Skip to content

(Hari ke-11) Angpao Anak Yatim

“Mbah Tanjung dataaaang….” Si Nomor Dua menjerit di ujung pintu, lalu lari berhamburan masuk kamar mandi. Tentu saja, kedatangannya bersama istrinya, Mbah Ma.

Duh, Minggu pagi begini, kami masih muka bantal, kakek yang dermawan itu datang menjelang lebaran. Tidak Ramadhan kali ini saja, aku ulang, ia datang tiap menjelang lebaran.

Kedatangan dan kepergiannya, seperti bulan Ramadhan, selalu ditunggu dan ditangisi. Apa pasal?

Sederhana saja, ia selalu bawa angpao lebaran. Jumlahnya tak main-main kawan. Kala itu, ia kasih 500 ribu rupiah untuk anak yatim miskin macam kami. Itu sama dengan 217,3 dollar kalau kurs 2.300 rupiah. kalau sekarang, sekitar 3,5 juta untuk empat anak. Itu setara dengan upah minimum di Ibukota.

Bagaimana bisa, te-ha-er yang dia berikan, melampaui kewajaran? Pada era 1990-an, angpao lebaran bagi anak-anak yang lazim itu, rate-nya sekitar 5.000-20.000 rupiah saja. Di atas itu, sudah dianggap besar luar biasa. Nah, ini bukan luar biasa lagi, tapi kebangetan luar biasa.

Siapa Mbah Tanjung dan Mbah Ma ini? Mbah Tanjung adalah adik dari Mbah Putri kami, meski berbeda ibu. Ia bekerja di perusahaan multinasional. Kami pernah ke rumahnya, besar sekali. Kamarnya ada lima kalau tak salah, dan besar-besar, dengan musholla, ruang kerja, taman di depan dan belakang, ruang makan, ruang tamu dan ruang keluarga yang juga besar-besar.

Anak-anaknya tiga, lelaki semua. Itu sebab mereka sangat ingin merawat si Nomor Dua dan menyekolahkannya. Apalagi kakak perempuanku itu selalu rangking satu di sekolahnya.

Jadi, kalau dia datang, dan kami masih belum mandi, alangkah malunya!

Dan pagi itu, si Nomor Dua, sudah rapi jali usai mandi. Lalu ritual berikutnya, menyambutnya dan salim atau mencium tangan mereka.

Aku, si Nomor Tiga dan Sulung yang kemudian berebut untuk masuk kamar mandi. Sial, aku kalah gesit dari si Sulung yang lebih dulu berhasil masuk. Duh, apes. Bagaimana menyambutnya dalam keadaan bau mulut dan muka bantal begini?

“Makanya, habis bangun itu langsung mandi, bukan nonton teve,” emak meledek.

Aku memilih menunggu di depan pintu kamar mandi. Si Nomor Tiga juga.

“Sudah sana, salim dulu!”

Kami lantas menggedor-gedor pintu kamar mandi. Dan belasan menit kemudian, kami bergilir mandi lalu salim dengan Mbah Tanjung dan Mbah Ma.

Ada ritual yang mengesankan bagi kami. Mbah Tanjung yang brewokan, selalu mencium kening dan pipi kami. Dan kami pasti akan kegelian dan menahan tawa. Dan setelah itu, kami akan membicarakan satu sama lain.

Dan setelah itu, kami akan duduk manis menonton teve, sambil menemani keduanya. Dan, saat-saat yang paling mendebarkan itu tiba, saat mereka pamit pulang. Tentu salim dan cium kening-pipi dijalani. Tapi, yang mendebarkan adalah, kepada siapa Mbah Tanjung akan mendaratkan te-ha-ernya?

“Ini buat berempat ya…” Mbah Ma menyelipkan sebuah amplop besar ke saku baju si Nomor Dua. Ia nyengir bahagia.

Meskipun peristiwa selanjutnya, kami sangat paham. Bahwa angpao yang kami kumpulkan sepanjang Ramadhan hanya bertahan sampai hari pertama lebaran saja. Di hari kedua lebaran, kami setorkan semua ‘pendapatan’ kami kepada emak. Untuk apalagi kalau bukan untuk menyambung hidup kami.

Maka, emak akan ‘menabungkannya’ dalam bentuk perhiasan yang dipakai si Nomor Dua dan Tiga. Kalau kepepet, maka perhiasan itu akan dijual satu per satu untuk biaya hidup dan sekolah kami. Begitu terjadi setiap tahun, setiap bulan dan setiap Ramadhan.

Meski begitu, ritual menyambut Mbah Tanjung dan Mbah Ma selalu kami nantikan. Kehadiran mereka seperi Santa Claus dalam keyakinan Kristen. Seperti Robin Hood dalam legenda Inggris. Macam Pitung dalam cerita rakyat Betawi. Mereka adalah pahlawan dan penghibur bagi anak-anak yatim macam kami.

Hingga kami besar, kenangan manis ini selalu kami ingat, betapa menjadi orang yang dermawan dan murah hati itu sungguh berkesan bagi orang lain.

Sumber foto: Nicepik

(Visited 1 times, 1 visits today)
Published inMemoar Emak

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *