Skip to content

(Hari ke-3) Sepatu Sebulan Gaji

Setelah bapak pergi, kakak lelakiku satu-satunya dan tertua, tinggal di rumah budhe. Aku tak tahu persis alasannya. Mungkin kamar kami di sini sudah terlalu sesak. Mungkin, ia yang sudah beranjak remaja ingin merasakan tidur di kamar sendiri. Mungkin, ah entah apa, yang jelas emak tak bisa penuhi.

Suatu ketika, abangku minta dibelikan sepatu. Bukan sembarang sepatu. LA Gear. Kala itu, sepatu ini sedang nge-trend dan ingin memilikinya. Saudara sepupu yang serumah dengannya, sudah punya. Warna hitam legam, dengan lampu merah menyala di bagian tumitnya.

Berulang kali ia datang ke rumah, untuk merengek kapada emak. Ia duduk di meja makan bersejarah itu, di samping emak yang sedang menulis-nulis. Wajahnya kadang memelas. Kadang merengek. Kadang ngambek. Kadang bernada memaksa.

Emak tak tahan.

Ia ajak si sulung, suatu sore di hari Minggu. Girang benar tampangnya tak bisa disembunyikan. Aku diajak serta ke department store. Aha, rupanya emak sedang ketiban rejeki, sehingga aku diajaknya pula untuk membeli sepatu idaman. Aku sudah mengkhayal, akan memilih juga sepatu hitam dengan kelap-kelip lampu di tumit. Keren sangat itu pastinya.

Di toko sepatu yang berpendingin udara itu, berjejer ratusan jenis sepatu. Sebuah karton bertuliskan “LA Gear” terlihat mengilap. Abangku langsung menghampiri dan memilah-milah sepatu impiannya beberapa saat, lalu menunjukkan pada emak, seonggok sepatu gagah berwarna hitam dan bertali hitam.

Tersembul kertas kecil di bagian tali sepatu itu, yang menunjukkan harganya, lebih dari dua ratus ribu rupiah!

Emak melirik harga sepatu itu dan bergeming. Ia rogoh secarik kertas dari tas lalu memperlihatkan tulisannya. Slip gaji emak sebagai pegawai negeri sipil, tertera angka dua ratusan ribu rupiah. Jumlah yang tak jauh berbeda dengan harga sebuah alas kaki.

“Kalau kita beli sepatu ini, kita nggak bisa makan dan nggak bisa bayar uang sekolah kamu dan adik-adik kamu. Kita juga ngga bisa bayar listrik, beli perlengkapan sekolah, dan kebutuhan lainnya. Jadi kamu mau tetap beli sepatu ini, lalu kita semua mati kelaparan?” kata emak, singkat, jelas dan padat.

Abangku diam, lalu beranjak menjauhi sepatu itu. Aku juga diam-diam meletakkan perlahan-lahan sepatu pilihanku yang tak sempat kutunjukkan pada emak.

Kemudian kami pulang, dengan angkot berwarna merah petang itu. Dibalut diam dan sibuk dengan pikiran kami masing-masing.

Sejak itu, abangku sering banyak diam. Ia tak pernah lagi minta dibelikan ini-itu.

Ilustrasi: freepik.com

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published inMemoar Emak

11 Comments

  1. Ingat dengan jelas kejadian hari itu kawan dan pastikan tidak akan berulang… kepal tanganmu…bulatkan semangatmu… kumpulkan tenagamu sembari berujar….. hari ini generasiku kalah… tapi tidak generasi anak2 ku kelak…

  2. Nyess banget bacanya
    Dua artikel terakhir yang aku baca di blog ini menyebabkan gerimis di hati
    Emaaaaaaak
    Cinta untukmu luar biasa

  3. Ah, mbak. Kok saya mewek bacanya. Untuk beli sepatu saja harus mengorbankan kebutuhan lain. PNS dulu ya gajinya tak seberapa.

  4. Ilmu mendidik anak yg baik tanpa basa basi langsung tepat pada sasaran, saya akan terapkan ini pada anak saya nanti.

  5. Fadli Hafizulhaq Fadli Hafizulhaq

    Membaca ini saya jadi teringat konsep price vs value. Banyak barang mahal tapi secara daya guna sama bagusnya dengan barang yang terjangkau harganya, meskipun mereknya tak terkenal. Dalam hidup hendaknya kita berorientasi pada nilai atau value ini, sebab kalau tentang harga itu hanyalah sebatas gengsi

  6. haniwidiatmoko.com haniwidiatmoko.com

    Jadi inget zaman SD, iri ama sepatu teman yang mengkilat. Zaman dulu ada tuh sepatu kulit lack, bahannya kayak plastik. Oleh ortu dibelikan sepatu Bata, sepatu sejuta umat. Model cowo pula. Kuat, alasan ortu.
    Emak hebat. Menohok banget caranya mendidik…

  7. Saya dibesarkan di tengah keluarga menengah ke bawah, tidak kekurangan, tapi tidak pula begitu berkecukupan. Ada masa di mana saya sebagai anak waktu itu harus sabar jika ingin sesuatu. Saya belajar sabar itu dari ibu saya. Anak lain mungkin sudah bisa pakai sepatu lampu itu hari ini, saya mungkin baru bisa bulan depan atau waktu penerimaan rapor di caturwulan 1 2 atau 3. Orang tua saya pun tidak memberikannya gratis. Harus ada syaratnya. Jika saya bersemangat menyelesaikan syarat tersebut, ayah ibu pun bersemangat mengabulkan permintaan saya. Syaratnya macam-macam, mulai dari harus juara 1 (lagi), nilai ulangan 100, puasa lengkap, shalat subuh ke masjid, banyak lagi. Kadang ada syarat yg tak bisa saya tunaikan penuh, tapi ayah ibu selalu melihat usaha kami. Alhamdulillah kalo dikenang disiplin dari ayah ibu sejak kami kecil, saya berterima kasih sekali kepada beliau berdua karena menjadikan saya yg sekarang.

  8. Tulisan beraromakan bawang merah… cinta ibu memang luar biasa. Cara Ibu mengajarkan mengatur keuangan tdk kalah luar biasa. Menunjukkan slip berangka tidak jauh beda, bs menyadarkan bahwa skala prioritas itu penting. Keren

  9. Ceritanya bagus Kak. Tahun berapa gaji pns segitu? Ya Allah seharga 1 sepatu 😭

  10. cerita yang bagus. mengalir dengan apik dan endingnya bikin nyesek. keren kakak.

  11. Jadi ingat alm. Ibu. Ibu dulu juga melakukan hal yang sama. Ketika terpaksa belum bisa mengabulkan hati anak-anaknya. Beliau mengajak kami terutama yang sudah mulai berpikir untuk melihat fakta yang ada. Bukan karena tidak ingin mengabulkan. Tapi mmg karena keadaan. Biasanya ibu terus mengajak kami untuk berdoa bersama dan berjanji akan membelikan kebutuhan kami, meskipun bergantian. Tidak bisa barengan..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *