerasnya di lorong. Dinding yang bercat putih itu, menggaungkan suaraku.

“Dokter… Suster… TOLONGG…”

Secepat kilat, dua perawat; lelaki dan perempuan serta dokter yang tadi memeriksa di UGD memberikan pertolongan pertama. Yang perawat perempuan mengecek tekanan darah. Sangat tinggi; 200 per 100. Sementara yang lelaki memeriksa mulut, mengelap busanya, kedua bola mata dan infus yang menancap di pungung tangan kanannya.

“Kita harus rawat di ICU,” putus dokter sambil melepaskan steteskopnya.

***
“Uang saya cuma ada segini bu,” aku berusaha memberi penjelasan kepada petugas administrasi. Perempuan berkerudung hijau tosca itu menatapku lekat-lekat. Entah apa yang dia perhatikan. Menghela napas, lalu berkata, “Baiklah, nanti kalau sudah ada lagi, mohon disetor lagi ya, mas?” katanya ramah sambil menghitung kembali sembilan lembar seratus ribuan itu.

Lima menit sebelumnya, petugas administrasi itu menyodorkan daftar biaya perawatan rumahsakit itu. Satu malam di ICU, hampir lima juta rupiah. “Jumlah ini kalau semua peralatan dipakai,” jelasnya yang kuuikuti dengan anggukan tanda setuju.

***
Setelah dua malam di ruang ICU, lantai dua rumah sakit swasta itu. Kulihat, emak sudah lebih tenang. Tak meronta lagi setelah dokter ahli saraf memberikannya penenang. Kuperhatikan monitor elektroradiogram di sebelah kanan bangsalnya dari luar ruangan. Garisnya naik-turun dengan kerapatan yang kecil. Aku tersentak, ketika seorang dokter spesialis saraf keluar dari ICU. Menatapku.

“Anda keluarganya?” ia menatapku.

Aku mengangguk lemah.

“Alhamdulillah. Ini keajaiban. Obat yang diberikan ternyata berhasil membunuh kuman yang ada di kepala ibu anda. Dalam dua-tiga hari, sudah bisa dipindah ke ruang perawatan.”

Penjelasan selebihnya, tak kudengar persis. Hanya dua kalimat pertama saja yang kurekam. Selebihnya, dadaku bergemuruh dipenuhi syukur dan keharuan yang menyeruak. Mataku basah.

“Terima kasih ya Allah.” Doaku terjawab.

Sumber foto: Nicepik

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published inMemoar Emak

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *