Skip to content

(Hari ke-4) Ketika Bapak Pergi

Nama bapak Supriadinata bin Raden Djuharta. Ia menjadi yatim saat masih kecil, dan dibesarkan dan dididik uwak lelakinya ala militer. Lalu menurunkan pola pendidikan itu kepada kami, keempat anaknya.

Bulan September 1991 di hari kesembilan, ia meninggalkan kami di usianya yang masih muda, 37 tahun. Ia tak mewariskan harta apapun, bahkan rumah yang kami diami, masih menumpang di rumah nenek dari emak. Tak ada benda berharga, kecuali setumpuk buku, beberapa ekor ayam peliharaan, sederet tanaman hias yang menjadi kegiatan sorenya, juga wasiat mendirikan shalat dan tetap melanjutkan madrasah sore kami.

Bapak meninggal saat aku baru kelas dua sekolah dasar, abang tertuaku kelas satu SMP, dan dua kakak perempuanku kelas enam dan empat sekolah dasar. Ia menderita penyakit yang langka, batu pangkreas, sama seperti penyakit Kaisar Jepang kala itu, Hirohito yang juga berakhir mangkat.

Aku tak tahu kalau penyakit itu berbahaya. Aku masih sangat belia untuk memahami soal derita. Yang kuingat, bapak selalu menepuk-nepuk perutnya usai makan sebab mengaku kembung. Ia lantas dirawat di RS Cipto Mangunkusumo dalam waktu yang lama, ketika keadaannya memburuk. Wajahnya kuyu, bicaranya pelan, dan mata bagian bulbar conjunctiva, yang berwarna putih, berubah jadi kuning.

Dan kemudian, suasana rumah tiba-tiba menjadi sepi. Tak ada kegiatan belajar kami selepas solat maghrib. Di meja makan yang disulap menjadi meja belajar empat anak dengan bapak sebagai gurunya. Saat itu, aku kagum sekali. Bapak sangat memahami semua pelajaran anak-anaknya. Maka secara berurutan, ia akan mengecek pemahaman kami dan pekerjaan rumah dari anak yang tertua.

Kalau ada yang loading lambat, maka suara bapak akan meninggi, disertai dahinya yang mengernyit.

Pada adegan lain, kami harus masuk ke kamar satu per satu untuk menyetor hapalan perkalian. Yang belum dapat giliran, harus menunggu di luar kamar, di depan pintu yang bertempelkan poster perkalian satu sampai perkalian 10.

Kalau kami salah, jari jemari bapak akan mengacung untuk menghitung sejumlah kesalahan. Untuk menebusnya, bapak sudah menyiapkan beberapa jenis hukuman fisik. Kami tegang kalau sudah mulai setor hapalan.

Bayangan itu meredup ketika bapak dirawat berbulan-bulan lamanya.

Malam-malam lebih banyak kami lewati dengan gelap dan sepi. Selepas solat isya dan makan malam, kami langsung tidur. Karena tak ada yang menemani kami belajar. Emak pun turut menemani di rumah sakit. Hanya sesekali nginap di rumah untuk istirahat.

Suatu hari, kami rindu bapak. Paman dan bibi kami, mengantar kami ke rumah sakit. Dari balik kaca besar, bapak terbaring di bangsal ICU. Kami bicara dengan bapak menggunakan telepon interkom. Bergiliran, satu persatu dari kami bicara dengan bapak.

Ketika gagang telepon diberikan padaku, aku mengadu banyak hal, sampai-sampai hal tak patut kuceritakan.

“Pak, tadi ada yang berantem….” Kemudian gagang telepon direbut. Suara berikutnya yang kudengar dari emak dan saudaraku yang lain, justru memarahiku.

“Apa-apaan sih kamu?”

Aku baru menyadari kekeliruanku, beberapa detik kemudian. Ada rasa sesal yang sangat besar sekali mengimpit dadaku. Aku mundur beberapa langkah, lalu mengunci suara. Lalu melihat wajah lelah emak yang selama berbulan-bulan menjaga bapak. Ia hanya pulang beberapa kali seminggu, mengedrop pakaian kotor, mengambil barang-barang yang diperlukan, lalu kembali lagi ke rumah sakit.

Dan hari yang tak pernah kami inginkan itu datang.

Sampai suatu siang yang senyap di rumah, telepon yang sengaja dipasang di rumah, demi bisa menjaga kontak kami dengan mama di rumah sakit, bordering-dering. Pamanku, adik dari emak yang mengangkatnya. Aku menyaksikan, kalau detik selanjutnya lantas mengubah hari itu menjadi tangis massal dan kedukaan.

Pamanku mengangguk-angguk mendengar suara di seberang kabel itu, lalu tersedak dan menangis. Ia lantas memanggil dan memelukku, sambil berbisik, “Bapakmu sudah nggak ada….”

Aku delapan tahun saat itu. Diam, tak tahu apa artinya nggak ada, mati, meninggal, wafat atau apapun itu. Yang aku tahu, situasi di rumah menjadi ramai, dan riuh dengan tangis yang bersahut-sahutan. Bahkan anak-anak sebayaku yang baru pulang sekolah melintasi rumah, menontoh keriuhan itu. Aku ikut menangis tanpa tahu artinya ditinggal orang yang paling kukasihi. Sosok bapak yang tegas dalam urusan agama, pendidikan, sekolah, mengurus rumah, kini tiada.

Pamanku yang lain, menjemput satu per satu ketiga kakakku di sekolah. Yang paling kuingat, abang tertuaku meraung-raung di kamar –kamar satu-satunya jatah kami yang juga kamar bersama. Aku mengintipnya dari kaca, ia mengunci diri dan mengobrak-abrik kasur dan barang-barang. Ia tampak begitu terpukul. Dua kakak perempuanku tak kalah sembap.

Kami diminta bersiap-siap untuk segera menyusul ke RSCM. Kukenakan kaos New Kids on The Block bercorak merah dan sepatu sendal Neckermen cokelatku. Kami diantar dengan mobil pakdhe ke ruang jenazah yang terletak di bagian belakang rumah sakit itu, selepas maghrib.

Sejak kusaksikan telepon duka itu, aku berdiam diri. Aku hanya menyaksikan banyak orang dewasa yang pecah tangisnya. Emak terduduk di kursi besi berjok merah. Kursi yang biasanya kulihat ada di acara pesta pernikahan, kini berjejer di ruang jenazah dengan suasana yang kontras.

Emak sudah tak menangis. Ia menyalami ucapan belasungkawa karib kerabat yang datang. Aku menghampirinya, lalu memeluknya. Aku menangis dengan suara tertahan. Kemudian emak mengantarku, masuk ke ruang jenazah dan kulihat bapak terbujur kaku di sana. Wajahnya bersih. Aku mendekatinya dengan suara-suara imbauan di belakangku yang bersahut-sahutan, “Jangan sampai air matamu menetes di jenazah. Hati-hati…”

Jarak tubuhku hanya sejengkal saja. Aku mendekat dengan perasaan yang tak kumengerti. Yang kurasakan saat itu, ah, bapak hanya tidur, dan akan bangun kembali lagi nanti, lalu menyuruhku mencari batu-batu kecil untuk menghias tanamannya di hari Minggu pagi. Kalau sudah penuh sekaleng susu besar, ia akan mengupahku Rp50 untuk jajan hari itu. Ya, aku yakin, laki-laki itu akan bangun, lalu menggelar tikar di teras rumah dan menyetop tukang bakwan Malang kegemaran keempat anaknya, lalu menyantapnya, sementara ia akan menghisap rokoknya, dengan lampu teras yang dimatikan.

Aku yakin itu…

Malam itu juga, keluarga besar kami mengantar jenazah ke Desa Wanayasa, Purwakarta, Jawa Barat. Sebelum meninggal, bapak sudah memberi isyarat kepada emak, kalau ingin istirahat di sana. Maka, emak memaknainya dengan peristirahatannya yang terakhir, di tempat kelahirannya. Bapak betul-betul beristirahat di sana.

Malam betul kami tiba di sana, di rumah bibiku, dengan udara yang dingin berkabut. Pagi harinya, bapak dimandikan di teras bagian timur yang ditutupi dengan kain, di rumah adik bapak terkecil, Bi Titin. Aku hanya melihat air yang mengalir dari teras itu, melewati selokan kecil, lalu berakhir ke kolam ikan mujair di bagian depan rumah.

Setelah bersih, dikafankan dan dishalatkan, jenazah bapak lalu diantar ke pekuburan yang tak jauh dari rumah adik bapak yang lain. Di perjalanan, menurut cerita emak, aku bersorak-sorak gembira seperti mengantar pengantin sunat dengan sesingaan seperti adat Sunda. Kepada sepupuku yang lain, aku berteriak, “Hore, bapakku meninggal…”

Aku tak ingat, bagian yang paling tolol itu. Kalau saja aku menyadari kepergian bapak itu untuk selamanya, maka aku tak akan tidur semalaman untuk terus mencium dan memeluk tubuh tegap itu sampai ia dimakamkan. Aku akan melakukan itu, bahkan lebih dari itu. Aku ingin ikut memandikan tubuh yang menafkahkan kami dengan uang halal, lalu menyolatkan dan menunggu di dasar liang, menerima tubuhnya, mendaratkannya dengan hati-hati, lalu mengadzankannya.

Tertulis di papan kuburnya yang sederhana, tiga baris informasi standar; nama, tempat dan tanggal lahir, serta tempat dan tanggal wafat; Supriadinata, Purwakarta, 6 Desember 1952, dan Jakarta, 9 September 1991.

Ya, aku menjadi yatim di usia 8 tahun, satu bulan, dan 15 hari.

Ya robbi, ampunilah bapakku… maafkanlah ia, terimalah amal ibadahnya dan kumpulkan kami dalam keadaan taqwa sebagai hamba-Mu yang beruntung di surga kelak.

Sumber foto: Nicepik

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published inMemoar Emak

23 Comments

  1. turut berbelasungkawa atas kepergian ayahanda.
    Beliau pasti bangga dengan mas karena menjadi anak yg kuat hingga hari ini.
    Tuhan berkati

  2. kak…semoga ayah dilapangkan kuburnya ya..aku kadang suka punya pikiran yang macam-macam apalagi papahku kerja di Papua, cuti 2x dalam setahun pasti kebayang betapa was-wasnya aku, adik dan juga mamah di rumah

  3. hani hani

    Aku sedih bacanya. Ingat bapak, ingat didikannya (bapak militer), ingat aku dibelikan kain karena senang menjahit, ingat minta dipotongkan papaya yang dikasih perasan jeruk nipis, ingat semuanya. Ingat 3 tahun terakhir hidupnya beliau sakit yang tidak mengenali lagi orang. Hiks…Al Fatihah untuk almarhun bapakku, bapak Abdoellah dan bapak Supriadinata.

    • sama. bapak tegas ya. beliau sampai gigih ajari anaknya belajar. padahal kalau di rumah, mama saya yg ajari. bapak saya gak ikutan, malah ke luar karena kami berisik. hihi

  4. aamiin.. alfatihah untuk bapak, ya kak. kenangan manis tentang almarhim bapak jga melekat di benak saya. laki-laki tegap yang selalu membawa rantang baru berisi soto dan bakwan goreng hangat, setiap habis gajian. nggak tahu alasannya apa, tapi di rumah kami juga tak banyak rantang yang tersimpan. ah, entahlah.. itu masa kecil saya puluhan tahun silam. Salam

  5. Mas Lutfi, di umur 8 aku masih sering manja-manjaan dengan bapakku.
    Bapak memang pintar. Dia adalah penyeleksi siaran tv di rumah kami. Sehingga ketika aku masuk bioskop dan nonton adegan kissing saja, mesti tak ada yang mengawasi, kepala kutolehkan agar tak menonton adegan itu.

    Bapak lah yang membantu mengerjakan pr ketika aku kecil.
    Meski bapak meninggal 4 tahun lalu, aku masih selalu mimpi bapak.

    Usia bapak kita sama mas. Namun ia meninggal di usia 60an.
    Gak ada tangis ketika terakhir memeluknya sambil talkin di telinganya.
    Namun tak henti menangis di pundak suamiku saat jenazahnya masuk ke alam kubur.

  6. Mas Kholis Mas Kholis

    Kita sama² ditinggalkan bapak saat kelas dua, tapi aku kelas dua MTS (setara SMP). Tersimpan kesedihan yang mendalam pastinya saat ditinggalkan orang tua.

    Tapi aku slalu berdoa kepadaNYA, agar diberikan tempat terbaik disyurgaNYA.

    Kalau aku terusin cerita ini pasti akan panjang, dan buat mata ini jadi lebam karena menahan rasa tangis.

  7. aduh ketawa deh di bagian akhirnya.
    Dasar masih anak kecil, nggak ngerti soal orang meninggal ya

  8. Semoga Bapak mendapat tempat terbaik, ya, Mas. Semoga kenangan atas Bapak menjadi pintu gerbang atas doa-doa mas untuk Bapak

  9. Bisa dibayangkan, bagaimana anak usia 8 tahun berada di antara mengerti dan tidak tentang arti tiada. Denial cukup kuat, sehingga tetap bertahan menunggu almarhum kembali. Lalu, lama-lama lelah menanti dan tak lagi bertanya.

  10. Ya Allah luar biasa kisah Mbak. Cara Mbak bercerita juga sangat bagus. Dibukukan deh Mbak. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu. Aamiin

    • Lufti Avianto Lufti Avianto

      insyallah akan dibukukan, jadi novel

  11. Zik Zik

    Sedih bacanya…
    Semoga bapaknya ditempatkan di tempat terbaik ya kak

  12. Semoga bapak tenang, dan dapat tempat terbaik. Aku juga baru kehilangan bapak nih dua tahun lalu. Mari kita sama² doakan bapak² kita bro.

  13. Rasanya ada yang menyimpan bawang merah di hadapanku. Ini sedih banget, nusuk. Ditinggal bapak di usia 8 tahun. Turut mengaamiinkan doa masnya. Semoga bapak tenang di sana dan diberikan tempat terbaik di sisi-NYA, alfatihah 🙂

  14. Semoga bapak mas mendapati tempat yang baik di sisi Tuhan. Btw, mas masih anak+anak ya waktu jadi yatim. Alhamdulillah terlewati juga

  15. Fadli Hafizulhaq Fadli Hafizulhaq

    Semoga ayahnya dan sekeluarga bisa berkumpul kembali kelak di surga ya Mas. Jangan lelah mengirimkan doa, sebab doa anak yang shalih adalah salah satu sumber pahala yang tak akan putus-putusnya. Semoga Allah tempatkan ayah Mas di tempat terbaik di sisi-Nya.

    Dan seperti biasa, saya selalu suka diksi-diksi yang dituangkan dalam artikel di blog ini.

  16. Mas, nyesek banget aku bacanya
    Kehilangan orang yang dicintai selalu meninggalkan rasa yang susah untuk diterjemahkan
    Turut berduka mas. Meski telah puluhan tahun berlalu, pasti kehilangan itu masih ada
    Terimakasih sudah menuliskannya. membuatku lebih banyak bersyukur dan menjalin komunikasi terbaik dengan bapak, selagi beliau masih sehat dan bisa diajak ngobrol

  17. Alfatihah, Mas.

    Aku kehilangan Bapak saat aku udah gede dan anakku 1. Itupun, aku masih merasakan keterpukulan. Aku tahu Mas jauh lebih kuat daripada aku. Salam buat keluarga ya Mas.

  18. Aku piatu diusia yg sama denganmu dan resmi jadi yatim piatu 4 tahun setelah itu. Yakin lah, doa akan2 mamou mengabtar mereka ke surga.

  19. Innalillahi wa inna ilaihi roojiun.. Allah yang memberi, Allah pula yang mengatur, Allah pula yang mengambil. Meskipun orang tua telah berpulang, kita masih tetap bisa berbakti, yakni dengan menjadi anak sholih dan sholihah sesuai tuntunan-Nya..

  20. Jadi teringat alm papa yang sudah ninggalin kami beberapa tahun terakhir. Tetap saja nyesek kalau ingat belum bisa memberikan yang terbaik. Semangat ya bro, kenangan orang tua bakalan menjadi jalan ketika kita terpuruk or merindukan

  21. Dadaku sesak baca tulisan ini. Bacanya pas aku di kafe pula. Andai di rumah, aku pasti sudah sesegukan tak tertahankan. Semoga Bapaknya Kakak beristirahat dengan tenang dan sudah bahagia di sana, tak merasakan sakit lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *