Skip to content

(Hari ke-14) Cobaan 

Emak tengah dirundung luka yang menganga pada hati dan perasaannya. Si Nomor Tiga mengabarinya lewat telepon.

“Kenapa?”

“Ada yang teror pake nomor nggak dikenal. Menghina.”

Aku sempatkan mengunjungi emak di akhir pekan agar tahu cerita selengkapnya. Saat aku tanya, ia mengambil telepon selularnya, lalu membuka pesan singkat dan memberikannya padaku.

Ada dua pesan, kalau aku tak lupa. Isinya langsung mencaci emak. Dituduhnya emak perempuan nggak bener, suka berzina, dan pelacur. Bahkan juga dikatakan, emak menjual diri demi aku agar bisa bekerja di kantor pemerintahan.

Kurang ajar. Aku geram tak tertahankan. Rasanya ingin membalas orang tak tahu diri ini. Mengoyak-ngoyak mulutnya. Bahkan si Sulung mau menuntutnya secara hukum. Kami tahu siapa pelakunya, karena ada salah satu keponakan emak yang memang bertabiat macam orang gila dan suka meneror orang lain.

Menurutku, dia punya trauma hidup diabaikan oleh kedua orangtuanya sendiri hingga menderita  penyakit tidak senang kalau orang bahagia dan bahagia kalau orang menderita bahkan melebihi dirinya. Nah, aku kira, penyakit macam itu belum ditemukan meski dunia kedokteran sudah semakin canggih. Bahkan dengan sel punca yang dianggap sebagai nyawa kedua manusia yang bisa mengobati penyakit separah apapun seperti kanker, penyakit gila itu pun pasti tak bisa diobatinya.

Cuma maut dan siksa kubur yang bisa membuat si peneror jera.

Kami, anak-anak emak pasti marah melihatnya menangis, sakit hati dan tak bisa tidur berhari-hari karena kata-kata orang gila ini. Tapi kami tahan, agar emak bisa mengendalikan tangisnya yang sudah meledak dan bisa bangkit menghadapi hinaan ini dengan positif.

“Kita nggak bisa diam aja. Kita sewa pengacara aja, kita tuntut dia biar dipenjara.” Si Sulung mencoba kasih solusi.

“Nggak usah. Sewa pengacara mahal. Sayang duitnya, mending buat jalan-jalan. Habis waktu juga cuma buat ngurusin orang gila,” aku meredam kemarahan Sulung. “Lagipula kita ngga punya bukti, kalau dia pelakunya, walau pun kita tahu sama tahu.”

“Atau gue samperin aja, gue bacok sekalian!”

“Jangan. Lo yang malah dipenjara nanti karena bunuh orang.”

Tangis emak makin keras, bahunya berguncang mencoba napas yang mulai sesak. “Mak, sabar ya…” Aku coba menenangkan.

“Kalau kita makin sedih, terpukul, dan marah, orang gila itu makin senang. Pesta pora dia melihat kita kesal dengan ulah dia. Itu tandanya dia berhasil menyakiti kita. Tapi kalau kita sabar, nggak terlihat marah, nggak kesal dan nggak membalas SMS dia, dia makin sakit hati dan uring-uringan sendiri.”

Aih, aku heran, dapat kata-kata bijak itu dari mana, yang lantas membuat hujan tangis emak mereda.

“Sekarang emak dizalimi. Allah kasih hak istimewa berupa doa yang langsung dikabulkan. Berdoa saja buat kebaikan kita sekeluarga dunia-akhirat, dijauhi penyakit dan diberikan umur panjang agar bisa melihat nasib orang-orang yang menzalimi emak.”

Kalimat terakhir, rasanya bisa membuat tangis emak mulai berhenti. Ya, emak sudah masuk usia 60 tahun. Sudah mulai sepuh, keriput di sana-sini, rambut sudah memutih dan sudag tak gesit lagi. Sehat, berumur berkah dan bisa melihat hikmah dari semua rahasia Allah adalah kenikmatan tersendiri. Ya, Allah tak pernah tidur. Tanpa diminta perbuatan buruk itu dibalas, Allah akan membalas orang gila itu dengan ganjaran yang setimpal. Entah di dunia atau di akhirat.

“Udah, sekarang SMS-nya dihapus aja ya. Biar emak nggak lihat lagi. Nanti malah bikin sakit hati.”

Kupencet tanda delete di bagian tengah sebelah kanan, lalu menekan tombol OK. Pesan itu lalu terhapus di ponsel emak. Semoga juga terhapus dalam memori emak.

Sumber foto: Nicepik

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published inMemoar Emak

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *